
"Kamu mau ajak aku kemana..??", ucap roh Sanum mengikuti langkah kaki Rain membawanya.
"Kamu percaya padaku kan..??", gumam Rain terus melanjutkan langkah kaki nya.
"Kasian Nur sendirian...", ucap roh Sanum mengkhawatirkan kondisi Nur.
"Tenang, Nur pasti baik baik aja kok, dia itu kuat, sama seperti kamu", ucap Rain.
"Iyaaa, kita saudara harus saling menguatkan", ucap roh Sanum menyibak ilalang yang menghalangi jalannya.
Rain seketika menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap roh Sanum.
Sesaat mereka terdiam dan saling pandang,
Hembusan angin terus menerus menerpa keduanya.
Di tengah tengah kesunyian hutan yang mengelilingi mereka.
Yang seakan ikut menyaksikan keheningan dari Rain untuk yang pertama kalinya.
Bahkan roh Sanum saja terheran heran dengan tingkah teman sepermainannya itu yang berbeda dari biasanya.
"Kamu baik Sanum", ucap Rain membuat roh Sanum semakin heran menatapnya.
"Kamu baik baik aja kan Rain..??", tanya roh Sanum keheranan dengan sikap tenang dan diam Rain.
"Aku tanya sekali lagi, kamu percaya padaku kan..??", ucap Rain dengan wajah yang nampak serius.
Sesaat roh Sanum terdiam.
Mungkin dia ingat ayahnya, gumam roh Sanum dalam hati.
"Iyaa, aku percaya padamu", ucap roh Sanum dengan mantap.
Seketika senyum Rain yang sedari tadi menghilang kini muncul kembali walau hanya sesaat.
"Ayo...!!, tujuan kita sudah dekat", ucap Rain kembali melanjutkan langkah kakinya.
Beberapa saat kemudian.
Roh Sanum baru menyadari kemana arah tujuan mereka.
Seketika itu juga.
Langkah kaki roh Sanum berhenti.
"Apa maksud semua ini Rain..??", seru roh Sanum merasa agak ketakutan melihat rumah kuno di depannya.
Rain hanya menoleh dan tersenyum padanya, lalu tanpa berucap apapun, ia melanjutkan langkahnya.
Saat Roh Sanum ingin bertanya lagi, seakan mulutnya terkunci.
Dalam hatinya, ia merasakan bahwa saat itu Rain membutuhkan bantuannya, meskipun tanpa diminta oleh Rain.
Roh Sanum tanpa ragu melanjutkan langkahnya menyusul Rain yang hampir sampai di teras rumah kuno mami Morra.
"Ayahku ada di dalam, dan aku selamanya tak akan tenang sebelum ia bisa disemayamkan", ucap Rain menatap pintu rumah itu dengan air mata yang menetes jatuh dari pelupuk matanya.
"Apa yang bisa aku bantu Rain..??", seru roh Sanum tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Aku hanya minta, kamu percaya padaku..!!, itu saja", ucap Rain.
Tanpa bimbang sedikitpun, roh Sanum hanya mengangguk, bahwa ia yakin dan percaya sepenuhnya pada sahabatnya itu.
Rain memegang tangan roh Sanum dan melangkah kembali memasuki rumah mami Morra.
Mami Morra tersenyum saat melihat Rain datang bersamaan dengan roh Sanum sesuai janjinya.
"Bagus Rain...!!", ucap mami Morra menarik paksa roh Sanum dalam dekapannya.
Anehnya, tanpa bergeming sedikitpun, roh Sanum tak terlihat menunjukkan perlawanannya.
Ia hanya tersenyum melihat Rain tersenyum padanya.
"Apa pentingnya bagimu..??, lagian kamu gak bakal lihat dia lagi", ucap mami Morra sembari tertawa.
"Apa kamu sudah tak menginginkan Nur..??", tanya Rain mencoba mengorek informasi lebih banyak dari mami Morra.
"Hahaha, Nur itu sudah sekarat..!!, ngapain aku butuhin dia, Sanumlah yang akan membuatku awet muda, pasti kalian tak tau ya, jika Nur bisa di selamatkan dengan garis kekebalan itu, hahhahah, tapi...., sekarang gak ada gunanya, roh Sanum akan berada di dalam kalungku untuk selamanya, dan Nur cepat atau lambat akan mati", ucap mami Morra semakin kencang tertawa.
Kena kau....!!, gumam Rain dalam hati.
"Aku sudah menepati janjiku..!!, kembalikan ayahku...!!", seru Rain.
"Apa...??, kenapa aku harus menepati janjiku...!!, kamu saja yang bodoh...!!, lagian aku sudah mendapatkan roh Sanum", seru mami Morra tertawa kembali.
"Kembalikan ayahku sebelum aku murka..!!", seru Rain dengan raut wajah marah, yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini...!!, aku tak membutuhkanmu lagi", seru mami Morra menghempaskan Rain sampai tersungkur di lantai berulang ulang kali.
"Rain...!!", teriak roh Sanum mencoba melepaskan diri dari dekapan mami Morra.
Dengan sekuat tenaga, Rain kembali berdiri dan mencoba menyerang mami Morra, hingga ia melepaskan dekapannya terhadap roh Sanum.
"Sekarang Fit...!!", teriak Rain membuat angin kencang tiba tiba datang.
Bersamaan dengan suara gema tawa Fitri di setiap penjuru rumah.
Fitri seketika muncul dan mendekap roh Sanum lalu menghilang dari sana.
"Hentikan anak sialan...!!", teriak mami Morra dengan sekuat tenaga melawan kekuatan Rain.
Tiba tiba, Rain dengan cepat mendekati patung mumi ayahnya.
Membuat mami Morra makin kelabakan dibuatnya.
"Jangan...!!, jangan ambil kekasihku...!!", seru mami Morra mencoba mendekati Rain.
"Kau sudah kalah..!!", ucap Rain lalu menghilang dengan membawa patung mumi ayahnya.
"Tidak...!!!", teriak mami Morra marah sembari mengacak ngacak rumahnya dan dirinya sendiri bak orang gila.
Sementara di lain tempat.
Fitri dan roh Sanum muncul secara bersamaan di taman belakang rumah Zivana.
"Kita sudah aman", ucap Fitri mengelus dadanya.
"Bagaimana dengan Rain..??", seru roh Sanum merasa cemas dengan sahabatnya itu.
Tak berselang lama.
Rain muncul bersama patung mumi ayahnya yang masih rapi di kotaknya.
Nampak Rain tertatih tatih kesakitan saat itu.
Segera Fitri dan roh Sanum memapah dan membantunya.
"Kamu kenapa Rain...??", ucap Fitri mencoba menyalurkan sebagian kekuatannya pada Rain.
"Apa yang mami Morra lakukan padamu..??", seru roh Sanum khawatir dengan keadaan Rain.
"A, aaa, aku tak apa", ucap Rain terbata bata, menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat serangan dari mami Morra.
"Ayo kita bawa Rain ke dalam", ucap roh Sanum mencoba memapah Rain.
"Sudahlah Sanum, aku tak apa, jika kalian memang mau menolongku, tolong selamatkan Nur dan urus pemakaman ayahku", ucap Rain sambil merintih kesakitan.
"Bagaimana itu mungkin..??", seru Fitri bingung.
"Aku tau caranya..!!, mami Morra sudah menjawab permasalahan kita", ucap roh Sanum.
"Jika kamu sudah menjadi manusia lagi, tolong makamkan ayahku dengan layak", ucap Rain lalu menghilang dari sisi mereka.
_______