
Seorang nenek memakai sebuah tongkat nampak berdiri dari kejauhan memandang ke arah rumah Zivana.
Ia melihat bu Sara yang berjalan cepat penuh kekecewaan menaiki mobilnya dan segera pergi meninggalkan rumah sang anak.
Nampak nenek itu tersenyum lebar hingga giginya terlihat saat ia melihat bu Sara.
Dengan berjalan terseok seok, ia mencoba berjalan dengan tongkatnya dan menghentikan sebuah taksi di tepi jalan.
"Ikuti mobil di depan..!!", seru sang nenek memberi instruksi pada supir taksi di depannya.
Mobil mereka melaju sampai cukup jauh meninggalkan area perumahan Zivana.
Beberapa saat kemudian.
Supir bu Sara menyadari bahwa mereka telah diikuti.
"Nyonya...!!, kayaknya taksi itu ngikutin kita sejak kita keluar dari rumah non Zivana deh...", ucap supir pribadi bu Sara sesekali melirik ke arah spion mobilnya.
"Masak sih ....!!", seru bu Sara mencoba menoleh kebelakang.
"Bener nyonya...!!, hii seremm...!!, gimana kalau rampok nyonya..??, atau begal, atau
....!!", seru sopir pribadi bu Sara mulai berlebihan.
"Hisss..!!, nrocos aja kamu...!!, nepi deh nepi..!!", seru bu Sara memastikan bahwa ia sedang diikuti atau tidak.
Ternyata taksi yang ditumpangi nenek nenek itu terus melaju melewati mobil bu Sara.
"Tuh kan..!!, kamu sih parno banget..!!", seru bu Sara membuka pintu mobilnya.
"Mau kemana nyonya...??", tanya sang supir.
"Mau cari angin...!!, gedek aku sama kamu..!!", seru bu Sara keluar dari mobil dan seketika terkejut melihat seorang nenek nenek sudah berdiri di hadapannya.
"Astagfirullah..!!", seru bu Sara mengelus dadanya.
"Bisa minta waktumu sebentar...??", tanya nenek nenek itu.
"Nenek siapa...??", tanya bu Sara clingukan, siapa tau ada kerabat sang nenek di sekitar mereka.
"Perkenalkan namaku Morra", ucap nenek itu yang ternyata ialah mami Morra.
Bu Sara memandanginya dari atas sampai bawah.
Sejak terlepasnya semua roh dari kalungnya, penampilan mami Morra memang terlihat seperti nenek nenek berusia lanjut.
"Maaf ya nek, saya gak kenal nenek", ucap bu Sara segera masuk ke mobilnya.
Tetapi tangannya dengan segera di tahan oleh tongkat mami Morra.
"Aku mau menawarkan sesuatu padamu", ucap mami Morra mulai menuju ke tujuannya mengikuti bu Sara.
"Aku tau kamu tak suka dengan keberadaan Nur", seru mami Morra membuat bu Sara kembali keluar dari mobilnya.
"Nenek tau dari mana...??", tanya bu Sara keheranan, karna bu Sara yakin Zivana pun tak akan menceritakan hal semacam itu ke sembarang orang.
"Aku bisa membantumu membuat Nur kembali ke alamnya", ucap mami Morra berusaha membujuk bu Sara.
"Bagaimana caranya...??", seru bu Sara spontan tanpa berfikir lagi dari mana nenek di depannya bisa tau tentang Nur.
"Mudah saja, tinggal kau bawa Nur ke hadapanku, dan sisa nya biar aku yang lakukan, aku jamin dia tak akan berada di sekeliling keluargamu lagi", ucap mami Morra sangat meyakinkan.
Bu Sara nampak terkejut dan bingung.
"Tidak..!!, aku tak mau..!!, aku memang tak terima dengan kenyataan bahwa Nur cucuku bergentayangan seperti hantu, tapi aku juga tak mau mengusirnya secara paksa", ucap bu Sara menolak mentah mentah ajakan mami Morra.
Mami Morra yang mendengar itu merasa geram, dan mencoba mengendalikan amarahnya.
"Tapi ini demi melindungi cucumu yang lain", ucap Mami Morra mencoba kembali meyakinkan bu Sara akan tawarannya.
"Jika Nur memang ancaman, sudah dari dulu itu terjadi bukan..??, permisi nek", ucap bu Sara masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi dari sana meninggalkan mami Morra yang begitu emosi saat itu.
"Siapa nyonya...??, tukang urut ya..??", seru sopir pribadi bu Sara sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Tukang urut gundulmu..!!, udah ah ayo lebih cepet, pusing saya...!!", seru bu Sara menyandarkan kepalanya yang terasa amat berat hari itu.
"Ya ampun nyonya...!!, ini udah cepet..!!, seperti pepatah mengatakan, alon alon seng penting kelakon nyonya..!!", seru sopir pribadinya.
"Terserah kamu deh ya, saya mau tidur", ucap bu Sara memejamkan matanya, mencoba melupakan semua yang ia alami hari itu.
Seakan semua yang terjadi hari itu tak pernah terbayangkan olehnya akan terjadi padanya.
Sedangkan taksi yang ditumpangi oleh mami Morra tak tau bahwa mami Morra telah keluar dari mobilnya.
Ia juga memang tak pernah merasa menghentikan mobilnya sama sekali.
"Nek...!!, kita udah jauh lho ini", seru sang sopir taksi, tapi tak ada jawaban dari penumpangnya.
Karna merasa heran, ia mencoba mengarahkan spion didepannya ke arah kursi penumpang, tapi begitu terkejutnya ia karna tak ada siapapun di belakangnya.
Ia segera menghentikan mobilnya dan berbalik menghadap kebelakang, ia berusaha menggosok matanya dan mencubit tangannya sendiri untuk memastikan bahwa ia tak berhalusinasi.
Ternyata benar, penumpangnya yang merupakan mami Morra telah menghilang jauh sebelum sang supir taksi itu menyadarinya.
Dengan wajah yang amat ketakutan.
Ia berusaha keluar dari mobilnya.
"Se, seee, setan ..!!", teriak supir taksi itu segera keluar dari mobilnya dan berlari tunggang langgang meninggalkan mobilnya yang berhenti di tepi jalan raya.