
Setelah prosesi pemakaman pak Sastro.
Zivana dan bu Sukma berniat mencari keberadaan Naya dan orang tua nya.
Pencarian pertama pasti tertuju pada rumah Naya.
"Kalian bunda antar pulang dulu, kasihan Sanum kalau nanti harus kelelahan karna masalah ini", ucap Zivana mengelus kedua anak nya.
Bu Sukma yang melihat dari jauh terkadang merasa heran dengan sikap Zivana yang terlihat seakan dia sedang berhadapan dengan dua anak.
"Mungkin cuma perasaan ku saja", ucap Bu Sukma masuk ke dalam mobil nya sambil menunggu Zivana dan Sanum datang.
"Kenapa ma...??", tanya Lidia dari kursi belakang.
"Gpp sayang", ucap Bu Sukma masih melirik pandang ke arah Zivana.
"Pasti bunda heran ya sama tingkah bunda nya Sanum yang seakan ada orang lain lagi di samping nya selain Sanum..??", seru Lidia membuka kaca mobil nya.
"Kok kamu tahu sih...??", tanya bu Sukma heran.
"Sanum aja kayak gitu ma, aku gak heran lagi kalau bunda nya juga seperti itu", seru Lidia memperhatikan Zivana yang seakan berjalan mendekati mereka dengan menggandeng seseorang di kedua tangan nya.
"Iya, iya..!!, ih...!!, mama kok jadi mrinding ya", seru bu Sukma meraba leher nya.
"Positif thinking aja ma, mungkin mereka semacam indigo gitu", ucap Lidia tersenyum pada Sanum yang hampir mencapai mobil mereka.
"Ih...!!, tumben pinter banget omongan kamu...??, siapa yang ngajarin..???", seru bu Sukma heran.
"Ya kiblat nya siapa...??", ucap Lidia melirik ke arah mama nya.
"Sadar toh kalau mama nya orang cerdas", ketus bu Sukma.
Lidia hanya memalingkan wajah tanpa menjawab sepatah katapun ucapan mama nya.
"Lagi ngomongin apa sih ....??", tanya Zivana masuk ke dalam mobil bersama Sanum dan Nur.
"Enggak kok, yuk jalan", ucap bu Sukma melajukan mobil nya meninggalkan area pemakaman.
"Kita jadi kan ke rumah Naya...??, aku pingin urusan ini cepat kelar, kasihan Nur anak ku, kalau raga nya di pakai tanpa seizin nya", keluh Zivana menoleh ke arah belakang tempat Nur berada.
Tatapan Zivana itu malah membuat rasa penasaran Bu Sukma dan Lidia makin besar.
Sesekali Lidia memandang ke arah mana Zivana menatap, tapi ia sama sekali tak melihat apapun di kursi belakang.
"Tante cari apa...??", tanya Lidia membuyarkan tatapan Zivana.
"Enggak kok Sayang", ucap Zivana mengelak.
"Kalau jeng punya masalah, bisa kok cerita ke saya", ucap bu Sukma mencoba menawarkan diri menjadi pendengar yang baik.
"Kalau pun saya cerita, pasti jeng bakal bilang saya gila", ucap Zivana tersenyum kecil.
"Cerita apa sih yang lebih parah dari cerita Naya sama keluarga nya jeng..??, gak mungkin lebih parah lagi kan cerita nya...?? urusan Naya aja udah buat otak saya jungkir balik", seru bu Sukma masih tak percaya dengan semua hal aneh yang ia saksikan beberapa hari ini.
"Kalau saya butuh tempat curhat, saya pasti cerita kok bu", ucap Zivana.
Mobil mereka pun terus melaju menuju rumah Naya.
Saat mobil mereka sudah mendekati arah rumah Naya.
Nampak orang orang tengah berlari menutup akses jalan mobil mereka.
"Kenapa sih nih ...??", seru bu Sukma berulang ulang menyembunyikan klakson nya.
"Ma...!!, itu papa", seru Lidia membuat bu Sukma menepikan mobil nya dan berjalan mendekati sang suami.
"Pa...!!, di depan ada apa sih...??", tanya bu Sukma penasaran.
"Makanya jangan pergi mulu...!!, rumah habis di lalap api kamu gak bakal tau", seru sang suami membuat Zivana dan anak anak terkejut.
"Ya ampun...!!, habis dong semua nya pa..!!, trus kita mau tinggal di mana...??", seru bu Sukma langsung histeris.
"Emang bener pak....??, masyaallah sabar ya buk", ucap Zivana menenangkan bu Sukma beserta Lidia yang tersedu sedu memeluk mama nya.
"Ampun deh ...!!, dengerin dulu makanya sayang...!!!", seru suami bu Sukma.
"Dengerin apa lagi pa....??, papa udah daftarin asuransi rumah...??, gak ngaruh apa apa pa, kita tetap kehilangan rumah kita..!!", seru bu Sukma sesenggukan.
"Sabar buk, bisa jelaskan semua nya pak..??", ucap Zivana menenangkan bu Sukma.
"Yang kebakar tuh rumah Fara, mantan pembantu kita...!!!!, bukan rumah kita..!!!", seru suami bu Sukma.
"Hah...!!, rumah Naya dong.....!!!", seru Zivana dan bu Sukma hampir bebarengan.
"Malah lebih terkejut lagi mereka", ucap suami bu Sukma menggelengkan kepala sembari bergegas membantu warga memadamkan api.
Zivana dan Bu Sukma seketika juga berlari menyaksikan kebakaran itu.
Mereka tak percaya, tempat tujuan mereka satu satu nya untuk mencari Naya telah lenyap.
"Pak...!!, apa ada korban jiwa...??", tanya Zivana pada seorang warga.
"Rumah nya kosong buk, mungkin udah di tinggal sama penghuni nya", ucap warga itu lalu kembali ikut memadamkan api.
Saat api sudah dipadamkan.
Dan asap telah hilang.
Zivana mencoba masuk ke dalam rumah bersama warga setempat.
Sontak mereka terkejut saat melihat ruangan penuh sesajen dan barang barang praktik ilmu hitam.
"Jadi bener mereka pemuja setan, ya ampun...!!", seru seluruh warga merasa ngeri.
Mereka lebih terkejut lagi saat melihat sebuah peti yang masih utuh tak terbakar.
Mereka pun membuka nya dan beberapa orang langsung lari terbirit birit.
"Siapa itu...??", seru Zivana saat menatap mayat anak batita di hadapan nya.
"I, i, itu Naya..!!", ucap bu Sukma terbata bata.
"Jadi semua cerita pak Sastro tak ada yang meleset, biadab sekali mereka", ucap Zivana menutup kembali peti mati milik raga Naya.
"Lalu kemana mereka pergi...??", tanya bu Sukma.
"Mereka hilang, hilang tanpa jejak", ucap Zivana memandang ke sekeliling rumah yang telah habis terbakar.
Satu satu nya hal yang Zivana inginkan hanya ketenangan Nur dan kembali nya raga sang anak.