
"Ayo kita pulang...!!", seru Sekar menggandeng tangan Nur yang telah keluar dari gerbang sekolah.
Tiba tiba Nur tertarik akan sesuatu.
"Berhenti deh mbak...!!", ucap Nur sambil menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa..??, kita udah ditunggu lho sama bunda, ini kan jadwal kamu ke dokter", ucap Sekar.
Tanpa menjawab, Nur berlari dan berhenti di sebuah gerobak es kacang hijau.
"Ini apa mbak...??", seru Nur saat Sekar telah sampai di sampingnya lagi.
"Oh itu, tapi kamu kan....??", ucap Sekar lalu mengingat bahwa percuma, Sanum tidak ingat apapun pikirnya.
"Kenapa mbak...??", tanya Nur heran.
"Enggak, mbak lupa kalau kamu amnesia, tapi dulu kamu itu gak suka sama kacang ijo, bahkan kamu alergi", ucap Sekar mengingatkan Nur yang masih berada di dalam raga Sanum.
"Masak sih mbak..??, aku boleh coba gak..??", ucap Nur dengan nada memohon.
"Sebaiknya jangan deh....!", ucap Sekar.
Pasti kamu juga bakal langsung mual makan kacang ijo, gumam Sekar dalam hati.
"Plisss...!, sekali aja", ucap Nur memohon.
"Iya deh..!!", seru Sekar masih berasa was was.
Yes..!!, gumam Nur dalam hati.
____
"Makasih ya bang", ucap Nur setelah menerima semangkok es dan langsung duduk di samping Sekar yang terus memandanginya.
Sekar terus mengamati gaya makan dan minum Nur yang ia rasa beda dari sebelum ia mengalami kecelakaan.
"Enak Num...??", tanya Sekar heran.
"Emmmmm, enak banget mbak, serasa baru kali ini aku nyoba kayak ginian", seru Nur terus menghabiskan es kacang hijaunya.
"Tapi...!!, kamu gak mual..??", seru Sekar heran.
"Enggak tuh mbak, enak gini..!!", ucap Nur menghabiskan Es kacang hijaunya.
Dari kejauhan, Rain, Fitri dan Sanum terus memperhatikan Sekar dan Nur.
Rain berulang kali mengelap bibirnya yang basah karna tergiur akan es kacang hijau yang di makan oleh Nur.
"Duhhh...!!, aku juga mau, dah 100 tahun lebih aku gak makan gituan", ucap Rain bersandar di bahu Fitri.
Seketika Fitri melototinya.
"Jangan deket deket..!!", seru Fitri membuat Rain menjauhinya.
Saat Fitri dan Rain sibuk berdebat, Sanum seakan terpaku dengan apa yang dilihatnya, membuat fokus Fitri teralihkan.
"Kenapa Sanum...??", ucap Fitri heran.
"Kenapa mbak Sekar gak melarang Nur ya..?", ucap Sanum heran.
"Memangnya kenapa...??, ada yang salah ..??", ucap Fitri tak merasa ada yang salah.
"Aku sangat alergi pada Kacang hijau, tp mbak Sekar juga belum pernah melihat alergiku kambuh sih, ia cuma tau aku alergi kacang hijau dan akan mual jika memakannya", ucap Sanum terus memandangi Nur yang terus menyantap es didepannya.
Tak lama kemudian.
Perkataan Sanum menjadi kenyataan.
Nur perlahan mulai terlihat lemas dan......
Brukkkkk.......
Nur pingsan dan membuat semua orang panik, terutama Sekar.
Tak berapa lama.
Nur telah di bawa oleh ambulans dan segera masuk ke ruang icu.
Zivana dan Marsel juga telah nampak ada di sana.
Mereka terus mondar mandir di depan pintu icu menunggu pintu ruangan di buka dari dalam.
"Sekar..!!, kenapa bisa Sanum makan kacang hijau sih..!!, kamu kan tau dia alergi", seru Zivana marah.
"Ma, maaa, maaf nyonya, saya cuma tau non alergi dan mual jika dia makan kacang hijau, tapi dia maksa membelinya, bahkan dia tak nampak mual sama sekali, malah ia terlihat sangat menyukainya, tapi saya tak tau kalau alerginya bisa separah itu", ucap Sekar menunduk dengan rasa bersalahnya.
"Sudahlah sayang, yang penting Sanum sudah ditangani dokter", ucap Marsel menenangkan istrinya.
Beberapa jam kemudian.
Dokter keluar dari ruang icu.
Raut wajahnya menggambarkan kalau ada yang tak beres di dalam sana.
Terlebih penanganan yang terbilang lama hanya untuk pasien alergi saja.
_____
Bersambung.....
😊😊😊
jangan lupa like, favorit, pencet vote dan hadiah ya kak😘