
Zivana nampak sedang berusaha mengukir senyum dibibirnya.
Ia mencoba menyembunyikan rasa sesak di dada saat lagi lagi harus menerima kenyataan pahit di hidupnya.
Pasalnya anak satu satunya, yaitu Sanum sekarang tengah berjuang demi hidupnya.
Tangannya gemetar saat beberapa helai rambut Sanum rontok di tangannya saat ia menyisir rambut Sanum.
Ia mencoba menguatkan dirinya agar air matanya tak menetes di hadapan Sanum.
Diruangan khusus rumah sakit, kini tempat Sanum berada.
Tak ada yang spesial di sana.
Karna Sanum tak membutuhkan barang mewah ataupun benda benda kesukaannya.
Yang ia butuhkan kini hanyalah alat pensteril ruangan yang harus ada di tempat Sanum berada.
Karna oksigen yang belum tersteril pun bisa berbahaya untuknya kini.
"Bunda.., kapan kita pulang..??", ucap Sanum merasa bosan di ruangannya.
"Nanti kita tanya dokter ya sayang", ucap Zivana terpaksa berbohong, karna sebenarnya di rumah mereka sedang ada persiapan kamar Sanum yang tersteril seperti yang ada di rumah sakit.
"Trus kenapa banyak alat alat seperti itu di ruangan ini bunda..??", ucap Sanum merasa heran dengan alat pensteril yang ada di setiap sudut ruangannya.
"Tak apa sayang, itu saran dari dokter, karna cuaca sekarang lagi gak menentu katanya", ucap Zivana mencoba meyakinkan Sanum.
Ya Allah, lagi lagi aku berbohong..!!, harus berapa kali lagi aku harus berbohong..??, gumam Zivana dalam hati mencoba mengusap matanya yang hampir meneteskan air mata.
"Bunda kenapa..??", seru Sanum mengusap mata Zivana yang seakan tak mampu membendung lagi air matanya.
"Gak kok sayang, tadi mata bunda cuma kemasukan debu", ucap Zivana lagi lagi berakting di hadapan anaknya.
"Bunda gak bohong kan...??", seru Sanum.
"Gak sayang, oh ya bunda keluar sebentar ya, minum kamu habis", ucap Zivana dengan segera keluar dari ruangan Sanum.
Setelah Zivana sampai di luar ruangan.
Tangisannya pun pecah.
Ia tak kuasa menahan rasa sakit yang ia coba sembunyikan.
Ia terduduk di lantai sambil memukuli dadanya yang amat sesak.
"Ya Allah..!!, jangan kamu uji anakku..!!, lebih baik aku saja..!!", ucap Zivana sambil terus menangis.
Sementara di dalam ruangan.
Roh Sanum dan Fitri muncul menemui Nur.
"Nur..!!, Fitri...!!, mana Rain..??", seru Nur bahagia melihat kehadiran Sanum dan Fitri di hadapannya.
"Rain ku tinggal..!!, dia cengeng..!!", ketus Fitri masih merasa kesal, karna mungkin saat itu habis bertengkar seperti biasanya dengan Rain.
"Ya udah...!!, kita main yuk...!!", seru Nur bersemangat sambil mencoba turun dari ranjangnya.
Saat roh Sanum mencoba mengulurkan tangannya ingin membantu Nur.
Seketika senyumnya pudar.
"Sanum...!!, kamu gpp...??", seru roh Sanum gelisah lalu kembali membaringkan Nur di ranjangnya.
"Iya..!!, hidung kamu kok berdarah..??", ucap Fitri heran.
"Aku gpp kok", ucap Nur mencoba tersenyum, tapi tiba tiba ia merasakan pusing yang amat hebat dan seketika itu juga ia pingsan.
"Sanum...!!", seru roh Sanum bingung dengan apa yang terjadi.
"Ini gimana...??", tanya Fitri gelisah.
Lalu dengan sigap, roh Sanum mendekati sebuah vas bunga dan mencoba menjatuhkannya.
Tapi berulang kali ia mencoba, vas itu tak bisa disentuh olehnya.
"Ayolah...!!, ayo...!!, aku mohon, aku mohon...!!", seru roh Sanum terus mencoba menjatuhkan vas yang ada di depannya.
Lalu tiba tiba.
Pyarrrrrr.......
Suara vas bunga pecah terdengar sampai ketelinga Zivana.
"Masyallah.., Sanum...!!", seru Zivana bergegas masuk ke dalam ruangan Sanum.
Begitu terkejutnya ia saat melihat Sanum tengah tak sadarkan diri dengan hidung yang sudah mengalir darah segar.
Zivana segera berlari dan menekan tombol darurat di samping Sanum.
Ia memeluk anaknya dan menangis histeris sampai dokter dan para perawat datang.
Roh Sanum dan Fitri ikut menangis melihat raga Sanum tengah di tangani oleh dokter.
Dengan cekatan para dokter dan suster mencoba menolong Sanum yang sudah nampak pucat pasi.
Hidup tapi sekarat.
Itulah yang terjadi pada Nur saat itu.
Nur memang bisa merasakan hidup sebagai manusia, tetapi ajal selalu menghantuinya.
Beberapa saat kemudian, dengan segala upaya yang ada, monitor Sanum kembali menunjukkan bahwa dirinya dalam kondisi normal kembali.
Darah yang mengalir dari hidung pun telah di bersihkan.
"Maaf buk, saya rasa Sanum tidak bisa pulang ke rumah untuk saat ini sampai beberapa hari kedepan, saya takut dia drop lagi", ucap dokter mengusap peluh di dahinya.
"Kenapa sebenarnya dengan anak saya dok..??", seru Zivana masih nampak gelisah.
"Saya juga heran buk, imun anak ibuk sangat labil, bahkan dengan alat pensteril ruangan seperti ini, untuk sekarang biarkan ia beristirahat sejenak, saya permisi", ucap dokter lalu keluar bersama dengan para suster.
"Mungkin Nur alergi sama kalian kali...., kuman kalian banyak", ucap Rain tiba tiba muncul di belakang roh Sanum dan Fitri.
Membuat roh Sanum dan Fitri geram dan langsung melirik tajam ke arah Rain.
Rain yang merasa dirinya telah salah bicara langsung berlari menembus tembok.
"Kita kasih pelajaran dia..!!", seru Fitri mengepalkan tangannya.
Sanum yang biasanya membela Rain, saat itu untuk pertama kalinya mengangguk setuju dan menghilang bersama Fitri dari ruangan itu.