
Semua orang nampak amat tak sabar menunggu kabar dari dokter yang telah keluar dari ruang icu.
Pasalnya, raut wajah sang dokter saat itu seakan mengatakan hal yang tak ingin mereka dengar.
"Bagaimana anak saya dok..??", seru Zivana mengguncang tangan dokter yang berdiri di hadapannya.
Dokter terdiam seakan bingung ingin berucap apa terhadap keluarga pasiennya kala itu.
"Katakan semuanya dok..!!, kami mendengarkan", seru Marsel memegang kedua pundak sang dokter.
"Begini pak, buk, keadaan anak kalian memang di picu salah satunya oleh alergi di tubuhnya", ucap dokter mulai menjelaskan apa yang terjadi.
Tatapan Zivana langsung mengarah pada Sekar.
Ia mendekatinya lalu mengguncang tubuh Sekar dengan penuh amarah.
"Kau dengar Sekar...!!, semua ini karna kecerobohanmu...!!", seru Zivana penuh amarah.
Marsel dan bu Sara bahkan tak bisa menenangkan amarah Zivana kala itu.
Amarah Zivana terhadap Sekar mereda saat dokter kembali berbicara.
"Ada yang harus saya sampaikan lagi pak, buk", ucap dokter mencoba meluruskan semuanya.
"Apa itu dok..??", tanya Marsel tegang.
"Memang alergi Sanum kambuh, tapi itu bukan penyebab utama keadaannya jadi seperti sekarang ini", ucap dokter mencoba menjelaskan.
"Apa maksud dokter..??, putri saya baik baik saja kan..!!", seru Zivana gelisah.
"Sabar nak..!!, kita dengarkan apa yang dokter coba sampaikan", ucap bu Sara memeluk Zivana
"Kalaupun itu karna alergi kacangnya, kami bisa menyuntikkan obat alergi padanya, dan berangsur angsur dia akan pulih, tapi ini tidak..!!", ucap dokter makin membuat suasana semakin tegang.
"Bisa langsung ke intinya dok..!!", seru Zivana tak sabar.
"Dari hasil pemeriksaan kami, sistem imun dari anak bapak dan ibuk mengalami penurunan terus menerus, dengan kata lain imunnya berangsur angsur hilang, kalian pasti tahu, jika seorang manusia kehilangan imunnya akan seperti apa jadinya...", ucap dokter.
Seorang manusia yang tak memiliki sistem imun tidak akan hidup normal seperti yang lain, dan pada saatnya ia juga akan sakit hanya karna menghirup oksigen bebas di sekelilingnya.
Dengan kata lain, di setiap menitnya ada malaikat maut yang siap menjemputnya.
Seketika Zivana pingsan di tengah tengah pembicaraan mereka dengan sang dokter.
Nampak Marsel dan tim dokter mencoba menolong Zivana dan membawanya ke ruang periksa.
Sedangkan dikejauhan nampak roh Sanum dan Fitri telah menyaksikan semua yang terjadi.
Bahkan mereka telah mendengar dengan sangat jelas penjelasan dokter kala itu.
Lalu dalam sekejap mereka telah menghilang dan muncul kembali di sisi Nur yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ruangan yang sudah di sekat dan telah disterilkan.
"Ada apa lagi ini Fit...??", tanya roh Sanum menangis melihat dirinya sendiri terbaring tak berdaya.
Awalnya Fitri hanya terdiam, tetapi karna kasihan melihat roh Sanum dan Nur yang harus menderita di dunia yang bukan semestinya, ia memutuskan memberitahukan yang sebenarnya pada roh Sanum.
"Sebenarnya, raga itu telah melemah", ucap Fitri menatap lekat lekat raga yang tertidur di depannya.
Bak di sambar petir di siang bolong.
Roh Sanum amat terkejut dan syok mendengarnya.
."Gak...!!, gak mungkin ...!!, lalu bagaimana dengan diriku..??, apakah kesempatanku menjadi manusia lagi akan musnah...??, bagaimana jika raga itu tak kuat dan akhirnya..........., tidak..!!, itu tak boleh terjadi", seru roh Sanum menangis sesenggukan.
"Sejatinya Nur telah tiada, meskipun dia bisa hidup di ragamu, tapi ragamu menolaknya", ucap Fitri.
"Lalu aku dan Nur harus apa ....??", tanya roh Sanum meminta solusi dari Fitri.
"Nur harus keluar dari ragamu dan kamu harus masuk kembali ke dalam ragamu itu .!!", ucap Fitri memberi solusi atas masalah Sanum.
"Tapi bagaimana caranya..??", tanya roh Sanum makin gelisah.
"Tenang Sanum..!!, kita akan cari jalan keluarnya bersama", ucap Fitri memeluk dan menenangkan roh Sanum.