
"Oke, trima kasih", ucap mami Morra menutup panggilan telfonnya dan bersandar di sofa rumahnya.
Ia seakan melepas penat dan menutup matanya mencoba rileks di sandaran sofanya.
Rumah mami Morra terbilang cukup jauh dari pemukiman warga, gaya rumahnya terbilang agak kuno, nampak barang barang antik berjajar rapi di dinding rumahnya.
Hanya saja, tak ada foto satu pun yang terpajang di rumahnya.
Seakan ia sudah terbiasa hidup sendiri dalam waktu yang cukup lama.
Ia meraba kalung yang ia pakai.
Kalung yang sama yang ia gunakan untuk menakuti Nur saat itu.
Ia memandang heran kalung yang berada di tangannya itu.
Kalung perak berbandul sebuah tabung kaca kecil berisi cairan merah di dalamnya.
"Kenapa kamu melemah..??", seru mami Morra memandangi kalung yang tergantung di hadapannya.
"Apa spesialnya roh itu sehingga ia tak bisa tersedot ke dalam dirimu..??", ucap mami Morra mengajak bicara kalung kesayangannya itu.
Tiba tiba angin berhembus menerpa dirinya.
Mami Morra merasakan ada sesuatu yang datang menghampirinya.
Ia kemudian memakai kalung itu kembali dan menyelipkannya di balik bajunya.
"Siapa itu..??", seru Mami Morra beranjak dari tempat duduknya.
"Mama.......!!!!, ma...!!, mama..!!", seru sebuah suara bergema di rumah itu.
Seakan mami Morra tercengang tak percaya apa yang telah ia dengar.
Bukan ia merasa takut atau merinding mendengarnya.
Tapi dia terkejut karna sudah lama suara itu telah menghilang dari rumahnya.
"Fitri...!!", seru mami Morra mencari cari keberadaan Fitri.
"Mama masih ingat aku..??", seru Fitri muncul di depan Mami Morra yang ternyata ialah ibu kandungnya.
"Sudah 100 tahun kamu tak kembali ke rumah ini, mau apa kamu..??", seru mami Morra berkacak pinggang.
Mami Morra pun tertawa.
"Apa hak mu mengaturku..??, bisa apa kamu..??, kamu akan selalu berakhir kalah dan pergi dari hadapanku seperti yang sudah sudah", ucap Mami Morra melotot.
"Fitri yang dulu bukan Fitri yang sekarang ma", ucap Fitri membuat mami Morra merasa kesal.
"Beraninya kamu..!!", seru mami Morra menunjuk ke arah Fitri.
"Aku bahkan masih tak menyangka, kenapa tuhan memberiku seorang ibu sepertimu..!!, mungkin untuk dipanggil ibu pun kamu tak pantas..!!", seru Fitri geram.
"Pergi kau dari sini..!!", teriak mami Morra marah.
"Ingat..!!, keabadianmu karna diriku, dan itu akan lenyap cepat atau lambat", seru Fitri menghilang dari hadapan mami Morra.
"Beraninya anak itu..!!, bahkan setelah dia meninggal 100 tahun lamanya, ia masih saja membuatku kesal", seru mami Morra memegang erat kalungnya.
Lalu bayangan masa lalunya sekilas muncul.
Saat Fitri dan dirinya hidup dengan senyuman sepanjang hari, dan seketika terdapat sekilas gambaran cemoohan orang orang, dan sekilas terkaparnya Fitri di hadapan mami Morra, tetapi yang berbeda dari bayangan lainnya adalah mami Morra tersenyum bahagia saat Fitri terkapar penuh darah di depannya.
Apakah yang sebenarnya terjadi..??.
Dan kenapa mami Morra terlihat jauh lebih muda dari bayangannya yang sekilas muncul di memorinya, meskipun bayangan itu sudah terjadi 100 tahun yang lalu...??.
Bahkan berkeriput pun ia tidak.
Terlihat mami Morra berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Ia membuka sebuah kotak musik yang bertuliskan nama dan tanggal lahirnya.
Jika dihitung secara seksama.
Umur mami Morra sudah 140 tahun di tahun ini.
Jauh sekali dari penampilannya yang terlihat seperti umur 35 tahunan.
Mami Morra terlihat menikmati alunan musik yang berbunyi dari kotak musiknya.
Hanya itu yang bisa menghiburnya dikala ia sedang marah dan gusar.
"Buk lihatlah anakmu ini..!!, cantik dan begitu menawan, kotak musik pemberianmu akan menjadi saksi kecantikanku yang sepanjang masa", ucap Mami Morra terus menari melupakan ancaman dari Fitri.