
Mami Morra nampak terus mengamati bola kekuatannya.
Terlihat ia sedang mengamati pergerakan Fitri, roh Sanum dan Rain di rumah sakit tempat Nur di rawat.
Lalu ketertarikannya muncul lebih besar saat melihat Rain.
"Sasaran empuk buatku..!!", ucap mami Morra seakan mendapat sebuah siasat lagi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini.
Lalu ia berjalan mendekati mumi kesayangannya.
Yang tak lain adalah ayah dari Rain.
"Sayangku...!!, aku akan buat anakmu mengunjungimu sekali lagi", ucap mami Morra sambil bermanja di patung mumi dihadapannya.
"Kamu senang bukan...??", ucap mami Morra tertawa dengan riangnya.
Dan dalam sekejap, tawanya berhenti dan kembali menatap patung mumi di sampingnya.
"Sebenarnya kamu lebih tampan semasa dulu, tapi kamu jahat....!!, mendingan gini, ya kan...!!", seru mami Morra kembali tertawa lalu menghilang.
Beberapa saat kemudian.
Ia muncul kembali di taman rumah sakit.
Terlihat Rain sendirian duduk di taman sambil memegangi pipinya yang telah dipukul oleh Fitri.
"Duhh...!!, untung aku udah mati, coba kalau aku masih hidup, bisa ancur mukaku di pukul Fitri tiap hari", keluh Rain membenarkan pipinya yang penyok.
Dari kejauhan mami Morra tersenyum melihat waktu tengah berpihak padanya.
"Kebetulan sekali, dia sendiri", ucap mami Morra mendekati Rain.
Saat Rain melihat kedatangan mami Morra, ia segera berlari secepat yang ia bisa.
Ia terus berlari tapi terus saja dikejar oleh mami Morra.
"Hey..!!, tunggu...!!", seru mami Morra mencoba menghentikan Rain.
Seketika Rain berhenti berlari, bukan karna permintaan mami Morra tapi karna ia ingat akan sesuatu.
"Oh ya ...!!, aku ini roh, ngapain capek capek lari sih...!!", ucap Rain berniat ingin menghilang sejauh mungkin menghindar dari mami Morra.
Tapi saat ia ingin menghilang, niatnya dihentikan oleh seruan mami Morra.
"Apakah kamu tak merindukan ayahmu..??", seru mami Morra berhasil mendapatkan perhatian Rain.
"Ayah...??", seru Rain berbalik arah menatap mami Morra yang kini tersenyum karna rencana awalnya telah berhasil.
"Iya...!!, aku bisa melepaskan ayahmu, dan menguburkannya dengan layak, asalkan....", seru mami Morra terus melancarkan siasatnya.
"Kamu harus bawa roh Sanum sebagai gantinya", seru mami Morra menawarkan sebuah kesepakatan besar pada Rain.
Dalam sekejap, Rain terdiam.
Seakan ia bingung harus melakukan apa.
Mami Morra yang melihat kebimbangan Rain mencoba merayunya lagi agar setuju.
"Apakah kamu tak mau jadi anak berbakti pada ayah kandungmu...??", seru mami Morra menghasut Rain.
"Aku sudah puas memilikinya selama ini, dan jika kamu tak mau, aku buang saja dia ke laut atau kemana gitu", seru mami Morra membuat Rain makin kebingungan.
"Jangan...!!", seru Rain spontan.
Senyuman mami Morra kembali merekah dibibirnya.
Kena kau...!!, gumam mami Morra dalam hati.
"Hanya Sanum kan pertukarannya..??", ucap Rain tanpa gugup sedikitpun.
"Iya...!!, aku hanya membutuhkan Sanum, dalam bentuk manusia ataupun dalam bentuk roh sama saja untukku", ucap mami Morra kegirangan.
"Baiklah..!!, aku akan membawanya ke rumahmu", ucap Rain menghilang dari hadapan mami Morra.
Seketika gema tawa mami Morra menggema di taman rumah sakit.
Membuat orang orang di sekeliling taman menatap aneh padanya.
"Sus..!!, dia pasien rumah sakit jiwa mana sih..??, kok bisa nyasar kesini..??", ucap seorang pasien yang sedang berjemur di taman.
"Iya..!!, dari tadi lari lari sendiri, ngomong sendiri, sekarang ketawa ketawa sendiri", seru seorang pasien lainnya.
"Ih gimana sih..!!, ini kan rumah sakit besar, bukan rumah sakit jiwa, gak aman nih..!!", seru seorang pasien berlalu pergi dari sana.
"Maaf bapak ibuk, lebih baik kita masuk ke dalam, biar saya panggil security buat urus wanita itu", ucap seorang suster mendorong kursi roda pasiennya.
Sayup sayup, mami Morra mendengar perkataan mereka.
Sehingga ia langsung menghentikan tawanya dan menatap tajam ke arah semua orang.
"Orang orang lemah...!!", seru mami Morra langsung menghilang dari tempatnya berpijak dengan disertai angin kencang disekeliling taman.
Membuat semua orang panik dan berlarian.
"Eh..!!, dia ngilang...!!", ucap seorang suster seketika berlari tunggang langgang.
"Ha, hhhaaa, hanntuuuu..!!", seru pasien lain berlari sampai beberapa kali menabrak tanaman dan kursi yang ada di depannya.