Nur

Nur
Gadis misterius.



"Akhirnya aku bisa hirup udara segar Nur..", seru Sanum dengan terus melangkahkan kaki nya menyusuri komplek rumah.


"Gimana kalau bunda marah ke kita...??", ucap Nur gelisah.


"Udah lah Nur..!!, kamu hancurin mood aku nih..!!", ketus Sanum.


"Tapi emang kan kondisi kamu belum pulih kak.., berat tau angkat kamu kalau kamu pingsan di jalan, di tambah lagi orang pasti lari tergopoh gopoh lihat tubuh kamu melayang sendiri", ucap Nur.


"Nur...!!, aku cuma jalan pagi doang, jangan di besar besarin kenapa..", seru Sanum terus menikmati udara pagi yang sudah lama ia tak rasakan.


"Udah nyampek gerbang komplek tuh, kita pulang ya", ucap Nur menarik tangan Sanum.


Tapi bukan nya menurut, Sanum malah melangkah keluar dari celah gerbang dan terus berjalan santai menyusuri jalan raya.


"Ya ampun...!!", ucap Nur menghilang seketika dan kembali muncul di hadapan Sanum.


"Jangan asal muncul kali Nur...!!, untung rem aku cakram", ucap Sanum berjalan melewati roh Nur dengan mudah nya.


"Astaga..!!, kamu ya...!!, gimana kalau tadi roh kita ketukar, kamu bisa dalam bahaya kak", omel Nur.


"Bukti nya enggak kan", ucap Sanum tersenyum meledek Nur.


"Bandel banget sih..!!", ketus Nur terus mengikuti dan menjaga Sanum di sepanjang perjalanan.


Tak berselang lama.


Mereka tiba di sebuah komplek sebelah.


"Sejak kecil, baru kali ini aku ke sini", ucap Sanum mengamati sekeliling kompleks yang nampak nya juga terawat dan terjaga kebersihan nya.


Tiba tiba ada seorang anak perempuan yang tak sengaja menabrak Sanum saat berlari.


"Aduh..!!, aduh ....!!, maaf maaf, aku lagi di kejar mama ku, jadi gak lihat kamu", seru anak perempuan itu yang seperti nya sebaya dengan Sanum.


Ia terlihat sudah berseragam rapi dan bersiap berangkat ke sekolah.


"Ia gak apa apa kok", ucap Sanum melirik wajah anak perempuan di hadapan nya yang masih tertunduk memunguti buku buku nya yang terjatuh.


Saat anak perempuan itu mengangkat wajah nya, Sanum seketika tersenyum kepadanya.


"Lidia...!!", seru Sanum membantu Lidia bangkit.


"Sanum...??", seru Lidia terkejut.


"Iya..!!, jadi rumah kamu di sekitar sini..??", ucap Sanum berpelukan dengan Lidia yang sepertinya sudah lama tak ia jumpai.


"Iya, rumah ku di komplek sini, kamu aja yang gak pernah ikut belajar kelompok di rumah ku, jadi gak tau kan rumah ku di mana", ucap Lidia dengan senyum nya yang mengembang.


"Oh ya, kamu kenapa lama banget gak masuk sekolah..??, ku kira kamu pindah", tanya Lidia.


"Gak kok, aku cuma lagi gak enak badan aja, dan dokter nyaranin buat aku istirahat total dulu", ucap Sanum sembari berjalan beriringan dengan Lidia yang nampak amat keberatan membawa buku buku nya.


"Tuh kan...!!, giliran ada temen nya aja, aku di kacangin", ketus Nur cemberut di belakang Sanum dan Lidia yang sedang asyik mengobrol.


"Oh ya, mumpung kamu ada di sini, aku mau tunjukin sesuatu ke kamu", seru Lidia.


"Apa...??, emang kamu gak telat nanti ke sekolah..??", ucap Sanum.


"Bentar doang", seru Lidia membawa Sanum berjalan melewati sebuah gang.


"Arah sekolah kan bukan ke sini Lidia", ucap Sanum heran.


"Sekolah urusan nanti", seru Lidia bersikeras.


Tiba tiba Lidia menghentikan langkah kaki nya di ujung jalan gang itu.


"Lihat itu ...!!", ucap Lidia menunjuk ke salah satu rumah.


Saat Sanum memandang ke arah yang di tunjuk Lidia.


Mata nya langsung terbelalak tak percaya.


Tubuhnya bahkan mematung di tempat nya berdiri.


Sementara Nur juga langsung memandang ke arah yang sama yang membuat Sanum begitu syok dan terdiam seperti patung.


"Apa aku tak salah lihat...??", seru Nur lebih syok dari pada Sanum saat melihat seorang anak sebaya nya yang duduk di teras rumah dengan tatapannya yang kosong.


"Sudah lama aku ingin tunjukkan padamu, dan ini waktu yang tepat, setiap pagi dia akan berada di teras rumah nya untuk beberapa saat saja", ucap Lidia.


Sanum segera meraba wajah nya lalu memandang ke arah Nur.


"Sama persis", seru Sanum tak percaya.


"Bahkan tak ada beda nya sama sekali, bak pinang di belah dua", ucap Lidia ikut memandang sosok anak perempuan sebaya mereka yang wajah nya sama persis dengan Sanum.


"Bahkan pinang di belah tiga", ucap Nur memandang Sanum dengan penuh tanda tanya.


"Maka nya aku sempat bingung saat pertama kenal kamu di sekolah, wajah kamu mirip sekali dengan nya", ucap Lidia memegangi wajah Sanum.


"Aku harus pulang..!!", seru Sanum bergegas berlari pulang.


"Yah..!!, kok pulang sih...!!, kan aku gak jadi ada temen main buat bolos sekolah", ketus Lidia berjalan ogah ogah an menuju ke sekolah.