Nur

Nur
Garis tangan



Melihat kedatangan Sanum dan Sekar.


Zivana segera berlari dan memeluk Sanum, rasa gelisahnya langsung sirna bersamaan dengan kepulangan Sanum ke rumah.


"Ya Allah nak..!!, alhamdulillah kalian selamat", ucap Zivana memeluk erat Sanum di dekapannya.


"Sanum gpp kok bunda, bunda gak usah khawatir", ucap Sanum mengusap raut wajah Zivana yang nampak terlihat tegang.


"Gimana nak...??, berhasil..??", tanya Zivana harap harap cemas.


"Rain dan ketiga roh lainnya berhasil lolos bunda, tapi...!!", ucap Sanum agak kecewa.


"Kenapa Sanum...??", seru Zivana takut jika Nur celaka dalam misi penyelamatan itu.


"Kami tak bisa mengalahkan mami Morra, bahkan mendekatinya saja kami tak berani", ucap Sanum menundukkan pandangannya.


"Ya sudah, kita pikirkan cara lainnya nanti, yuk kita masuk dulu", ucap Zivana menggandeng Sanum masuk ke dalam rumah.


"Yang lainnya kita masuk yuk..!!", ucap Sekar mengajak Nur beserta teman temannya untuk masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian.


Saat Zivana meninggalkan Sanum sendiri di kamar.


Sekar dan yang lainnya masuk menemuinya.


"Hay Sanum...!!", seru Rain dengan wajah imutnya duduk di samping ranjang Sanum.


"Hay kalian..!!, kalian suka rumahku..??", seru Sanum mendekati ketiga roh yang telah bebas setelah terkurung lama di dalam kalung mami Morra.


"Suka sekali, rumahmu bagus..!!, seingat kami, di masa kami dulu rumah rumah tidak ada yang sebesar ini", ucap salah satu roh.


"Kenalkan Sanum, aku Dita, ini Sarron, dan ini resi, kami berterima kasih kalian sudah membebaskan kami dari kalung itu", ucap salah satu dari mereka sangat berterima kasih pada Sanum dan Nur.


"Sama sama, kalian juga bisa tinggal disini kok mulai sekarang..!!", ucap Sanum ikut senang dengan kebebasan mereka.


Mendengar Sanum mengajak para roh tinggal di rumahnya, Sekar seakan memberi isyarat agar tidak melakukan itu.


Karna sudah banyak roh yang berkeliaran di rumah itu.


"Kami senang kamu menawarkannya Sanum, tapi kami tak ada lagi alasan di dunia ini, kami harus pergi", ucap Dita mewakili teman temannya.


"Mereka benar kak, mereka memang harus pergi", ucap Nur memberi pengertian pada Sanum.


"Hati hati ya kalian, titip salam buat penjaga alam baka, cepat lambat Rain juga akan menyebrang ke sana", ucap Rain sesenggukan melepas ketiga temannya dengan tak lepas dari tingkah konyolnya.


Kemudian, Dita, Sarron dan Resi bergantian memegang tangan Sanum dan Nur secara bergantian.


Saat mereka berpegangan ada sebuah cahaya memercik di tangan mereka.


"Semoga pemberian kami bisa membantu kalian memusnahkan mami Morra", ucap Sarron kemudian memudar bersama Dita dan Resi.


"Wah...!!, coba dong apa itu..!!", seru Rain penasaran dan menarik tangan Nur.


"Ihhhh gak ada..!!", seru Nur menyembunyikan tangannya.


"Ihhh pelit, liat dong..!!", seru Rain terus mengejar Nur sampai taman belakang rumah.


Fitri berdiri di hadapan Sanum, ia melihat Sanum yang masih terfokus melihat telapak tangannya.


"Apa itu Fitri..??, apakah berbahaya untuk manusia seperti Sanum..??", seru Sekar memperhatikan tiga garis yang membekas di telapak tangan Sanum.


"Itu garis kekebalan, dengan itu kamu tak akan mempan terkena ilmu hitam mami Morra", ucap Fitri langsung menghilang dari hadapan Sanum dan Sekar.


Lalu di tempat lain.


Fitri muncul kembali dan tengah berdiri di depan rumah lamanya.


"Disinilah semua bermula", ucap Fitri menatap lekat lekat rumah masa kecilnya bersama mami Morra.


Ia mengenang semua yang bisa ia kenang.


Lalu ingatannya ia paksa berhenti saat ia mengingat masa keji ibu kandungnya terhadapnya.


"Ketiga garis itu telah berada di tangan yang tepat, jika mami musnah, akupun musnah", ucap Fitri mengingat teman temannya dan mengingat senda guraunya bersama Sanum, Nur dan Rain.


Ini semua akan segera dimulai, masanya telah datang, akhirnya aku akan lepas dari beban ku di dunia ini, gumam Fitri menghilang entah kemana.