
"Jangan coba coba..!!", seru Marsel menghadang laju vas yang akan dilempar ke arah mami Morra.
Zivana tertegun tak percaya.
Bahkan suaminya kini harus bisa ia lawan.
Sanum yang mendengar keributan dari luar, mencoba membuka sedikit pintunya, ia mencoba mengintip kondisi di luar kamar.
Seketika tatapan tajam Marsel langsung mengarah ke arah Sanum.
Membuat Sanum kembali ketakutan di buatnya.
"Sayang..!!, cepat tutup pintunya...!!", perintah Zivana yang dengan cekatan segera di laksanakan oleh Sanum.
"Berusahalah sebisa mu Zivana...!!, dan kamu Marsel, segera tangkap Sanum dan ambil garis kekebalan itu untuk ku", seru Mami Morra.
Gawat....!!, aku harus cari cara, gumam Fitri dalam hati.
Lalu Fitri mencoba mengalihkan perhatian mami Morra kepadanya, agar Zivana dan Nur bisa mengatasi Marsel dan menolong Sanum.
"Awh...!!, beraninya kau...!!", seru mami Morra merintih kesakitan saat Fitri mengarahkan satu serangan pada nya secara tiba tiba.
Marsel yang melihat tuannya di serang, mencoba mengejar Fitri.
"Berhenti...!!, kamu urus saja Sanum dan orang lemah itu", seru mami Morra mencoba mengejar Fitri yang berusaha mengecohnya.
Orang lemah dia bilang...!!, aku akan tunjukkan apa yang bisa orang lemah ini lakukan.., gumam Zivana dalam hati mencoba memikirkan cara bagaimana mengembalikan kesadaran Marsel kembali.
Marsel terus menuruti perintah mami Morra, ia terus mendobrak dobrak pintu kamar Sanum hingga membuat Sanum menangis di dalam kamar.
"Hentikan mas..!!", seru Zivana mencoba menghadapi Marsel.
Tapi sedikitpun Marsel tak menghiraukan Zivana.
Zivana mencoba menarik tangan Marsel agar melihat ke arahnya, mencoba mengembalikan ingatannya akan dirinya.
Tapi lagi lagi itu sia sia.
Tangan Zivana bahkan di tepis dengan kasarnya oleh Marsel hingga dirinya jatuh tersungkur ke lantai.
"Bunda...!!", seru Nur mencoba menolong sang bunda yang terluka.
Sementara Sanum yang mendengarnya pun seketika berhenti menangis.
"Bunda...!!", ucap Sanum merasa khawatir dengan kondisi Zivana.
Ia segera membuka pintu dan berlari ke arah sang bunda.
Melewati Marsel tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kenapa kamu keluar sayang...!!!, bersembunyi lah.!!", seru Zivana tak memikirkan luka tangannya sedikitpun.
"Akhirnya kamu keluar juga", ucap Marsel mencoba mendekati Sanum.
Segera Zivana bangkit dan mencoba berlari sembari menggandeng anak anaknya.
Mereka bersembunyi dan terus bersembunyi dari Marsel.
"Keluarlah...!!", teriak Marsel marah.
"Stttt..", ucap Zivana mencoba menutup mulut Sanum agar tak bersuara.
"Biar aku coba mengecoh nya", ucap Nur ingin mengumpankan dirinya demi keselamatan Sanum dan Zivana.
Tapi tindakannya di hentikan oleh Zivana.
"Biarkan bunda yang melindungi kalian kali ini, jika bunda tak bisa menyadarkan ayah kalian, coba lah untuk melindungi satu sama lain", ucap Zivana mengecup kening Nur dan Sanum secara bergantian.
Zivana segera bergegas mendekat ke arah Marsel.
"Mas...!!, aku di sini..!!", seru Zivana muncul di belakang Marsel.
Marsel memandang ke sekeliling, ia hanya mementingkan Sanum saat itu, sesuai permintaan mami Morra.
Zivana mencoba mengalihkan perhatiannya lagi.
"Apa kamu tak ingat sedikitpun padaku mas...??", seru Zivana.
"Menyingkir kamu orang lemah...!!", ketus Marsel.
Melihat usahanya tak berhasil, Zivana mencoba mengambil sebuah Vas dan memecahkannya.
Ia dengan sigap mengambil sebuah serpihan vas di lantai.
"Lihatlah mas...!!!, dari dulu sampai sekarang, yang ku tahu kamu tak akan membiarkan aku terluka", seru Zivana mencoba menempelkan serpihan vas di lengannya.
Sementara Sanum dan Nur menangis tanpa suara menatap sang bunda yang mencoba melindungi keluarga mereka.
Marsel hanya terdiam dan kembali meneruskan langkahnya mencari keberadaan Sanum.
"Aku tak akan lengkap tanpa mu mas..!!", seru Zivana sambil melukai lengannya sendiri.
Membuat darah segar mengucur ke lantai.
Membuat langkah kaki Marsel terhenti.
Pandangannya mulai teralihkan ke arah Zivana.
Ia pandangi darah yang menetes dari tangan Zivana.
Sambil menatap wajah Zivana yang mencoba menahan sakit.
Tiba tiba Marsel merasa sakit di bagian kepalanya.
Ia mengerang kesakitan dan tak berapa lama ia kembali terdiam dan terpaku di tempatnya berdiri.
"Mas ..??", seru Zivana khawatir dengan kondisi suaminya.
Tapi Marsel malah kembali mendorong Zivana hingga jatuh tersungkur untuk yang kedua kalinya.
"Berikan Sanum dan kamu akan bebas", ucap Marsel marah dan mencoba mengobrak ngabrik barang barang di ruangan itu.
"Sampai mati pun aku akan berjuang untuk anak anak ku dan keluarga ku", ucap Zivana mencoba menempelkan serpihan vas itu ke pergelangan tangannya lagi.
Marsel hanya terpaku memandang Zivana.
"Jika kamu sayang padaku, kembalilah dan tolong aku mas", ucap Zivana berderai air mata.
Sringgg ......
"Bunda....!!", teriak Sanum dan Nur secara bersamaan.
Di hadapan mereka, sang bunda mencoba melukai diri nya sendiri demi mengembalikan kesadaran ayah mereka.
Mereka segera keluar dari persembunyian mereka dan memeluk sang bunda dengan tangis terisak isak.
"Ayah jahat ...!!", teriak Sanum mencoba menutup luka sang bunda dengan tangannya.
"Bangun bunda", rintih Nur.
Tak berselang lama.
Mata Marsel terlihat berwarna biru normal, seakan kondisi Zivana membuat mantra mami Morra memudar.
"Arkkkk...!!", teriak Marsel meringkuh kesakitan di lantai.
Dan tak lama kemudian ia mencoba memandang kembali ke sekitarnya.
"Astaga....!!!, Sayang...!!", teriak Marsel saat pandangan matanya sampai pada Zivana yang telah lemas dan Sanum yang terus saja menangis.
Segera Marsel berlari dan mendekapnya, ia tatap darah yang bercucuran di lantai.
"Pergi yah..!!, jangan sakiti bunda lagi", seru Sanum mencoba memeluk bundanya yang mulai kehilangan kesadarannya.