Nur

Nur
Ide gila



Sanum termenung di sofa rumah nenek Rukmi seorang diri.


Memegangi kotak musik yang kini bersenandung merdu di pangkuannya.


Ia mencoba menikmati alunan musiknya dan seakan tengah memikirkan sesuatu.


Ayah dan bundanya sedang berada di kamar sang nenek.


Sudah cukup lama nenek Rukmi tak kunjung sadar sejak mendapat amukan dari Nur.


Semarah marahnya mereka padanya, mereka tetap merawat bu Rukmi dan memanggilkanya seorang dokter di saat kondisinya lemah seperti itu.


"Nur...!!", seru Sanum amat bahagia saat melihat Nur muncul kembali bersama Fitri setelah kejadian itu.


"Hai kak", ucap Nur memegang kedua tangan Sanum.


"Aku takut kamu pergi tanpa pamit...!!", seru Sanum menangis sesenggukan.


"Mungkin kamu masih berat meninggalkan keluargamu ya Nur..??", ucap Fitri.


Nur hanya mengangguk sembari meneteskan air mata.


Alasannya di dunia sudah terjawab sudah, mencari penyebab kematiannya, tapi kini alasan lain muncul kembali, yaitu...., ia tak sanggup berpisah dengan keluarganya.


Nur mendekati kotak musik itu lalu memeluknya erat erat.


Ia menangis sejadi jadinya saat itu.


"Terima kasih atas bantuannya buk", ucap Nur merasa berhutang pada kotak musik itu.


"Apakah aku bisa mengutarakan sesuatu...??", tanya Sanum.


"Apa itu...??", seru Fitri.


"Mungkin ini sebuah ide gila, tapi jika kotak musik itu bisa membawa kita ke masa lalu, mungkinkah dia bisa merubah masa lalu..??", seru Sanum membuat ketertarikan Nur muncul.


"Bisakah semua itu ....??", tanya Nur sembari menatap kotak musik di pangkuannya dengan penuh harap.


"Tidak, tidak...!!, itu terlalu berbahaya..!!, dan tidak pernah dilakukan sebelumnya", seru Fitri menepis ide gila itu.


"Tapi jika itu bisa kita lakukan, aku bukan hanya bisa mencegah tragedi di saat kelahiranku, tapi aku juga bisa menolongmu Fit..!!", seru Nur bersemangat.


"Kamu mau menolongku dengan cara apa...?, aku tidak butuh ditolong, inilah takdirku...!!, dan selamanya akan begitu", ucap Fitri tak sependapat dengan Nur dan Sanum.


"Buk...!!, itu bukan ide gila kan...??", tanya Nur penuh harap pada kotak musik dihadapannya.


Lalu, sebuah wujud keluar dari kotak musik itu.


"Saranku sebaiknya jangan...!!", ucap penghuni kotak musik itu yang tak lain adalah nenek Fitri.


"Kenapa begitu...??, ibuk juga ingin menolong Fitri kan...??", seru Nur bersikeras dengan keinginannya.


"Resikonya sangat besar, masa lalu yang di rubah terkadang membuat masa depan menjadi berantakan", ucap wanita itu memperingatkan.


"Tapi hanya itu satu satunya cara agar aku bisa hidup dan Fitri tak merasakan kekejaman ibunya", ucap Nur terus membujuk wanita itu.


"Aku sudah memperingatkan..!!, kembalilah jika kamu berubah fikiran", ucap wanita itu kembali masuk ke dalam kotak musik nya.


"Meskipun kamu menolongku Nur, aku sudah pasti telah mati di masa ini, karna terpaut usiaku yang lebih dari 100 tahun, aku tak akan pernah mengenalmu dan Sanum", ucap Fitri merasa itu semua sia sia saja.


"Yang terpenting, kamu tak mendapat penyiksaan itu Fit", ucap Nur sangat yakin dengan keputusannya.


"Wujudkan keinginanku buk..!!, bawa aku di masa Fitri, dan kembalikan aku ke masa dimana bundaku sedang mengandungku", ucap Nur membuka kotak musik itu.


Seketika semua berubah.


Dimensi lain telah terbuka.


Sanum dan Fitri tak ikut dalam perjalanannya kali ini.


Nur harus berjuang sendiri akan keinginannya.


Sesuai keinginan Nur, ia tiba dimasa kehidupan Fitri.


Saat pisau hampir mengenai tubuh Fitri, dengan sigap Nur mengeluarkan semua kekuatannya, membuat sebuah angin kencang yang membuat mami Morra kelabakan dan pingsan.


"Siapa kamu...??", seru Fitri ketakutan.


"Tenanglah, yang penting kamu aman...!!, sekarang pergilah...!!, selamatkan dirimu..!!", seru Nur yang merasa lega telah menyelamatkan hidup Fitri.


Lalu sesuai keinginan kedua dari Nur.


Kotak musik membawa Nur masuk ke dalam masa dimana ia masih berada di kandungan sang bunda.


Ia tersenyum sekali lagi, melihat bundanya amat menyayanginya semasa di dalam perut.


Malam di saat tragedi itu.


Nur mencoba membersihkan tumpahan air yang akan membuat sang bunda terpeleset.


Ternyata usahanya tak sia sia.


Sang bunda selamat dari insiden itu dan berhasil melahirkan dengan Normal.


2 bayi yang sehat dan cantik telah lahir kedunia.


"Bunda...!!, aku hidup..!!", seru Nur menangis bahagia.


"Bersiaplah untuk masuk ke raga barumu", suara wanita itu bergema di telinga Nur.


Nur seakan mengerti dan mengangguk tanda setuju.


Ia lalu memejamkan mata dan dalam sekejap, ia telah hidup dalam raga miliknya sendiri, di dalam dekapan sang bunda dan di tengah tengah kebahagiaan keluarga besarnya.


Mungkinkah semua itu akan benar benar merubah takdir..??.


Atau itu semua akan memunculkan sebuah cerita baru...??.