
Marsel masih termenung di halaman rumah masa kecil nya, rumah yang tak lain ialah kediaman bu Rukmi.
Ia tatap lekat lekat rumah masa kecil nya itu.
Kini memori masa masa bersama sang mami hanyalah tinggal kenangan.
"Mami memang selalu tak sependapat dengan kami, tapi tulus dari hati, kami sangat merindukan mami, terutama bagi ku mi", ucap Marsel memunculkan memori masa kecil dan remaja nya saat ia masih hidup bersama kedua orang tuanya.
Sementara di dalam rumah.
Zivana dan beberapa orang pekerja sedang berberes perabotan rumah.
Setelah tepat 40 hari kepergian bu Rukmi, mereka memutuskan untuk menjual rumah itu.
Terlebih lagi, pak Broto masih terjebak dalam wujud patung.
Berbagai cara mereka lakukan untuk membuat pak Broto normal kembali, tapi usaha mereka sia sia.
Di tambah, tak ada lagi Fitri yang selalu memiliki solusi dan cara untuk memecahkan permasalah mereka.
"Buk, patung ini di tinggal atau di angkut...??", tanya seorang pekerja jasa angkut barang.
"Iya mas, angkut aja, itu sangat berharga bagi kami", ucap Zivana sembari membereskan barang barang kesayangan bu Rukmi.
Patung pak Broto segera di angkut menuju ke truk barang.
"Ini barang terakhir bos", seru seorang pekerja pada atasannya.
"Ya udah, kita istirahat dulu, udah di buatin kopi tuh di ruang tamu", ucap nya sembari bergegas masuk ke dalam rumah bersama para pekerja lainnya.
Tak berselang lama, Nur dan Sanum mencoba mendekati patung itu.
"Aku tak tega melihat kakek seperti itu", ucap Sanum mengelus patung kakek nya.
"Pasti ada cara untuk mematahkan mantra mami Morra", seru Nur tak berhenti berfikir bagaimana cara menolong sang kakek.
Tiba tiba dia teringat akan ambisi ambisi dari mami Morra.
Ia kemudian memandang ke arah telapak tangannya.
Ia pandang tiga garis kekebalan yang ada di tangannya.
"Mungkin, garis ini bisa membantu...??", seru Nur.
"Bagaimana kamu tahu..??", tanya Sanum ragu.
"Mami Morra sangat menginginkan garis ini, pasti garis ini banyak sekali kegunaannya, kamu ingat saat kamu menggunakan garis itu untuk menyelamatkan aku dari masa kritis dan menukar kembali kehidupan kita
...??", ucap Nur merasa yakin dengan opini nya.
Lalu Sanum terdiam dan berfikir.
Aku kini masih memiliki dua garis tersisa, sedangkan Nur masih memiliki tiga garis, kami masih belum tahu berapa garis yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kakek, gumam Sanum dalam hati.
Seketika Nur menerka apa yang sedang di pikirkan Sanum.
Ia tak mungkin membiarkanku memberikan garis ini, gumam Nur dalam hati sembari bergegas ingin memegang tangan patung sang kakek.
"Jangan...!!", seru Nur tapi terlambat.
Sekilas cahaya menyilaukan mata telah bersinar di hadapan mereka.
Dalam sekejap, Sanum pingsan dan tersungkur ke tanah setelah memegang tangan sang kakek.
Nur segera mencoba membuat Sanum siuman.
Tapi tiba tiba ia lebih di kejutkan dengan pudarnya patung sang kakek yang mulai berubah menjadi manusia kembali.
"Masyaallah Sanum...!!, ayah...!!", teriak Zivana segera berlari keluar rumah bersamaan dengan Marsel saat mendengar teriakan Nur, ia amat terkejut melihat Sanum telah pingsan dan ayah mertua telah kembali seperti semula.
"Bunda, tolong Sanum bunda", seru Nur menangis tersedu sedu.
Sementara sang kakek masih terkejut memandangi tubuhnya yang kembali pulih.
Marsel segera menggendong Sanum dan menatap ke arah sang ayah.
"Ayah telah pulih ...!!, ayo kita masuk sama sama yah", seru Marsel sembari menggendong Sanum.
"Ayo yah", ucap Zivana memegang tangan pak Broto.
Seketika tatapan pak Broto berubah menjadi ketakutan.
"Menjauh kalian...!!!, aku sudah lihat semuanya..!!, kalian itu bukan manusia normal..!!, aku melihat semuanya saat aku mematung..!!, menyingkir...!!, kalian setan...!!", teriak pak Broto seakan kehilangan akalnya saat itu.
Ia segera berlari tak karuan dengan amat ketakutan pergi dari rumahnya.
"Sayang..!!, kamu urus Sanum ya, aku harus kejar ayahku, kamu mengerti kan", ucap Marsel memindahkan Sanum ke dekapan Zivana.
"Iya mas, cepat kejar ayah..!!", seru Zivana gelisah.
Marsel segera berlari mengejar sang ayah.
Sedangkan dari dalam rumah, para pekerja dengan tergopoh gopoh berlari keluar rumah mencari sumber teriakan.
"Ada apa buk...??, trus anaknya kenapa itu...??", seru seorang pekerja bergegas menolong Zivana membawa Sanum masuk ke dalam rumah.
Nur bergegas mengikuti kemana Sanum di bawa.
"Trima kasih ya mas", ucap Zivana mengompres Sanum di kamarnya.
"Kami keluar dulu ya buk", ucap para pekerja keluar kamar meninggalkan Zivana dan Sanum.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nur..???", tanya Zivana sembari terus mengompres Sanum agar ia segera stabil kembali.
Seketika Nur memegang telapak tangan kiri Sanum.
Begitu terkejutnya Zivana melihat ada dua goresan luka di sana.
"Sanum memakai semua garis kekebalannya untuk menolong kakek bunda, itu yang membuatnya begini", ucap Nur menyesali keputusan Sanum.
"Astagfirullah nak..!!", ucap Zivana menangis sembari memeluk Sanum yang masih belum siuman.
Harusnya aku yang melakukannya kak, biarkan aku lebih cepat meninggalkan alam ini, gumam Nur dalam hati.