
"Gimana ini Marsel..??", seru bu Sara yang memecah keheningan setelah beberapa saat lalu mereka menanggapi telfon dari mami Morra.
"Kita akan berangkat malam ini juga", seru Zivana bangkit dari duduknya.
"Kamu yakin sayang ..??, kita juga belum membahas ini dengan Nur", ucap Marsel merasa khawatir.
"Mami memang tak suka dengan Nur, keberadaannya sangat mustahil sekali, tapi itu juga sangat kejam untuk Nur nak", ucap bu Sara mengutarakan pendapatnya.
"Saya setuju dengan nyonya Sara", ucap Sekar memberanikan diri untuk ikut bersuara.
"Kalian belum merasakan kehilangan anak satu satunya yang kalian miliki, secara nyata..!!, aku sudah kehilangan Nur sejak ia lahir, dan aku tak mau kehilangan Sanum juga", seru Zivana bergegas menuju ke pintu depan.
Tiba tiba.......
Fitri merasa geram melihatnya.
Tanpa berfikir panjang, ia bergegas menutup pintu depan dengan kekuatannya.
Brukkkkkk.......(pintu tertutup dengan kencangnya).
Semua menjadi terkejut di buatnya.
"Apakah Nur marah...??", seru bu Sara memandang kesekeliling ruangan.
"Bukan...!!, aku rasa ini bukan Nur", ucap Sekar ketakutan.
Zivana mengusap air matanya dan mencoba berkomunikasi dengan Nur.
"Kebetulan kamu datang Nur...!!, ada yang ingin bunda bicarakan denganmu..!!", seru Zivana berharap Nur mau mendengarkannya.
Tiba tiba angin kencang menerpa mereka.
Semua barang barang berterbangan dan jatuh kelantai.
"Hentikan Nur..!!", seru Marsel mencoba menenangkan Nur.
"Aku bukan Nur...!!!", seru sebuah suara tanpa raga menggema di rumah Zivana.
"Fitri...??", seru Sekar mengenalinya.
Fitri kemudian tertawa terbahak bahak.
Ia menarik rambut bu Rukmi dan menariknya hingga tersungkur di lantai.
Kemudian kemarahannya menuju bu Sara dan Marsel.
Fitri menghempaskan mereka ke tembok ruangan itu hingga kening mereka berdarah.
"Hentikan...!!", teriak Zivana histeris dan mencoba menolong suami, ibu beserta mertuanya.
"Jangan coba coba....!!", seru Fitri menampakkan diri dan menghadang jalan Zivana.
Dengan wajah yang rusak parah, dengan badan yang berlumuran darah, sukses membuat semuanya amat syok dan ketakutan terutama Sekar.
Sejak ia mengenal Fitri sebagai teman Nur, ia tak pernah melihat wujud mengerikan dari Fitri.
"Siapa kamu...??", seru Zivana mulai berjalan mundur menjauh dari Fitri.
"Anggap saja aku sahabat Nur yang tak suka dengan perlakuanmu padanya..!!", seru Fitri berjalan mendekati Zivana.
"Apa maumu...??", tanya Zivana dengan nada gemetar.
"Mauku tak penting...!!, aku bisa saja menghabisimi sekali serang, tapi aku ingin mendengar alasanmu terlebih dahulu", ucap Fitri dengan penuh amarah.
"Alasan apa...??", seru Zivana bingung.
"Kenapa kau memperlakukan Nur seperti sampah...!!!", teriak Fitri murka, membuat angin kencang kembali menerpa mereka.
Zivana seakan tercengang dengan perkataan Fitri.
"A, ak, akuuuu, hanya tak mau kehilangan anakku", ucap Zivana terbata bata.
"Apakah Nur bukan anakmu...!!", teriak Fitri kembali, tak puas dengan jawaban Zivana.
"Ya....!!, dia memang anakku..!!, tapi aku bisa apa...!!, dia sudah meninggal...!!", seru Zivana histeris dan menangis dihadapan Fitri.
"Tapi itu juga bukan keinginannya.., kami seperti ini juga bukan keinginan kami, kami salah apa dikehidupan ini, sehingga kami harus bernasib seperti ini..??", seru Fitri meneteskan air mata.
Perlahan, wajah seram Fitri mulai memudar.
"Aku, teman teman, maupun Nur, memiliki satu keinginan, kami ingin hidup dengan baik atau mati dengan tenang, tapi kami belum bisa mewujudkan itu semua, kami hanya mohon hargai kami, bukan pilihan kami menjadi roh gentayangan seperti ini", ucap Fitri sesenggukan.
Zivana yang merasa iba melihat kesedihan Fitri, mencoba mendekatinya dan menenangkannya, tapi sebelum Zivana menyentuh bahu Fitri, ia dikejutkan oleh penolakan dari Fitri.
"Hentikan..!!, jangan sentuh aku..!!, seorang ibu yang tak bisa menghargai anaknya tak pantas memegangku..!!", teriak Fitri kembali menunjukkan wujud seramnya.
"Pergi Zivana...!!", seru Marsel setengah sadar di kejauhan.
"Hentikan Fitri...!!", seru Sekar tak tega melihat semua perilaku buruk Fitri pada Keluarga Zivana.
"Diam mbak...!!, aku tak menyerangmu karna kamu teman kami", ucap Fitri memperingatkan Sekar.
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap menyelamatkan Sanum..!!", seru Zivana membuat Fitri semakin marah.
Saat Fitri ingin menyerang Zivana, Nur datang menghadang serangannya.
"Nur...??, kenapa...??", seru Fitri tak percaya.
Nur tersenyum pada Zivana dan menoleh ke arah Fitri.
"Ayo kita pergi...!!", seru Nur tak dapat di lihat oleh semuanya kecuali Sekar.
"Sampaikan pada semua mbak, aku akan menyelamatkan Sanum meskipun aku sendiri taruhannya, semoga bunda dan ayah senang", ucap Nur menghilang bersama Fitri.
Tak terasa, Sekar meneteskan air mata.
Zivana yang heran, mulai mendekatinya.
"Kenapa dia menyebut Nur...??, apakah Nur juga tadi ada di sini..??", seru Zivana penasaran.
"Nyonya harusnya bangga memiliki anak seperti Nur", ucap Sekar mencoba menahan tangisnya.
"Apa maksudmu..??, dan kenapa kamu biarkan dia pergi, sampaikan padanya kita harus segera menyelamatkan Sanum..!!", seru Zivana tak mengerti, dan tetap bulat pada tekad awalnya.
"Nur meninggalkan pesan untuk nyonya, kalau dia akan menyelamatkan Sanum sendiri walaupun dia sendiri taruhannya", ucap Sekar membuat Zivana lemas dan seakan tak kuat untuk berdiri.
Di pikirannya memang Sanum yang utama, tapi di hatinya, tak bisa dipungkiri bahwa Nur dan Sanum sama sama anaknya.
Yang seharusnya ia perlakukan dengan sama.
"Apakah tak ada rasa kasihan nyonya pada Nur..??", seru Sekar mulai emosi.
Zivana dan lainnya hanya diam mendengarkan.
"Nur memang terkadang menyusahkan, tapi itu bukan alasan nyonya mempertaruhkannya untuk menyelamatkan saudaranya...!!", seru Sekar iba terhadap Nur.
"Jaga bicaramu ya Sekar...!!", teriak Zivana emosi.
"Maaf nyonya, jika saya bekerja disini hanya untuk menerima semua kesalahan menjadi sebuah kebenaran, saya mengundurkan diri, permisi..!!", seru Sekar keluar dari rumah itu.
Mata Zivana terus memandang Sekar sampai akhirnya tak terlihat lagi di kejauhan.
Ia terduduk dilantai sambil menangis histeris.
Marsel mencoba menenangkan istrinya, tapi nampaknya hati Zivana sudah terlanjur hancur.
"Kenapa takdir macam ini bisa hinggap di kehidupan kita mas ..???", seru Zivana mengingat Sanum dan Nur saat mereka pertama kali lahir kedunia.