
"Hentikan..!!", teriak Nur dengan wajah merah padam.
"Tidak..!!, kita tak akan berhenti kalau kamu tidak mengendalikan amarahmu", seru Fitri terus membawa Nur pergi sejauh mungkin dari hadapan bu Rukmi.
"Dia pantas mati Fit...!!, dia telah mempermainkan kehidupanku bahkan kehidupan bundaku..!!", seru Nur semakin emosi.
"Kendalikan semuanya..!!, sudah ku bilang, jangan sampai kamu menyesal", ucap Fitri terus meredam amarah Nur.
Seketika Fitri ditepis dengan kasar oleh Nur.
Hingga terjatuh dengan amat kerasnya.
"Maafkan aku, tapi aku harus selesaikan ini", ucap Nur kembali menuju kekediaman bu Rukmi dengan kobaran amarah yang meletup letup.
"Dengarkan aku sekali saja..!!", seru Fitri mencoba menghadang Nur walaupun kini tangannya bengkok akhibat benturan saat berdebat dengan Nur.
Nur yang melihat kondisi Fitri, akhirnya sedikit menurunkan tingkat kemarahannya, terlebih Fitri terjatuh karna dirinya.
"Aku mendengarkan..!!", ucap Nur menghentikan langkahnya,Nur nampak sangat jelas terlihat tak sabar ingin segera membuat perhitungan dengan sang nenek sesudah urusannya dengan Fitri selesai.
"Ingat teman teman kita yang telah pergi menyebrang, Ruhi, Rain dan lainnya..??", seru Fitri mencoba menenangkan Nur.
"Mereka tak ada hubungannya dengan ini semua", ucap Nur menatap tajam ke arah Fitri.
Seakan ia merasa Fitri terlalu bertele tele hanya untuk mengulur ngulur waktu.
"Mereka berhasil menyebrang tanpa dosa baru Nur", ucap Fitri.
"Dosa baru...??", tanya Nur mulai menyimak apa yang ingin disampaikan oleh Fitri.
"Ya....!!, jika kamu membunuh nenek Rukmi, apakah itu bukan termasuk dosa baru...?, dan coba kamu fikir, Allah gak akan pernah biarkan kamu menyebrang dengan dosa itu", ucap Fitri memberi nasehat pada Nur.
"Aku tak peduli..!!, sejatinya aku sudah mati bukan..!!, itu tak ada bedanya bagiku", timpal Nur.
"Kau salah Nur", ucap Fitri.
"Apa lagi salahku ...??, apa memang semua ini harus menjadi salahku...??", seru Nur menangis, iba dengan dirinya sendiri.
Seketika Nur tercengang, ia lalu memikirkan semua perkataan Fitri.
Kalau pun dendamnya bisa terbalaskan, tapi ia harus tertahan di dunia ini entah sampai kapan, dan harus menyaksikan bunda, ayah, mbak Sekar, nenek bahkan Sanum meninggal, apakah dirinya akan sanggup...???.
Bertemu dengan orang orang baru dan akhirnya harus melihat mereka pergi.
Batin Nur berkecampuk.
Ia menangis meringkuh di hadapan Fitri.
"Aku cuma pingin hidup seperti kak Sanum", ucap Nur sembari terus menangis meratapi nasibnya.
"Sudahlah, lebih baik kita kembali ya, ayah bundamu pasti khawatir", ucap Fitri meraih tangan Nur.
"Tapi kalau aku lepas kendali lagi, gimana...??", ucap Nur seakan masih tak sanggup jika harus melihat bu Rukmi lagi setelah semuanya terungkap.
"Apa mau aku tutup mata kamu..??, biar gak lihat wajah nenek sihir itu lagi...??", ucap Fitri mencoba menghibur Nur.
"Tanganmu aja kayak gitu, gimana mau nutupi mata aku", ucap Nur sembari mulai tertawa dengan candaan Fitri.
"Tubuhku itu serba bisa, dalam sekejap pun aku bisa berubah menjadi bak artis Holywood, patah tangan...??, ahhh, kecil buatku, dalam sekejap, sttttttt blummmm....!!, bagus seperti sedia kala...!!", seru Fitri mencoba berlagak trik sulap dihadapan Nur sembari membenarkan posisi tangannya.
"Hemmmm, kamu memang baik Fit, entah apa jadinya aku tanpa kamu, bahkan kamu bisa hibur aku walaupun masalah kamu belum ada jalan keluarnya", ucap Nur membantu Fitri membenarkan tangannya.
"Aku akan buat jalanku sendiri Nur, kalau kamu telah saatnya menyebrang, jangan pernah lupain aku ya", ucap Fitri.
"Iyaaaa, bawel...!!, aku akan kirim surat tiap hari untuk kamu", canda Nur membuat Fitri menganga.
"Kamu kira disana ada pos surat apa..??", seru Fitri membuat mereka tertawa bersama walau hanya sejenak.
Walaupun rasa sesak di hati Nur masih amat terasa saat itu.
Apakah ini jawaban dari alasanku tertahan disini...??, gumam Nur dalam hati.