Nur

Nur
Geng bocil



Setelah satu minggu lamanya.


Mereka telah siap dengan segala sesuatu untuk melancarkan aksinya.


Hari itu mereka tengah bersiap untuk berangkat menyelamatkan Rain dan mengakhiri keabadian mami Morra.


"Kamu lagi apa Nur..??", seru Fitri muncul di hadapan Nur yang tengah merasuk di raga Sanum.


"Lagi siapin peralatan buat lawan mami Mor", ucap Nur bersemangat.


"Dan kamu Sanum..??, pasti lagi siap siap juga ya..!!", seru Fitri melayang menghampiri roh Sanum yang sedang berada di atas almari baju.


"Enggak...!!, aku lagi ngerasain aja gimana rasanya duduk di atas almari kayak kalian, enak juga ya..!!, semua yang di bawah keliahatan semua", ucap Sanum kegirangan dengan mendongakkan kepalanya ke bawah.


Nur dan Fitri saling berpandangan melihat tingkah Sanum.


"Dasar manusia..!!", seru Fitri menepuk jidatnya.


"Aku denger itu ya...!!, dan aku bisa cubit kamu kali ini..!!", seru Sanum melesat dan sekejam telah berdiri di hadapan Fitri.


"Kak..!!, emang apa asyiknya jadi roh ...??", tanya Nur berkaca di cermin rias kamar itu.


"Ya enak aja..!!, kita bisa tembus tembok, kita bisa kemana aja, kita gak usah makan, gak usah tidur", ucap Sanum dengan santainya.


"Lihat kak..!!, aku malah senang seperti ini, bisa puas memegang bermacam mainan dan puas berdandan", ucap Nur menyisir rambutnya.


"Kau lihat rambutku Sanum...!!", ucap Fitri mengambil sebuah sisir dari tangan Nur dan menyisir rambutnya.


Nur dan Sanum pun terkejut melihat rambut Fitri yang sekali sisir lepas semua dari kepalanya.


"Ihhhhh..!!, kepalamu botak Fit...!!", seru Nur heran.


Bahkan Sanum malah menganga melihat semua rambut yang terjatuh ke lantai.


"Bersyukurlah kamu masih hidup", ucap Fitri mengambil kembali rambutnya yang terjatuh.


"Tapi rambutku gak gitu gitu amat tuh..!!", seru Nur masih merasa heran.


"Ada ya hantu kayak kamu..!!", ucap Sanum memegang kepala Fitri.


Tiba tiba mata fitri merosok hampir jatuh, membuat Sanum terkejut dan segera bersembunyi di belakang raganya.


Fitri pun tertawa dan membenarkan matanya.


"Satu kosong..!!.", seru Fitri terus tertawa hingga giginya hampir copot.


"Ya bisa lah..!!, aku kan hantu senior...!!, suhu ku banyak kali..!!", seru Fitri menormalkan wajahnya menjadi cantik kembali.


"Udah kak, gak usah percaya khayalan Fitri, ia udah bosen 100 tahun jadi roh, makanya nglantur", ucap Nur menutup rangselnya tanda ia telah selesai bersiap.


"Dah siap Nur..??", tanya Fitri melayang mengitari Nur.


"Siap dong...!!, yuk ahhh berangkat..!!", seru Nur membuka pintu dan terkejut melihat Sekar yang tengah berdiri di hadapannya.


"Mbak boleh ikut gak...??", seru Sekar memohon.


"Emang kita mau piknik apa..??", ketus Fitri tak tau bahwa Sekar bisa melihat dan mendengarnya.


"Piknik pun juga boleh...", seru Sekar membuat Fitri menganga.


"Di, di, dia bisa dengar aku..??", ucap Fitri terbata bata.


"Kenalin ini mbak Sekar, pengasuh kami..??", ucap Nur memperkenalkan Sekar pada Fitri.


"Hallo..!!, ini ya yang namanya Fitri..??", ucap Sekar tersenyum mencubit pipi Fitri sampai melar.


Membuat mereka menganga melihat pipi Fitri yang tak karuan bentuknya.


"Makanya jangan pegang pegang..!!", ketus Fitri membenarkan pipinya.


"Aku masih heran ya sama kamu, kok bisa sih badanmu bisa lepas semua gitu.??, copot sana sini...", ucap Sanum heran.


"Ceritanya panjang deh", ucap Fitri singkat.


"Dan..., mbak kok gak terkejut sih Sanum jadi roh..??", ucap Nur heran.


"Bunda kalian dah cerita sama mbak, jadi mbak gak jantungan deh lihat arwah arwah bocil bermunculan disini", ucap Sekar.


"Owh....!!", seru ketiganya kompak.


"Tau gak artinya bocil..??", seru Sekar meledek.


Nur, Sanum, dan Fitri hanya menggeleng tak mengerti, membuat Sekar tertawa dibuatnya.


"Kasih tau gak ya...??, gak aja deh..!!, yuk ah geng bocil, kita berangkat...!!", seru Sekar memandu anak anak untuk menolong Rain.


"Bocil..!!, bocil mulu..!!", ketus Fitri melayang mendahului Sekar.