
"Ketemu...!!", seru Fitri tiba tiba muncul di hadapan Nur.
Tanpa terkejut sedikitpun, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fitri.
"Tak kaget...!!", seru Nur kembali duduk di ayunannya.
"Ya elahh Nur..!!, nyenengin teman dikit kenapa sih...!!", seru Fitri duduk di samping Nur.
"Lagian...!!, sok sok.an hantu nakutin hantu", ucap Nur tertawa.
Tiba tiba dari arah belakang Rain juga berniat mengagetkan Nur dan Fitri.
"Baa ......!!", seru Rain dari arah belakang, dan lagi lagi tidak ada yang terkejut.
"Rain...!!!, muka mu nakutin aja enggak..!!", seru Nur tertawa melihat ke arah Rain.
Sedangkan Fitri tanpa aba aba langsung menoleh ke arah belakang.
Dengan wajah yang di buat menakutkan, wajah yang penuh darah dan salah satu mata yang hampir lepas dari kelopaknya sukses membuat Rain terkejut dan jatuh tersungkur di tanah.
Fitri pun tertawa melihat keberhasilannya kali ini.
Sedangkan Nur melongo melihat keberhasilan Fitri menakuti Rain.
"Hahahaha... yeee, yeee, berhasil, berhasil", ucap Fitri merubah wajahnya menjadi normal kembali.
Sedangkan Nur membantu Rain untuk bangun.
"Penakut...!!, hantu kok takut sama hantu..!!", gerutu Nur.
"Yeeee..!!, Fitri duluan tuh yang mulai..!!, muka kok ancur lebur kayak gitu, hantu lain juga takut kali liat dia", seru Rain menarik kepang Fitri.
"Berani ya kamu..!!", seru Fitri menarik kera baju Rain.
"Dasar tomboy..!!", seru Rain.
"Dasar cengeng..!!", seru Fitri tak mau kalah.
Nur yang menyaksikan kedua temannya hanya berdiri tak mengerti.
"Kalian saling kenal...?", tanya Nur heran melihat tingkah mereka.
Fitri dan Rain sama sama diam dan memalingkan muka mereka.
Nur pun ikut memalingkan muka dan memasang wajah cemberut.
Fitri dan Rain yang melihat Nur nampak kesal berusaha melupakan perdebatan mereka.
"Maafin kami Nur", ucap Rain dan Fitri hampir bersamaan.
"Jawab dulu pertanyaanku..??, kenapa kalian bisa saling kenal...??", tanya Nur berayun di ayunan favoritnya.
Fitri pun menunduk.
Rain yang melihatnya mengerti bahwa Fitri tak sanggup menceritakan cerita itu.
"Kami teman semasa hidup", ucap Rain membuat kaki Nur berhenti berayun.
"Benarkah..??", tanya Nur makin penasaran.
"Itu cerita 100 tahun lalu", ucap Rain mulai menceritakan kisah mereka.
"Itu karna mama ku", ucap Fitri mencoba mengingat cerita masa lalunya.
"Kami tinggal di satu desa yang sama, kami bermain setiap hari bersama, bahkan penduduk desa sudah hafal dengan keakraban kami yang setiap harinya selalu di bumbui pertengkaran, dan dalam waktu sehari kami akan berbaikan kembali, tapi lambat laun mama dari Fitri bersikap lain dari biasanya, dan terakhir aku dapat kabar mengejutkan dari penduduk desa kalau Fitri meninggal dengan mengenaskan dan ternyata pelakunya adalah mama nya sendiri", ucap Rain melanjutkan ceritanya.
"Kejam sekali dia, bagaimana rupa seorang wanita yang tega membunuh anaknya sendiri..??", ucap Nur menatap Fitri yang tertegun mendengar kisahnya sendiri dari sudut pandang Rain.
"Kamu sudah melihat rupanya Fit", seru Fitri mengingat sosok wanita yang paling kejam dihidupnya.
"Bagaimana mungkin..??, kalian saja sudah meninggal 100 tahun yang lalu, dan umurku saja seusia Sanum", ucap Nur tak percaya.
"Masak kamu gak ngenalin Nur, wajah menyeramkan dan jelek itu..??", seru Rain merasa jengkel mengingat wajah wanita yang ia maksud.
"Mami Morra", ucap Fitri membuat Nur terkejut.
"Gak mungkin..!!, dia masih terlihat muda sekali", seru Nur menyangkalnya.
"Anaknya kamu atau Fitri sih Nur..??", ketus Rain.
"Biasa aja keles...!!", seru Nur kesal.
"Elehhhhh..!!, tetep aja tampangmu gak mirip manusia Nur, sok bicara bahasa gaul mereka lagi", seru Rain tertawa membuat Fitri melototinya.
Rain pun tertunduk dan membiarkan Fitri bercerita kembali.
"Usianya lah yang membuatnya tega mengorbankanku Nur, dia menjadikanku tumbal untuk awet mudanya sampai kini, darahku kunci wajah cantiknya", ucap Fitri meneteskan air mata.
"Jangan jangan cairan merah di kalung itu..??", seru Rain tiba tiba menyahut.
"Ya...!!, itu adalah darah yang keluar langsung dari jantungku", ucap Fitri memegang dadanya.
"Kenapa dia bisa sekejam itu..??", seru Nur tak percaya ada wanita yang sekejam itu.
"Dulu kami hidup sederhana dan bahagia, tapi status janda mama lah yang memicu semuanya, dia terpikat oleh seorang lelaki kaya, tetapi cintanya di tolak mentah mentah, bahkan ia diperolok oleh seluruh kerabat lelaki itu, setelah kejadian itu, mama tak pernah memperhatikanku lagi, tujuannya hanya ingin balas dendam", ucap Fitri sesenggukan.
"Lalu apa yang terjadi..??", Seru Nur makin penasaran.
"Itulah awal dari kisahku Nur, lelaki itu ialah ayahku, seorang lelaki yang sudah berkeluarga, mami Morra menggunakan ilmu hitam untuk membuatku sakit demi membalaskan dendamnya, tetapi syarat utamanya ialah pengorbanan Fitri.
Ternyata balas dendamnya lebih besar dari kasih sayangnya pada anaknya, ia membunuh Fitri dengan brutal, setelah kejadian itu mami Morra menghilang entah kemana, dan beberapa bulan kemudian aku terbaring sakit dan akhirnya meninggal, sesuai keinginan mami Morra", ucap Rain menatap langit langit malam.
"Lalu bagaimana dengan kalung itu..??", dan kenapa dia bisa mengurungmu Rain..?", tanya Nur terus bertambah penasaran.
"Darahku adalah kunci berfungsinya kalung itu untuk mempermuda umurnya, dan roh Rain diperlukan untuk memperkuat fungsi itu, sesaat setelah Rain meninggal mama menyedot rohnya", ucap Fitri.
"Jadi itu sebabnya kalung itu seakan kuat tapi seakan melemah saat Rain terlempar keluar dari kalung itu..??", ucap Nur mulai mengerti tentang apa yang terjadi.
"Jika kalung itu tak melemah, kamu sudah berada di dalam kalung itu sekarang Nur", ucap Fitri.
"Kenapa..??, apakah dia juga mengincarku..??", seru Nur.
"Dia pemburu roh Nur, itulah kuncinya kalung itu bisa bertahan 100 tahun lamanya", ucap Rain.
"Ucapannya bahwa ia hanya tak mau roh mengganggu manusia itu bohong, ucapan itu hanya ditujukan padaku yang tak boleh mengganggunya, dan untuk roh lainnya ia hanya ingin menangkapnya untuk di jadikan penguat kalungnya saja", ucap Fitri memperingakan Nur akan lebih berhati hati, karna ialah sasaran mami Morra sekarang.
Lalu Nur menatap keluarganya yang berada di dalam rumah.
Ternyata aku lebih beruntung dari teman temanku yang lain, setidaknya aku tidak sengaja dibunuh oleh orang tua kandungku, gumam Nur dalam hati.