Nur

Nur
Kembalikan milikku...!!



"Beraninya kau memegangku...!!", seru mami Morra melepaskan pegangan Fitri di tangannya saat mereka muncul di tengah hutan belantara.


Fitri sengaja membawanya pergi jauh dari rumah sakit tempat Sanum di rawat.


"Di sini tempat yang pantas untukmu..!!, bukan di samping mereka yang terus kau buat susah..!!", teriak Fitri membuat burung burung terbang menjauhi mereka.


Mami Morra hanya terus saja melotot dan berkacak pinggang, seakan ia memendam amarah yang begitu dalam pada Fitri.


"Kembalikan milikku...!!", teriak mami Morra marah.


"Apa...??, aku tak dengar...??", ledek Fitri sambil menjulurkan lidahnya di hadapan mami Morra.


"Kurang aj*r..!!, jangan berlagak bodoh ya..!!", seru mami Morra merasa dipermainkan.


"Apa yang ku permainkan ma....??", seru Fitri meledek.


"Hentikan sandiwaramu..!!, cepat kembalikan milikku yang kau ambil..!!", seru mami Morra mulai melakukan serangan pada Fitri.


Dengan santainya Fitri hanya menghindar dari serangan serangan mami Morra.


Ia tak terlalu menanggapi perkataan yang keluar dari mulut mami Morra.


"Sini kamu...!!", teriak mami Morra mengejar Fitri yang sengaja berlari hanya berniat membuat mami Morra kehabisan tenaganya.


Tetapi dalam bayangan Fitri.


Ada satu ingatan yang sesekali melintas di hadapannya.


Satu momen saat Fitri masih menjadi anak kesayangan mama nya.


Berlari bersama dengan riang gembira, kesana kemari tiada henti seperti saat itu.


Tapi kali ini semua sangat berbeda.


"Apa kamu ingat momen bahagia itu ma..???, sedikit saja..", ucap lirih Fitri memandangi wajah bringas di hadapannya berubah menjadi wajah cantik tersenyum seperti di masa silam.


Setelah cukup lama, berlari dan menyerang.


Mami Morra nampak telah kehabisan tenaga.


Ia berhenti berlari dan seakan mencoba mengatur nafasnya.


"Udah tua aja masih sok sok.an..!!", ucap Fitri bersantai di dahan pohon.


"Kenapa aku bisa punya anak seperti dia..", ucap lirih mami Morra terus mencoba mengatur nafasnya.


"Sudahlah...!!, turuti saja permintaanku, cepat kembalikan milikku dan aku akan mengampunimu", seru mami Morra mencoba membujuk Fitri.


"Siapa yang salah dan siapa yang harus diampuni ma...??", seru Fitri terus bersantai di tempatnya semula.


Mendengar itu, mami Morra makin geram dibuatnya.


Berulang kali ia kembali menyerang Fitri tapi terus saja meleset.


Fitri selalu berhasil menghindar dari semua serangan mami Morra dengan cara berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.


"Kenapa kau tak lenyap saja dari dunia ini...!!!", teriak mami Morra kesal.


Membuat senyuman Fitri menghilang dan wajahnya menjadi datar.


"Apa hanya itu cita citamu ma...??, serendah itukah dirimu..?", seru Fitri emosi.


"Ya....!!, memang jawaban seperti apa yang mau kamu dengar...!!", ketus mami Morra tanpa rasa bersalah.


"Di mana naluri keibuanmu...??", ucap Fitri tertunduk.


"Tidak ada gunanya naluri itu..!!, aku kehilangan pemuda dambaanku karna gelarku yang menjadi seorang ibu, dan sekarang kau mengambilnya lagi dariku beserta barang berharga milikku yang lain", seru mami Morra.


"Kalau kamu membenciku, berarti kamu juga pasti tau alasan kenapa aku masih ada di dunia ini bukan...??", ucap Fitri kembali menatap mami Morra secara tajam.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan...??, ucapkan saja agar kamu cepat pergi jauh dari hadapanku dan dari dunia ini", seru mami Morra.


"Kamu yakin...??", ucap Fitri turun dari dahan pohon.


"Apa itu..??", ucap mami Morra penasaran.


"Kematianmu ma...!!", seru Fitri dengan wajah dinginnya.


Membuat Mami Morra lagi lagi naik pitan mendengar ucapan Fitri.


"Lancang....!!", teriak mami Morra tak dapat mengendalikan amarahnya lagi.


Serangan brutal langsung saja mengarah pada Fitri tanpa henti.


Fitri tanpa menanggapi amarah mami Morra langsung menghilang dari hutan itu dengan tawa yang menggema di penjuru hutan.


"Fitri.......!!", teriak mami Morra mengguncang seisi hutan sembari memporak porandakan semua yang ada di sekelilingnya.