Nur

Nur
Sebuah mimpi



"Hai Nur ....!!!".


"Nur ....!!!".


"Kau mendengarku...!!".


Mendengar sebuah suara memanggilnya, Nur berhenti bermain dan mencari sumber suara yang memanggilnya.


Terlihat seorang wanita paruh baya tersenyum padanya.


Nur terus memandanginya, sembari terus melangkah mendekatinya.


"Maaf...!!, ibu panggil saya..??", seru Nur yang sekarang telah berada di hadapan wanita yang sedari tadi tersenyum padanya.


Wanita itu tak terlalu tua dan tak juga terlalu muda.


"Boleh ibuk mengobrol denganmu..??", ucap wanita itu.


Nur hanya mengangguk dan duduk di kursi yang terletak di samping wanita itu.


"Nur pasti bertanya tanya siapa ibuk kan...??", ucap wanita itu.


Nur hanya mengangguk sambil terus menatap wanita di sampingnya.


"Kamu manis..??, persis seperti anak ibu dulu", ucap wanita itu.


"Trima kasih..., pasti dia lebih cantik dari Nur, kalau boleh tau siapa nama anak ibuk...??", tanya Nur mulai nyaman dengan perbincangan mereka.


"Namanya Morra", ucap wanita itu.


Seketika membuat Nur kaget dan segera berdiri dari tempat duduknya.


Sebelum Nur berlari menjauh, tangannya berhasil digenggam oleh wanita itu.


"Tunggu Nur...!!", seru wanita itu mencoba menghentikan Nur.


"Aku tak mau berurusan dengan mami Morra lagi...!!", seru Nur melepas paksa genggaman tangan wanita itu di pergelangan tangannya.


"Aku mohon...!!, hanya kamu yang bisa menolongku...!!", seru wanita itu dengan bersujud di hadapan Nur.


"A, aaaa, apaaa yang kamu lakukan..??", seru Nur terkejut.


"Aku ibu yang gagal..!!, dan aku ingin memperbaikinya", seru wanita itu mulai menangis.


"Apa maksud perkataanmu..??", seru Nur.


Lalu, wanita itu kembali berdiri dan mengelus kepala Nur.


Nur yang masih merasa takut akan wanita dihadapannya mencoba untuk memberi kesempatan padanya.


Seketika, Nur masuk ke dalam ingatan wanita itu di 130 tahunan yang lalu.


Saat dimana wanita itu masih hidup dan hidup bersama anak perempuan satu satunya, yaitu mami Morra.


Bahkan karna kasih sayangnya itu, dia selalu membenarkan semua kesalahan yang dibuat oleh mami Morra semasa kecil.


Ia juga menanamkan bahwa wajah itu ialah segalanya bagi perempuan.


Semua sah dilakukan untuk mendapatkan kecantikan wajah yang sempurna.


Karna semua itu, mami Morra tumbuh menjadi wanita yang seperti ibunya ciptakan.


Awal kenekatan mami Morra ialah saat memikat sang kekasih yang menjadi ayah dari Fitri.


Ia bahkan berani membunuh ibunya demi mendapatkan wajah cantik pemikat yang ia gunakan untuk mengikat ayah Fitri sebelum mereka menikah.


Itu semua ia lakukan sesuai arahan dukun yang ia datangi waktu itu.


Saat kejadian sadis itu terjadi, tak sengaja kotak musik kesayangan sang ibu terciprat darahnya dan menempel di kotak musik itu.


Lama kelamaan, mami Morra menyadari kejanggalan akan kotak musik itu, yang selalu berbunyi ketika tengah malam.


Dan sejak saat itu ia menganggap kotak musik itu ialah pengganti ibunya.


"Ternyata ibu masih di sana...!!, lihatlah buk..!!, karna ajaran dari ibu, dan pengorbanan dari nyawa ibu, aku bisa menjadi wanita cantik dan bisa menikah bahkan memiliki anak perempuan cantik seperti Fitri ini", ucap mami Morra menggendong Fitri yang saat itu masih bayi.


Dalam sekejap.


Masa itu telah hilang dan terhenti dari pikiran Nur saat wanita itu melepas tangannya dari kepala Nur.


"Sungguh biadap mami Morra...!!", ucap Nur tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Itu semua terjadi karna kesalahanku, karna didikanku, jadi inilah konsekuensi untukku..!!, tapi Nur...., aku mohon, pergunakan aku untuk membantu kamu dan cucuku Fitri, dengan begitu aku juga akan tenang", ucap wanita itu menangis di hadapan Nur.


"Bisa apa anak kecil sepertiku buk..??", seru Nur.


"Kamu hanya harus manfaatkan kotak musik itu, selebihnya aku juga akan menolongmu", ucap wanita itu sembari tersenyum dan seketika menghilang dari hadapan Nur.


Dan pada saat itu juga, Nur membuka matanya dengan keadaan syok, dan ia sadari ternyata ia hanya mimpi.


"Astaga...!!, apa yang terjadi padaku..!!", seru Nur kebingungan, pasalnya dirinya telah berada di atas ranjang Sanum.


Mendengar suara Nur, Sanum ikut terbangun dan menegurnya.


"Kamu kenapa Nur..??", seru Sanum sembari menguap dan melihat jam yang masih menunjukkan pukul 1 malam.


"Aku sepertinya bermimpi, dan mimpi itu seakan nyata sekali", seru Nur mencoba mengatur nafasnya.


"Kamu mimpi...??, kamu kan gak pernah tidur...??", ucap Sanum heran.


"Entahlah..!!, aku bingung", ucap Nur lalu menceritakan apa yang telah ia alami.


Bahkan cerita itu berhasil membuat Sanum syok dan terkejut mendengarnya.