Nur

Nur
Nikmat sekali....!!!



Brukkkk.......!!!, ceklekkkkkk...!!


Suara pintu di tutup dan di kunci dari dalam.


Nampak Sanum sedang berusaha mengatur nafasnya setelah berlari cukup jauh dari ruang makan ke kamarnya.


"Huhhh......!!!", desah Sanum sembari mengelap keringat didahinya.


Segera ia membungkuk dan menutup satu matanya, ia pandangi lubang kunci dari dalam kamarnya.


Ia perhatikan dengan seksama, berharap nenek Rukmi tak mengejarnya dan memaksanya makan masakannya.


Teringat waktu ia pernah berkunjung ke rumah nenek Rukmi dan tak sengaja mencicipi makanan di meja makan karna begitu laparnya.


"Ihhhh...!!", ucap Sanum mengingat rasa itu sampai sekarang.


"Untung setiap kesana nenek tak menawari aku makan, ada bagusnya juga ia tak suka denganku", ucap Sanum terus mengamati lubang kunci kamarnya.


"Kamu lagi apa...??", ucap Nur seketika membuat Sanum terkejut dan kelabakan.


"Astaga....!!", seru Sanum mengelus dadanya yang berhasil dikejutkan oleh Nur.


"Gpp, aku cuma ingin langsung ke kamarku yang nyamannnnnnn ini", ucap Sanum berjalan ke ranjang dan langsung melompat lompat diatasnya.


Nur mengamati keanehan dari Sanum.


Lalu tak berapa lama, Nur merasakan ada seseorang yang datang.


"Ada yang datang...!!", seru Nur.


"Siapa....??, duhhhh, kamu bisa masuk ke ragaku gak...??, bentar aja", seru Sanum kebingungan.


"Kamu tau sendiri kan Sanum, kita berdua baru pulih, aku gak mau ada apa apa lagi nantinya", ucap Nur membuat Sanum makin kebingungan harus apa.


Sesaat kemudian, ia berlari menghalangi pintu dengan badannya setelah gagang pintu kamarnya bergerak.


"Siapa...??", ucap Sanum gelisah.


"Sayang...!!, kamu kenapa sih..??, buka dong", seru Zivana dari luar kamar Sanum.


"Sanum capek bunda, Sanum istirahat dulu ya", ucap Sanum berharap bundanya pergi dari sana.


"Bentar aja yukk...!!", ucap Zivana memohon.


"Kenapa sih...??, bunda manggil tuh", seru Nur membuka kunci pintu kamar dengan kekuatannya.


"Jangan...!!", seru lirih Sanum kebingungan.


"Terlambat...!!", ucap Nur seketika menghilang dari hadapan Sanum sesaat setelah pintu terbuka.


"Nah, gitu dong..!!, yuk kita keluar", ucap Zivana menggandeng Sanum menuju ke ruang makan.


Setelah berbulan bulan tak makan, dan sekarang setelah aku bisa makan, langsung harus makan masakan nenek Rukmi,...??, ya ampun....!!, bisa masuk rumah sakit lagi aku, gumam Sanum di sepanjang perjalanan menuju ruang makan.


Setelah mereka sampai di meja makan.


Mata Sanum terus memandang kesekeliling.


Marsel dan Zivana menahan tawa saat melihat tingkah Sanum.


Mereka tau kalau Sanum sangat tak ingin makan jika itu masakan dari nenek Rukmi.


"Yuk makan sayang...!!", seru Zivana menyiapkan makanan untuk Sanum beserta semua lauk kesukaannya.


"Enggak ah bunda, Sanum masih kenyang", ucap Sanum mendorong piring didepannya untuk menjauh sejauh mungkin dari hadapannya.


"Makan dong sayang, kayak ayah nih..!!", ucap Marsel menyantap sepiring nasi dihadapannya dengan sangat lahapnya.


"Yah....., gak muntah...??", seru Sanum mual.


Membuat Zivana dan Marsel tak bisa menahan tawanya lagi.


"Kamu tuh ya, sini sini, bunda suapin...", seru Zivana menyodorkan suapan pertama pada Sanum.


"Gak mau bunda ....!!", seru Sanum menghindar dari sang bunda tetapi akhirnya Zivana berhasil memasukkan sesuap makanan ke mulut Sanum.


Dengan rasa takut ia mulai mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


Tiba tiba ia terdiam dan terus mengunyah makanan itu.


"Enak ...??", tanya Zivana.


"Ya ampun bunda.......nikmat sekali.....!!", seru Sanum sambil mengusap air matanya, ia menangis karna begitu rindunya akan masakan nikmat macam itu.


Zivana dan Marsel lagi lagi tertawa melihat reaksi Sanum.


Begitupun Nur.


Yang sejak tadi duduk di samping mereka.


Zivana pun tersenyum pada Nur dan meraba tangan mungil anaknya itu.


Membuat Nur merasa nyata di tengah tengah keluarganya, walaupun hanya Sanum dan Zivana yang bisa melihatnya kala itu.


Tak berapa lama, bu Sara keluar dari dapur.


"Kejutan.....!!", seru bu Sara, niat hati memberi kejutan untuk Sanum, tapi malah ia yang terkejut.


"Lahhh...!!, kok udah abis aja makanannya...??", seru bu Sara menaruh kue buatannya di meja makan sambil terheran heran mengamati meja makan yang telah kehabisan penghuninya.


"Enak nek...!!", seru Sanum sesenggukan sambil terus makan.


"Enak tapi kamu nangis...??", ucap bu Sara keheranan.


Tanpa menjawab pertanyaan sang nenek, tangan Sanum langsung menyeret kue yang baru matang dihadapannya.


"Makasih ya nek", ucap Sanum segera bersiap memotong kue buatan sang nenek.


Sang nenek pun tertawa dibuatnya.


"Ya ampun cucuku....!!", seru bu Sara tertawa bersamaan dengan Zivana dan Marsel, juga Nur yang tak nampak oleh bu Sara dan Marsel.