Nur

Nur
Saat fikiran negatif itu muncul..



"Sayang...", ucap Marsel berjalan mendekati Zivana yang sedang membuatkan bubur untuk bu Rukmi.


"Iya mas, kemarilah..!!, aku ada di dapur...!!", seru Zivana dari arah dapur.


"Bubur mami udah siap...??", tanya Marsel.


"Udah nih mas, tinggal nunggu dingin aja", ucap Zivana sambil membawa semangkok bubur menuju kamar bu Rukmi.


Marsel pun ikut berjalan mengikuti Zivana menuju kamar bu Rukmi.


Pintu perlahan di buka dan senyum Zivana langsung mengembang ke arah bu Rukmi.


Walaupun bu Rukmi sudah sangat jahat kepadanya, Zivana terus merawat bu Rukmi dengan telaten.


Sementara Marsel.


Tanpa berprasangka apapun pada istrinya, Marsel pun tak memikirkan hal buruk apapun tentangnya saat itu.


"Pagi mi, sarapan dulu yuk..!!", ucap Zivana mencoba duduk di sebelah mertuanya dan mulai menyuapinya.


Sepertinya Marsel masih tak terpengaruh dengan luka ku kemarin, gumam mami Morra dalam hati seketika memandang bubur yang saat itu menjadi sarapan pagi nya.


Sesaat kemudian, mami Morra berpura pura tersedak.


"Astaga mi...!!", seru Marsel mencoba mengelus dan menepuk punggung bu Rukmi.


"Ya ampun...!!!, airnya habis, aku ambilin dulu", seru Zivana segera bergegas mengambil air di dapur.


Dengan terus berakting.


Bu Rukmi menggerakkan tangannya secara sembunyi sembunyi dan memantrai bubur buatan Zivana.


Mami Morra terus saja mendramatisasi aktingnya dan mencoba menatap bubur di hadapannya dengan tatapan seakan ketakutan, untuk memancing rasa penasaran Marsel saat itu.


"Mami kenapa...??, bubur...??", seru Marsel mencoba menerjemahkan apa yang ingin disampaikan sang mami padanya.


Lola banget sih....!!, pegel nih akting mulu, gumam Mami Morra sedikit kesal.


Karna penasaran dengan tingkah sang mami.


Marsel pun berinisiatif mencoba bubur buatan Zivana.


Ya, ya, ya..!!, cicipi itu..!!, gumam bu Rukmi dalam hati.


Saat suapan pertama berhasil masuk ke mulut Marsel.


Ia segera meludahkan nya di tempat sampah.


Kok asin banget..!!, padahal masakan Zivana gak pernah seperti ini, gumam Marsel dalam hati, sembari mulai muncul tanda tanya di benaknya pada sang istri.


"Pasti ini alasan kenapa mami tersedak saat makan barusan", ucap Marsel mulai memiliki fikiran negatif pada Zivana.


"Ini minumnya mi..!!", seru Zivana dengan tergesa gesa masuk ke dalam kamar dan memberi mertuanya minum.


Tatapan Marsel masih tertuju pada Zivana.


Ia antara percaya dan tidak dengan argumennya sendiri.


Menantu berbakti seperti ini, mana mungkin...??, gumam Marsel dalam hati masih mencoba menepis fikiran negatifnya tentang sang istri.


Kenapa Marsel tak marah sih...!!, gumam mami Morra dalan hati merasa kesal karna Marsel sulit sekali di pengaruhi.


"Sayang...!!, kamu udah cicipi rasa bubur nya...??, mungkin tak sesuai dengan selera mami...??", ucap Marsel mencoba memgetahui apakah Zivana sengaja atau memang tak tahu rasa bubur ayam buatannya saat itu.


"Kenapa memang nya mas..??", seru Zivana heran.


"Enggak kok, gak apa apa ...", ucap Marsel singkat.


Karna melihat raut wajah sang suami yang nampak tak puas, Zivana segera mengambil semangkok bubur itu dan mencoba mencicipinya.


Sebelum suapan itu masuk ke mulutnya, mami Morra berhasil memantrai bubur itu kembali.


"Enak tuh mas..!!, sesuai dengan kesukaan mami", seru Zivana mencoba menyuapi bu Rukmi lagi.


Tapi mami Morra mencoba menutup mulutnya dan memberi kode bahwasannya hanya ingin di suapi oleh sang anak yaitu Marsel.


"Ya udah kalau gitu aku cuci piring dulu ya mas", ucap Zivana berjalan keluar dari kamar bu Rukmi.


Karna penasaran.


Saat Zivana telah pergi, Marsel mencoba mencicipi bubur buatan istrinya.


Lagi lagi, sebelum sempat masuk ke mulut Marsel.


Mami Morra mencoba memantrai lagi bubur buatan Zivana menjadi kembali terasa asin.


"Emm, tuh kan..!!, lidah ku gak salah...!!, ini memang asin..", seru Marsel tak percaya akan semua itu.


Seketika mami Morra meneteskan air mata buaya nya di depan Marsel dan memulai lagi aktingnya.


"Mami gak apa apa kan...??, ada Marsel di sini", ucap Marsel sembari memeluk mami nya sembari memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Zivana.


Sementara mami Morra tersenyum melihat kebingungan di raut wajah Marsel saat itu.


Jika kelopak mulai berjatuhan, tidak akan ada lagi yang namanya bunga yang utuh, bunga itu akan habis seperti yang akan terjadi pada hubungan kalian, gumam Mami Morra dalam hati merasa rencananya mulai berhasil.