Nur

Nur
Mencari sekolah baru untuk Sanum



Setelah kejadian waktu itu.


Sanum dikeluarkan dari sekolah.


Bahkan Pihak sekolah mengabarkannya hanya dengan melalui panggilan telfon.


Semua berkas sekolah Sanum dikirim lewat jasa Pos.


Pihak sekolah tak ada yang berani mendatangi rumah kediaman Marsel.


Pasalnya, mereka mendengar cerita dari guru saksi mata kejadian naas itu.


Yang mengatakan bahwa Sanum tanpa menyentuh atau melakukan apapun bisa menerbangkan seorang murid begitu jauh sampai terpental dan harus dirawat di rumah sakit karna mengalami luka cukup parah.


"Siapa sayang..??", seru Marsel keluar dari rumah berniat untuk berangkat bekerja.


"Pos...", seru Zivana bingung dengan situasi yang tengah ia hadapi.


"Coba ku lihat", ucap Marsel mengambil paket dari tangan Zivana.


Marsel menarik nafas panjang dan mencoba membuat Zivana lebih sabar lagi.


"Kita akan cari solusinya sama sama ya", ucap Marsel mengelus jilbab Zivana.


"Iyaaa mas, semoga Sanum bisa hidup normal seperti anak lain", ucap Zivana memandang Sanum yang tengah disuapi oleh Sekar.


"Ya udah, aku berangkat dulu ya, hati hati di rumah", ucap Marsel masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari pandangan Zivana.


Lalu Zivana mencoba mencari artikel di Laptopnya.


Berniat mencari sekolah baru untuk Sanum.


Zivana mencoba menghubungi setiap sekolah di kota mereka.


Tapi nihil, semua sekolah menolak Sanum.


Kabar berita itu sudah menyebar luas di penjuru kota.


Bahkan para tetangga juga sesekali terdengar bergosip tentang kejadian itu.


Yang membuat Sanum di kucilkan dari lingkungannya.


Terlihat Zivana tengah berputus asa.


"Semua sudah aku upayakan ya Allah..!!", seru Zivana sambil memijat dahinya yang terasa pusing dan berat karna terus berusaha mencari sekolah baru untuk Sanum.


Tiba tiba telfon rumah berdering.


Zivana langsung reflek mengangkatnya dan berharap itu dari salah satu sekolah yang berubah pikiran, yang mau untuk menerima Sanum di sekolah mereka.


Bu Rukmi...!!.


Bu Rukmi menelfon ke kediaman Marsel dan Zivana, bukan untuk menanyakan kabar cucunya malah makin mengolok ngoloknya.


"Mami...??", seru Zivana mengenali suara bu Rukmi.


"Memalukan...!!, kenapa harus ada kejadian yang mencoreng nama keluarga besar mami..!!', seru bu Rukmi di telfon.


"Maksud mami..??", seru Zivana menebak nebak apa yang tengah di bahas oleh mami, dengan memandang Sanum, Zivana mencoba kuat dan tegar.


"Kamu tuh ya..!!, beneran gobl*k apa pura pura gobl*k sih...!!, dasar mantu gak guna..!!, punya anak juga macam iblis...!!", seru bu Rukmi membuat Zivana menahan tangisnya.


"Mi, bagaimanapun Sanum, dia itu anakku, juga cucu mami, mami juga gak bakal suka kan kalau ada yang menjelek jelekkan mas Marsel anak mami bukan..??", seru Zivana tak bisa lagi membendung air matanya.


"Heh...!!, kamu jangan samakan anakku dengan anakmu ya..!!, anakku itu tampan, sehat, kaya, pastilah aku gak mau ada yang jelek jelekin dia, sedangkan anakmu..!!, udah penyakitan, brutal, kayak iblis lagi", seru bu Rukmi menutup telfonnya.


Zivana pun menangis terisak isak.


Ia terduduk di lantai sambil meratapi nasib anak anaknya.


Sementara Sanum dan Sekar yang melihat Zivana tengah menangis langsung menghampirinya dan menenangkannya.


"Bunda...!!, bunda kenapa..??", seru Sanum bergegas memeluk Zivana.


"Nyonya..!!, istigfar nyonya..!!", seru Sekar memberikan segelas air pada Zivana.


"Kenapa nasib keluargaku seperti ini Sekar...??", seru Zivana menepis gelas pemberian Sekar dan terus terisak isak sambil memeluk erat Sanum di pangkuannya.


Sekar yang melihat Zivana sangat terpukul dengan kondisinya saat itu tak bisa berkata apa apa lagi.


Ia hanya mencoba mengelus dan memeluk pundak Zivana.


Jika Sekar bisa meminta Zivana untuk sabar dan berhenti menangis, ia tetap tak akan bisa merasakan kepedihan yang dialami oleh Zivana selama ini.


Sekar membiarkan Zivana puas menangis dan melepas semua bebannya.


Saat bersamaan, Nur muncul dihadapan mereka.


Ia menatap ke arah Zivana yang menangis dan mencoba mendekatinya.


Dengan cepat Sekar memberi isyarat agar Nur tidak mendekat ke arah Sanum dan Zivana saat itu.


"Kenapa...??, aku juga sedih melihat bundaku sedih...??", seru Nur kesal dan menghilang dari sana.


Kamu harus sadar dengan batasanmu Nur...!!, seru Sekar dalam hati.