
Zivana terlihat nampakmenutup telfon rumahnya.
Seketika ia duduk di sofa dengan raut wajah tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kegundahan hatinya.
"Kenapa nyonya...??", seru Sekar bangkit dari tempatnya bermain dengan Sanum, ia berjalan dan duduk di lantai sambil memijat kaki Zivana.
"Entah gimana nasib Sanum Sekar, sampai detik ini tak ada satu pun sekolah yang mau menerimanya, jika pun ia harus sekolah ke luar kota aku tak tega menitipkannya di asrama", ucap Zivana memijat keningnya.
"Kalau saya kasih solusi gimana nyonya..??", ucap Sekar mencoba membantu memecahkan masalah Zivana.
"Apa itu..??", seru Zivana memegang kedua tangan Sekar dengan penuh harap.
"Saya punya saudara yang jadi guru di sekolah dasar, gimana kalau kita privatkan saja Sanum padanya, biar rapot Sanum di ikut sertakan di sekolah tempat ia bekerja", ucap Sekar.
"Tapi apa pihak sekolah tak keberatan..??", ucap Zivana tak yakin.
"Murid privatnya sudah banyak kok nyonya, jadi pihak sekolah sudah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya terhadap murid privat pada saudara saya", ucap Sekar menghilangkan keraguan di hati Zivana.
"Alhamdulillah kalau gitu, kamu urus semuanya ya, aku minta tolong sekali ke kamu", ucap Zivana penuh harap.
"Insyallah nyonya", ucap Sekar tak mau membuat Zivana kembali putus asa.
"Oh ya, tolong panggil Nur, saya mau bicara dengannya", ucap Zivana beranjak dari sofa dan berjalan ke arah halaman depan.
"Baik nyonya", ucap Sekar membawa Sanum ke kamar dan langsung melakukan perintah dari Zivana.
Sekar berdiri di ruang tamu.
"Nur, kamu dengar aku..??", ucap Sekar memandangi ke sekeliling ruangan.
Tak berselang lama, perasaannya mengatakan bahwa Nur telah berada di sampingnya.
Sekar membalikkan badannya dan melihat Nur telah berada di sana.
"Bunda memanggilmu", ucap Sekar mengulurkan tangannya.
Sejenak Nur memandangi tangan Sekar.
Lalu Nur meraih tangan Sekar, tanda ia setuju untuk menemui Zivana.
Sekar menggandeng tangan Nur yang dingin dan pucat menuju ke hadapan Zivana.
"Nyonya..!!", ucap Sekar membuat Zivana menoleh padanya.
Zivana dengan melihat tangan Sekar yang seakan menggenggam sesuatu langsung mengerti, Nur telah bersedia menemuinya.
"Nur...!!, bisa mendekat ke arah bunda...??", seru Zivana mengulurkan tangannya.
Sekar pun tersenyum pada Nur untuk membuatnya lebih tenang saat berhadapan dengan Zivana.
Sekar meletakkan tangan Nur di atas telapak tangan Zivana.
Zivana memejamkan matanya, tak terasa air matanya menetes.
Zivana mencoba merasakan tangan mungil anaknya itu, meskipun ia tak bisa melihat wujud asli dari Nur.
Zivana membuka matanya dan mencoba membayangkan ada seorang anak di hadapannya.
Ia tersenyum dan mengelus rambutnya, mengusap pipinya dan mengelus tangannya.
"Sayang Nur..., kamu tau gak sayang, sejak bunda mengetahui bahwa bunda mengandung dua malaikat kecil di rahim bunda, bunda dan ayah sangattttt senang sekali, kalian adalah buah hati kami, tapi ternyata Allah berkehendak lain, sehingga kamu terpisah raga dengan kami, tapi kamu tau sayang, sekalipun kami tak pernah menyangkal bahwa kamu itu juga putri kami seperti Sanum, tapi sayang, tolong mengertilah..!!, kami tak keberatan kamu di sini, tapi tolonglah jaga batasanmu dengan manusia lain, jangan lagi membuat masa depan Sanum terhambat", ucap Zivana memohon dengan halus pada Nur.
Seketika wajah yang tersenyum menjadi murung dan kesal.
Nur seakan tak terima jika dia dianggap menghambat masa depan Sanum.
"Selalu saja Sanum..!!", seru Nur melepaskan tangannya dari pegangan Zivana.
"Nur...!!", seru Sekar membuat Zivana menoleh padanya.
"Kenapa Sekar..??", seru Zivana beranjak dari duduknya.
"Nur merasa kesal dengan permintaan nyonya", ucap Sekar terbata bata.
"Bunda mohon sayang", seru Zivana melipat kedua telapak tangannya dan memohon dengan sangat pada Nur.
"Bunda pilih kasih...!!", seru Nur menghilang dari hadapan Zivana dengan menabrak vas bunga sampai jatuh dan pecah.
Pyar....!!
"Astagfirullah..!!", seru Sekar menarik badan Zivana agar tak terkena pecahan kaca vas bunga yang pecah.
Zivana hanya menangis memeluk Sekar.
Ia tak tau lagi harus dengan cara apa membuat Nur mengerti akan batasannya.
Bukan dirinya atau suaminya yang menginginkan ini semua terjadi.
Itu semua sudah kehendak Allah.
Dan Zivana mencoba mengerti apa maksud Allah melakukan semua ini padanya.