Nur

Nur
5 tahun berlalu



Rumput liar terlihat menitupi hampir semua tembok rumah.


Banyak hewan hewan liar bersarang di teras rumah kuno itu.


Rumah kuno kediaman mami Morra nampak sepi sunyi sejak kejadian penculikan Sanum 5 tahun silam.


Rumah itu seakan sudah tak terawat seakan tak berpenghuni lagi.


Menyusuri area tengah rumah.


Sudah tak banyak yang tersisa.


Semua tertutup tumbuhan menjalar, banyak tikus hutan dan ular yang saling berkejaran.


Bahkan beberapa tembok sudah berlubang dan hancur.


Tapi ada satu ruangan yang berbeda.


Sebuah ruangan yang selalu tertutup rapat, lalu tiba tiba kembali terbuka.


Terbuka hanya dengan hembusan angin yang seakan ia datang memang untuk membuka pintu yang telah tertutup 5 tahun lamanya itu.


Berbeda dengan kondisi seluruh rumah, ruangan itu nampak tetap bersih dan terawat.


Berangin hangat dan berbau harum.


Kondisinya tak berubah sejak kamar itu dijadikan tempat penculikan Sanum 5 tahun yang lalu.


Ranjang yang sama, sofa yang sama, bahkan yang paling menonjol ialah almari kaca tempat bersemayamnya mumi dari ayah Rain yang tetap tak bergeser dari tempatnya.


Disamping ranjang, nampak beberapa dupa dan kebulan asap terlihat.


Dan didepannya, seorang wanita duduk bersila seakan sedang berusaha menyelesaikan semedinya.


Wanita itu dengan mata tertutup terus mengucapkan mantra yang tiada henti.


Dan tak lama kemudian, rambut yang terurai putih menjadi hitam mengkilap, badan yang bungkuk kembali tegap.


Wajah yang keriput berubah menjadi cantik dan muda kembali.


Perlahan matanya mulai terbuka.


Senyum merekah di bibirnya.


Hingga dalam sekejam, gema tawa menggema di rumah itu.


Bahkan burung burung berterbangan ketakutan mendengarnya.


"Aku kembali....!!", seru mami Morra di sela sela tawanya.


Perlahan ia mulai berdiri.


Berjalan menuju cermin di sudut kamarnya.


Ia menyisir rambutnya dan mengelus wajah cantiknya.


"Tak ku sangka semediku berhasil..!!, hahahahaha...!!", seru mami Morra mengingat kejadian 5 tahun silam.


Saat ia tak berhasil mengambil garis kekebalan dari tangan Sanum maupun Nur.


Dan kekuatannya terus terkuras habis.


Membuat usianya semakin menua di setiap jam nya.


Di detik detik terakhir, ia merapal mantra khusus yang hanya bisa ia pakai sekali dalam seumur hidupnya.


Ia mencoba melakukan semedi agar mantranya bekerja.


"Kamu memang hebat Morra..!!", seru mami Morra berjalan ke arah almari kaca ayah Rain.


Ia membuka pintu almari itu dan mengelus mumi itu, lalu memeluknya.


"Lihatlah sayang...!!, aku kembali muda lagi bahkan untuk kesekian kalinya, apakah kamu tak menyesal menolakku dahulu..??", ucap mami Morra bermanja di dada mumi sang pujaan hatinya.


"Kali ini, aku harus bisa dapatkan garis kekebalan itu apapun yang terjadi..!!", ucap mami Morra tak ingin lagi kehilangan usia mudanya.


Nampak gadis kecil Zivana telah berubah menjadi gadis remaja yang cantik dan anggun.


Siapa lagi kalau bukan Sanum.


Sejak kepergian Nur dan kawan kawan roh nya yang lain.


Ia semakin tertutup dengan lingkungan sosialnya.


Bahkan meskipun kabar berita masa kecilnya yang melukai teman sekolahnya dulu telah lenyap dari pembicaraan publik, dan bahkan ia telah bersekolah seperti anak normal lainnya, ia tetap sulit bergaul dan memiliki banyak teman.


Kesehariannya hanya ia habiskan dengan kanvas, cat lukis dan buku buku perpustakaan favoritnya.


"Sanum..., hey.......!! dipanggil bunda tuh", seru Sekar mendekati Sanum yang asik menggerakkan kuas lukisnya.


"Iyaa mbak", ucap Sanum segera meletakkan kuasnya dan bergegas keluar dari kamar dan menemui sang bunda.


Sementara langkah Sekar terhenti, ia tertarik akan lukisan yang sedang di buat oleh Sanum.


"Nur...!!", seru Sekar tersenyum memandangi lukisan di hadapannya.


Lukisan seorang gadis kecil yang tersenyum dengan cantiknya.


"Kami bahagia, tapi hati kami selalu merindukanmu Nur", ucap Sekar mengusap air matanya yang tak sengaja menetes.


Sekar lalu bergegas keluar dari kamar dan menyusul Sanum menemui sang majikan.


Di ruang keluarga.


Nampak Zivana dan Marsel sedang sibuk dengan dokumen bisnisnya masing masing.


"Bunda manggil Sanum..??", seru Sanum duduk di samping Zivana.


"Gini sayang, bunda sama ayah ada pekerjaan di luar kota, kamu gpp kan dirumah sama mbak Sekar, nanti nenek juga mau nginep disini temenin kamu", ucap Zivana membereskan semua keperluan mereka.


Dengan wajah kesal, Sanum langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kenapa sih bunda malah ikut ikutan ayah..??, jarang pulang..!!", seru Sanum kesal.


"Kasian dong ayah harus kerja sendirian, kamu kan udah besar sayang", ucap Zivana mengelus rambut Sanum.


Seketika Sanum langsung menepis tangan Zivana dan berusaha menjauh dari hadapan sang bunda.


"Jadi gini ya rasanya jadi Nur bunda...!!, sendirian....!!!!", ketus Sanum lalu pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


"Masyaallah.., Sanum....!!", seru Zivana geram.


"Sudahlah..!!, biarkan dia sendiri", ucap Marsel membawa kopernya menuju mobil.


Di teras rumah, mereka tak sengaja berpapasan dengan bu Sara.


Ia makin keriput dan beruban, jauh berbeda dari 5 tahun yang lalu.


"Kenapa kalian resah begitu..??", ucap bu Sara heran melihat raut wajah anak dan menantunya yang seperti benang kusut.


"Gpp mi, cuma masalah Sanum", ucap Marsel menatap kopernya di bagasi mobil.


"Ada apalagi antara kalian dengan Sanum..??, inget ya..!!, dia itu anak kalian satu satunya", seru bu Sara menasehati.


"Tolong nasehati dia ya mi, tolong minta dia jangan berburuk sangka pada kami", ucap Zivana memegang kedua tangan bu Sara.


Seketika bu Sara menghela nafas panjang dan melepas genggaman tangan sang anak.


"Sudah mami bilang..!!, kamu gak usah kerja..!!, di rumah aja urus Sanum..!!", seru bu Sara kesal.


"Mami tau sendiri kan, ini juga aku lakuin buat nyibukin diri, jika aku di rumah, aku akan terus ingat Nur", ucap Zivana mengungkap alasan di balik ia aktif bekerja.


"Tapi Sanum juga butuh kamu..!!", seru bu Sara makin geram.


"Aku akan pertimbangkan ya mi, sekarang aku pamit dulu, assalammualaikum", ucap Zivana masuk ke mobil dan segera melaju meninggalkan kekediamannya.


"Walaikumsalam", ucap bu Sara menutup pintu depan.