
"Mbok Dadap....!!, sini mbok...!!", teriak seorang lelaki tergopoh gopoh berlari ke arah raga mami Morra yang baru.
"Kamu manggil aku...!!", seru mami Morra yang sekarang berganti identitas menjadi Mbok Dadap.
"Ya siapa lagi toh mbok...!!, jangan bilang mbok lupa sama nama sendiri...!!", seru lelaki itu masih nampak ngos ngosan.
"Enggak...!!, gak kok, gak lupa", ucap mami Morra.
"Ada yang nyariin mbok", ucap lelaki itu.
"Siapa...??", tanya mami Morra.
"Itu, pak Marsel...!!, yuk ah mbok, kasian nenek lampir gak siuman siuman", ucap lelaki itu segera menarik tangan mami Morra.
"Marsel keluarga Zivana...??, dan nenek lampir itu siapa..??", seru mami Morra penasaran sembari terus mengikuti langkah kaki lelaki itu.
Seketika lelaki itu menghentikan langkahnya.
Ia memegang dahi mami Morra.
"Jangan bercanda deh mbok...!!", seru lelaki itu memandang mami Morra dengan tatapan aneh.
"Oh ya, ya...!!, aku ingat sekarang...!!, yuk jalan", ucap mami Morra tak mau lelaki itu curiga dengan nya.
"Mbok sendiri yang manggil bu Rukmi nenek lampir, mbok sendiri yang lupa", ucap lelaki itu.
"Iyaa, iyaa...!!, bawel...!!", ketus mami Morra.
"Satu lagi, cuma memastikan, nama ku siapa mbok...??", tanya lelaki itu.
Seketika mami Morra kebingungan.
Masak belum satu jam di raga ini sudah harus bunuh orang.., bisa kotor identitas baru ku di mata masyarakat, gumam Mami Morra dalam hati.
"Su,......??", ucap mami Morra masih menerka. nerka nama lelaki berpawakan kurus kering di hadapannya.
"Nah, terus mbok...., betul.....", seru lelaki itu merasa agak lega.
"Sukar....!!", ucap mami Morra.
Membuat lelaki di hadapannya kembali menganga dan seketika berjingkrak jingkrak kesal.
"Sutris mbok...Sutris....!!!", seru lelaki itu sambil mengguncang tubuh mami Morra.
"Hentikan...!!", seru mami Morra kesal.
"Kok galak sih mbok...!!", seru lelaki itu berkacak pinggang.
"Eh...!!, jangan berani berkacak pinggang di depan ku ya..!!, memang siapa kamu...!!", seru mami Morra tak terima.
"Nah, memang aku siapa...??", tanya lelaki itu lagi.
"Siapa...??", seru mami Morra heran, kenapa lelaki di hadapannya sangat berani terhadap wanita yang menjadi raga barunya itu.
"Anak mu mbok...!!", seru lelaki itu duduk di jalanan dan menangis tersedu sedu.
Astaga...!!, jelek amat..!!, gumam mami Morra dalam hati.
"Ya udah, ya udah, mbok kayaknya agak pusing, kamu antar mbok ke rumah pak Marsel aja deh sekarang", ucap nya sembari menolong Sutris untuk bangun.
___
Tak berselang lama.
Mereka telah sampai di kediaman bu Rukmi.
"Permisi pak...!!", seru Sutris mengetuk pintu kediaman bu Rukmi.
"Akhirnya kamu datang Sutris...!!, salam mbok, mari silahkan masuk", ucap Marsel tak merasa curiga dengan wanita di hadapannya itu.
Mata mami Morra terus memandang kesekeliling ruangan.
Ada Fitri di sini, aku harus berhati hati, gumam mami Morra dalam hati sembari menyembunyikan kalung nya di saku celana.
Di kejauhan, Fitri langsung merasakan aura negatif di sekitarnya.
"Kenapa Fit..??", seru Nur.
"Sepertinya aku merasakan kehadiran seseorang yang tak asing bagiku, tapi siapa ya...??", seru Fitri.
"Gak ada siapa siapa Fit, kamu aja kali yang berlebihan", ucap Nur.
Beberapa saat kemudian.
Mami Morra berjalan melewati mereka bersama Sutris dan Marsel.
Tatapan Fitri nampak terfokus pada wanita yang berjalan di depannya.
Sementara mami Morra bertingkah seolah olah ia tak bisa melihat Fitri dan Nur.
"Kenapa Nur...??, kamu merasakan apa yang ku rasakan..??", tanya Fitri memperhatikan Nur yang sama seperti dirinya, memandang mbok Dadap yang melewati mereka tanpa berkedip.
"Tubuhnya gede banget Fit...!!", seru Nur membuat Fitri menepuk jidatnya.
"Eh tunggu...!!", seru Nur ikut menghilang bersama Fitri.
Di dalam kamar, bu Rukmi masih terbaring di ranjangnya.
Terlihat Zivana dan Sanum terus memantau kondisinya.
"Nenek udah jahat ke kita, kenapa bunda dan ayah masih merawatnya..??", ucap Sanum.
"Sayang...!!, sejahat jahatnya dia, dia itu tetap orang tua ayah, dan itu berarti juga orang tua bunda dan masih nenek kamu, mungkin kita sudah sangat sakit hati padanya, tapi kita harus tetap menolongnya demi rasa kemanusiaan, Sanum tega ninggalin nenek saat tak sadar seperti itu..??", seru Zivana mengelus kepala sang anak.
Sanum hanya menggeleng, seakan ia mengerti apa yang sedang bundanya sampaikan padanya.
"Anak pintar", ucap Zivana mengecup dahi Sanum.
Tak berapa lama.
Pintu kamar di buka dari luar.
"Sayang...!!, kenalkan ini mbok Dadap dan anaknya", ucap Marsel.
"Tolong bantu mami kami", ucap Zivana.
"Saya usahakan", ucap mami Morra masih dengan aktingnya.
"Sutris, bawa mereka keluar, mbok coba tolong bu Rukmi", ucap mami Morra.
"Tolonglah mbok, karna dokter pun sudah tak bisa membuatnya siuman", ucap Marsel mengajak Zivana dan yang lainnya keluar dari kamar itu.
Kini tinggal Mami Morra dan bu Rukmi yang ada di ruangan itu.
Mami Morra tersenyum sinis di samping bu Rukmi yang tak sadarkan diri.
"Rukmi, Rukmi..!!, syok kok sampai koma", ucap mami Morra.
Kemudian ia memandangi tubuh bu Rukmi dari atas hingga bawah.
Lalu berganti memandangi tubuh barunya dari atas ke bawah di depan cermin.
"Ih, jijik aku lihatnya...!!", seru mami Morra melihat raganya di cermin.
Tiba tiba sebuah ide terlintas di pikiran nya.
"Rukmi memang sudah tua, tapi gak tua tua amat sih...!!, dia juga merawat tubuhnya dengan baik", ucap mami Morra mendekat ke arah tubuh bu Rukmi.
"Gimana kalau raga ini untukku saja ya Rukmi..??, kamu tak keberatan kan...??", ucap mami Morra seketika memegang dahi bu Rukmi.
Membuat roh bu Rukmi terpental keluar.
"Ada apa denganku..??", seru bu Rukmi terkejut melihat dirinya dalam bentuk roh.
"Tenanglah Rukmi...!!", ucap mami Morra.
"Mbok Dadap...??", ucap bu Rukmi.
"Aku mami Morra..!!, sudah muak aku di panggil mbok sejak tadi", seru mami Morra membuat bu Rukmi ketakutan.
"Apa yang mami inginkan..??", tanya bu Rukmi melihat raganya yang tergeletak di ranjang.
"Aku mau tubuhmu..!!", seru mami Morra tertawa.
"Jangan mi, aku mohon...!!", seru bu Rukmi bersujud di depan mami Morra.
"Semua yang ku inginkan harus terpenuhi", ucap mami Morra mengeluarkan kalungnya dan menyeret bu Rukmi masuk ke dalam kalung.
"Jangan...!!", seru bu Rukmi sebelum akhirnya terkurung di dalam kalung.
"Nah, itulah tempat mu sekarang", ucap mami Morra mencoba kembali memegang tubuh bu Rukmi dan masuk ke dalam raganya.
Seketika, tubuh mbok Dadap tersungkur ke lantai.
Brukkk...
"Astaga..!!, suara apa itu...??", seru Marsel bergegas masuk ke dalam kamar bu Rukmi bersama yang lain.
Mereka amat terkejut melihat mbok Dadap sudah tergeletak di lantai.
"Mbok...!!", seru Sutris mencoba membangunkan mbok Dadap.
Dengan sigap Marsel mencoba memeriksa nadi mbok Dadap.
Ia lalu memandang ke arah Zivana dengan menggelengkan kepalanya.
Seketika Zivana mengerti apa yang tengah di sampaikan suaminya.
"Innalillahi", ucap Zivana merangkul Sanum.
"Apa itu benar pak...??", seru Sutris syok.
"Saya turut berduka", ucap Marsel mencoba menenangkan Sutris yang seketika menangis histeris memeluk tubuh mbok Dadap.