
"Jangan lari Fit....!!", teriak mami Morra terus mengejar Fitri yang terus menjauh dari kediaman bu Rukmi.
"Ayo kejar aku kalau bisa...!!", seru Fitri terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Hingga akhirnya, mami Morra berhasil menghadang Fitri.
"Kena kau..!!", ucap mami Morra tersenyum sinis pada Fitri.
"Oh ya..??", ucap Fitri melesat kembali.
Kali ini dirinya melesat tepat di hadapan mami Morra dan melewati raga bu Rukmi yang di kini masih di kuasai roh mami Morra.
"Arkkkk..!!", teriak mami Morra melengking merasa kesakitan karna raga nya di terobos paksa oleh Fitri.
"Sekarang siapa yang memimpin...!!", seru Fitri meledek mami Morra.
"Memimpin .. ??", ucap mami Morra sembari mengusap bibirnya yang berdarah akhibat Serangan dari Fitri.
Fitri lalu mengangkat satu tangannya.
Membuat sebuah kalung teruntai dengan kilauan nya.
Mata mami Morra seketika membulat sempurna.
Ia begitu terkejut melihat kalung nya telah berada di tangan Fitri.
Ia meraba lehernya dan tak menemukan kalung istimewanya di balik kerah baju nya.
"Bagaimana mungkin...??", seru mami Morra syok.
"Aku lebih lincah dan akal ku lebih encer dari wanita tua seperti mu", seru Fitri terus meledek mami Morra.
"Kembalikan...!!", teriak mami Morra marah.
"Aku sudah mengincar kalung ini berpuluh puluh tahun lamanya, dan sekarang sudah ada di tanganku, kenapa juga aku harus memberikannya padamu..??", ucap Fitri memainkan kalung itu di tangannya.
"Jangan...!!", seru mami Morra khawatir kalung itu jatuh dan retak, apalagi jika sampai hancur.
Seketika raut wajah Fitri berubah menjadi lebih serius.
Ia menatap tajam wajah ibu kandungnya itu.
"Ini adalah kunci dari segalanya, dengan musnahnya kalung ini, berakhir pula ambisi ambisi jahat mu itu", ucap Fitri meremas kalung di tangannya.
"Aku sudah bertahan sejauh ini, bagaimana mungkin anak seperti mu bisa menghancurkan semuanya..!!!!", teriak mami Morra menyerang Fitri dengan kekuatannya.
Fitri menghindar dan terus menghindar dari serangan mami Morra.
Sesekali ia membalas serangannya dengan kekuatan yang ia punya.
"Kapan kamu sadar mi...??, dosa mu sudah terlalu banyak", ucap Fitri terus berusaha melawan mami Morra.
Duar.......!!!.
Mereka sama sama terpental ke tanah, kekuatan mereka tidak lebih unggul satu sama lain.
Fitri yang badannya bengkok tak beraturan dengan cepat ia pulihkan.
Tetapi beda dengan mami Morra, raga manusianya tidak kuat menahan serangan serangan Fitri.
Mengakhibatkan ia muntah darah dan merasakan remuk di dada.
"Uhuk, uhukk...!!", batuk mami Morra sembari mencoba terus berdiri dan melawan Fitri.
"Sudahlah mi, terima saja kekalahan mu", ucap Fitri menjatuhkan kalung mami Morra ke tanah dan menginjaknya.
"Ahhh...!!, hentikan...!!", teriak mami Morra kesakitan.
Fitri menatap lekat lekat wajah mami Morra yang kesakitan.
Tak terasa matanya menjadi berair.
Semoga di kelahiranku berikutnya, mami tak melakukan kesalahan yang sama, aku tak menyesal menjadi anak mu, aku cuma menyesal dengan ego dan ambisi mu itu, sehingga membuat naluri mu sebagai seorang ibu bahkan manusia hilang tanpa sisa, gumam Fitri dalam hati sembari memejamkan matanya dan mengangkat kembali satu kaki nya, ia telah siap mengakhiri semuanya.
"Selamat tinggal mi", ucap Fitri menginjak lagi kalung itu untuk kedua kali nya dengan cukup keras.
"Tidak...!!", teriak mami Morra merasa amat kesakitan.
Seakan ada tarikan yang memaksanya untuk keluar dari raga bu Rukmi.
"Panas...!!", teriak mami Morra saat roh nya terlepas dari raga bu Rukmi.
Membuat tubuh bu Rukmi tergeletak di tanah dan roh mami Morra melebur ke udara dan hilang tak tersisa.
"Uhuk..!, uhuk...!!", Fitri terbatuk batuk sampai terduduk di tanah.
Dari mulutnya pun keluar darah, dan wajah nya berubah menjadi pucat pasi.
Lalu dari sisa kalung yang hancur, keluar roh bu Rukmi.
Ia begitu syok melihat raga nya tergeletak tak berdaya di tanah.
Ia bahkan lebih syok lagi melihat Fitri yang terlihat mengenaskan, pucat, berdarah dan lemas di hadapannya.
"Si, si, siapa kamu....??", seru bu Rukmi ketakutan.