Nur

Nur
Ketika batin sudah terkoyak.



"Bunda, akkk..!!", seru Nur sembari membuka mulut, tak sabar rasanya ia ingin menyantap makanan di tangan sang bunda.


Tapi lagi lagi, Zivana hanya melamun sambil mengaduk aduk makan siang Nur dan Sanum dengan sendok.


"Bunda....??", ucap Nur menggoyang goyang badan Zivana.


"Eh, iya sayang...!!", seru Zivana tersadar dari lamunannya dan segera menyuapi Nur dan Sanum.


"Bunda kenapa...??", tanya Nur khawatir dengan keadaan Zivana.


Sudah 1 bulan ini ia terlihat lain dari biasanya.


Ia sering terlihat sedih, tertawa bahkan terkadang mondar mandir di teras depan seakan menunggu seseorang datang.


"Gak apa apa kok sayang..!!", ucap Zivana kembali menyuapi Sanum.


"Gak mau....!!", seru Sanum merasa masakan sang bunda lama kelamaan menjadi hambar bahkan terkadang sangat asin.


Bahkan Sanum hampir tak mau memakannya.


Sekarang Sanum hanya makan jika nenek Rukmi yang memasaknya.


Masakan bu Rukmi sekarang lebih terasa enak dari pada masakan sang bunda.


Tiba tiba, Zivana mulai lagi dengan hal anehnya.


Ia berdiri dan mondar mandir di teras depan.


"Kok belum pulang sih jam segini..??, kan janjinya cuma jemput mami", seru Zivana berulang kali melirik ke jam tangannya.


"Bunda nunggu siapa...??", seru Nur menarik narik baju sang bunda.


"Ayahmu sayang...!!!, gak biasanya dia telat...!!", seru Zivana masih terus mondar mandir di teras.


Nur seketika melirik ke dalam rumah.


Ia pandangi foto dan karangan bunga yang masih terus berdatangan ke rumah mereka.


*Turut berduka cita atas meninggalkan pak Marsel Anderas dan ibu Sara, selaku suami dan ibu kandung dari ibu Zivana*.


Bagaimana ayah bisa kembali pulang bunda ..??, gumam Nur dalam hati kembali merasa tersayat akan kepergian ayah dan neneknya.


Seketika Nur merangkul Zivana dengan erat.


Zivana terdiam, berdiri terpaku, dan seketika itu juga ia kembali menangis sembari memeluk kedua anaknya.


Bu Rukmi yang melihatnya ikut meneteskan air mata.


Ia berusaha lebih tegar dari Zivana.


Ia tak mau cucu cucunya tak terurus karna kesedihan mereka yang berlarut larut.


Sabar Rukmi...!!, cucumu membutuhkanmu..!!, gumam Bu Rukmi mengusap air matanya dan mendekati mereka.


"Kedua cucu nenek...!!, yuk makan...!!, nenek masak ayam goreng kesukaan kalian..!!", seru bu Rukmi mencoba tegar.


"Asyikkkk, ayam..!!", seru Sanum kegirangan dan langsung berlari menuju sang nenek.


"Ayo Nur, sama nenek", ucap bu Rukmi memegang tangan Nur.


Nur hanya menepis tangan sang nenek dan kembali meringkuk memeluk bundanya.


"Bunda..!!", ucap Nur sambil menangis.


"Zivana...!!, apa kamu gak kasihan sama anak anakmu..!!", seru bu Rukmi sembari menggendong Nur.


"Kenapa sih mi...??, aku lagi nunggu mas Marsel dan mami ku datang.., mereka tak biasanya datang terlambat", ucap Zivana memandang ke arah gerbang depan rumahnya.


"Masyaallah...!!, sadar nak..!!, bukan kamu saja yang kehilangan", seru bu Rukmi berjalan masuk ke dalam rumah sembari mengajak kedua cucunya.


"Nek...??", seru Nur menangis tersedu sedu.


"Gak apa apa sayang, ada nenek di sini", ucap bu Rukmi berusaha mengusap air matanya lalu menyuapi Nur dan Sanum.


Kenapa semua jadi berantakan seperti ini.....??, apa keputusanku salah..??, aku hanya ingin memperbaiki masa lalu ku, bukan malah menghancurkan keluargaku, gumam Nur dalam hati.


___


Malam itu kegaduhan kembali terjadi.


Zivana mengamuk di tengah malam sembari mencari ibu dan suaminya.


"Mas..!!, kamu di mana...??", teriak Zivana mengobrak abrik seisi rumah.


"Masyaallah..!!, Zivana...!!", seru bu Rukmi berusaha menyadarkan Zivana.


Sementara Nur dan Sanum menangis melihat tingkah Zivana yang tak karuan itu.


Tiba tiba Sanum berlari mendekati Zivana.


"Sanum...!!", seru Nur mencoba menghentikan Sanum.


Terlambat...!!!


Bu Rukmi yang tak bisa mengendalikan amukan Zivana, membuat Zivana tak sengaja menjatuhkan Vas bunga tepat di badan Sanum.


Pyar....!!!


"Sanum ..!!", seru bu Rukmi segera berlari mendekap Sanum yang sudah pingsan di lantai dengan darah segar di kepalanya.


Sementara Nur hanya menangis sembari mengguncang guncang tubuh Sanum.


Zivana seketika terbelalak, matanya terfokus memandang Sanum yang sudah tak sadarkan diri.


Bersamaan dengan itu, kesadarannya kembali.


"Sanum...??", seru Zivana tak menyangka anaknya akan terluka karna ulahnya.


"Pergi...!!", teriak bu Rukmi mendorong Zivana hingga jatuh tersungkur.


Zivana yang tersungkur segera bangkit dan menangis histeris sambil kembali mendekati Sanum.


Bu Rukmi segera berlari menuju telfon rumah, ia segera memanggil ambulan untuk menyelamatkan Sanum.


Tak berapa lama, ambulan datang.


Mereka dengan sigap membawa Sanum masuk ke dalam ambulan.


"Kamu tidak usah ikut..!!, mulai sekarang, mereka hanya cucuku bukan anakmu..!!, mendekatlah jika kamu sudah bisa menerima semuanya", ucap bu Rukmi menutup pintu belakang ambulan sambil menggandeng Nur, meninggalkan Zivana seorang diri di sana.


Menangis, terduduk di tanah dan meratapi semuanya yang telah terjadi pada hidupnya.