
"Tunggu apalagi..!!", seru Marsel menggandeng Zivana dan bergegas untuk mencari Sanum.
Diikuti oleh Sekar, kedua orang tua Zivana dan juga bu Rukmi.
Saat mereka akan menjalankan mobilnya.
Nampak mereka tengah di hadang oleh sosok Fitri yang muncul secara tiba tiba di depan mereka, dengan memapah Sanum yang masih dalam keadaan pingsan.
Anehnya, ada satu sosok anak perempuan lagi di samping Sanum yang tengah ikut memapahnya.
"Ya Allah mas ....!!, Sanum...!!", seru Zivana membuat Marsel dengan sigap menginjak rem mobil.
Seketika Zivana keluar dari mobil dan mendekati Sanum.
Ia memeluk dan menciumi Sanum yang mulai sadar dan berangsur angsur terbebas dari ilmu hitam mami Morra.
Fitri memalingkan wajahnya ketika ia dipandang oleh Zivana yang ingin mengucapkan terima kasih.
"Jangan ucapkan apa apa...!!, aku tak sudi mendengarnya..!!, ini cuma demi pertemanan antara aku, Sanum, dan, Nur..!!", ketus Fitri.
"Trima kasih", ucap lirih Zivana sambil menangis memeluk kembali Sanum dengan lebih eratnya.
Nur yang melihatnya merasa senang bercampur sedih.
Pasalnya, ia senang Sanum telah pulang dengan selamat.
Tapi ia juga sedih karna hanya Sanum yang ada di fikiran sang bunda.
"Kalian juga teman Sanum...??, trima kasih sudah menolong anak saya", ucap Zivana menatap ke arah Nur dan Rain.
Fitri seakan tercengang dan berbalik menatap Zivana lalu beralih ke Nur.
"Berapa anak yang kamu lihat...??", seru Fitri heran.
"Tiga", ucap Zivana mengfokuskan pandangannya pada sosok anak yang ia tak menyadarinya bahwa itu ialah Nur.
Mendengar itu, sontak Fitri, Rain terutama Nur amat terkejut di buatnya.
Bulir air mata menetes dari kedua mata Nur.
Zivana yang melihat itu, kemudian mulai menerka nerka siapa yang berada di hadapannya.
"Kenapa sayang...??", seru Marsel mendekati Zivana yang nampak amat syok.
Zivana yang masih terpaku tak percaya mencoba mendekati roh di depannya.
"Nur...!!", ucap Zivana serasa tertipu dengan apa yang tengah ia lihat.
"Bunda bisa melihatku...??", seru Nur tak percaya.
Bahkan semua yang ada di sana pun tak percaya dengan apa yang tengah mereka lihat.
"Bagaimana mungkin..??", seru Fitri tak percaya.
"Ada beberapa hal yang bisa membuat kemampuan seorang roh meningkat, mungkin keberanian Nur menolong Sanum ada kaitannya dengan ini semua", ucap lirih Rain pada Fitri.
"Ya elah Fit, mami mu itu juga biangnya jahat, gak usah menghakimi mereka deh..!!", seru Rain membuat Fitri melototinya.
"Sini sayang..!!", ucap Zivana bersiap memeluk Nur.
Tetapi sepertinya Nur sudah terlanjur terluka begitu dalam.
Hal yang ia idam idamkan, yang ia nanti nantikan, setelah momen itu di depan mata, ia malah menolaknya.
Langkah kaki Nur terus melangkah mundur.
Membuat senyum merekah dari ayah dan bundanya kian memudar.
"Berhenti bunda..!!, bukankah bunda tak pernah menginginkanku, hanya ada Sanum di mata bunda, bahkan bila aku tak ada pun itu lebih baik untuk kalian", ucap Nur berderai air mata.
Ucapan Nur membuat bu Sara menunduk mengingat sikapnya terhadap Nur selama ini.
Bahkan Zivana menangis tak bisa berkata apa apa.
Semua yang diucapkannya benar, aku tak pernah menghargai keberadaannya, walaupun aku sudah pernah berjanji untuk memperlakukannya sama seperti Sanum, gumam Zivana dalam hati.
"Ayah janji akan perbaiki keluarga kita Nur", ucap Marsel menenangkan Nur.
"Semua sudah terbukti yah, aku tak ada tempat di sini walaupun aku memaksanya begitu keras.!!, ucap Nur menggenggam tangan Rain dan Fitri.
Baguslah kalau dia mau pergi...!!, ketus bu Rukmi dalam hati.
"Aku pamit", ucap Nur menghilang bersamaan dengan Fitri dan Rain dari hadapan semua orang.
Bersamaan dengan menghilangnya Nur, Sanum mulai sadar sepenuhnya dan mencoba mencari cari keberadaan Nur.
"Nur mana bunda...??", tanya Sanum mengguncang tangan Ayah dan Bundanya yang terus saja menangis di sampingnya.
Tak mendapat jawaban dari ayah dan bundanya, Sanum lalu memandang ke arah sang nenek.
"Nek...!!, mana Nur...??", seru Sanum mulai menangis tersedu sedu.
"Maafin kami ya Sanum", ucap lirih bu Sara sambil memeluk Sanum.
"Nur....!!", seru Sanum menangis di dada sang nenek.
Bahkan Sekar hanya bisa diam dan menangis melihat semuanya.
Apakah semua anak yang terlahir meninggal akan bernasib seperti itu..??, tak dihargai..??, gumam Sekar dalam hati.
Malam itu semuanya meratapi yang telah terjadi.
Ingin rasanya mereka mengulang waktu yang telah usai, tapi sepertinya nasi telah terlanjur menjadi bubur.
Langit malam terlihat menyembunyikan bintangnya.
Seakan mereka juga ikut bersedih akan apa yang telah terjadi malam itu.