Nur

Nur
Pembatasan gerakan Nur.



Privat Sanum di mulai pada bulan ini.


Di bawah bimbingan ibu guru Salwa, Sanum mulai berkembang dan menunjukkan kecerdasannya.


Tanpa di sadari, Sanum sangat tertarik dengan sains.


Bu Salwa yang menyadari akan bakat terpendam Sanum mencoba menggalinya lebih dalam lagi.


Karna rumah Zivana dan Marsel terbilang luas.


Akhirnya bu Salwa meminta izin pada Zivana untuk lebih sering mengajar privat kelompok di rumahnya.


Sehingga Sanum juga lebih banyak memiliki teman.


Zivana menerima usulan itu dengan suka cita.


Ia sangat berharap Sanum bisa bermain dan memiliki teman seperti layaknya anak anak seusianya.


"Subhanallah, saya malah berterima kasih sekali bu, ibu memilih rumah saya sebagai tempat mengajar, jadi Sanum juga sering sering kedatangan teman", ucap Zivana bahagia.


"Alhamdulillah..!!, terima kasih ya buk, bilang terima kasih pada bu Zivana anak anak..!!", seru bu Salwa.


"Terima kasih buk", seru anak anak bersamaan.


"Iyaa sama sama", ucap Zivana mempersilahkan bu Salwa dan anak anak lain masuk ke dalam rumah.


Anak anak murid bu Salwa nampak senang dan takjub melihat rumah Sanum yang sangat megah dan besar.


Karna mereka terbilang anak anak yang berasal dari ekonomi menengah.


Orang tua mereka rata rata adalah seorang pegawai kantoran di berbagai perusahaan seperti yang Marsel jalankan saat itu.


"Wah..!!, rumah kamu bagus ya Sanum...!!", seru seorang anak.


"Trima kasih, kalian mau lihat mainanku..?, yuk aku tunjukin..!!", seru Sanum kegirangan karna akhirnya bisa memiliki banyak teman.


Mereka pun berlari bersama menuju ke kamar Sanum.


Zivana yang melihatnya merasa bahagia, anaknya bisa tersenyum sebegitu cantiknya hari itu.


"Anak anak, yang sopan..!!", seru bu Salwa memperingati anak anak didiknya.


"Gpp bu, namanya juga anak anak", ucap Zivana mengajak bu Salwa menuju ruangan yang bisa ia pakai sebagai tempat belajar mengajarnya selama disana.


Nur yang sedari tadi bermain ayunan di halaman belakang, tiba tiba menghentikan ayunannya.


"Suara apa itu...??, ramai sekali...??", ucap Nur mencari asal suara itu.


Nur pun tersenyum memandang ke arah rumah.


"Teman teman...!!", seru Nur bergegas melesat dan berpindah ke depan pintu ruangan kamar Sanum.


Nur begitu bahagia melihat banyak anak anak disana.


Sudah lama ia tak ke sekolah, sejak kejadian ia melukai seorang murid di sekolah.


Seketika ada tangan yang menarik tangannya kebelakang.


Tatapan Nur tertuju pada Sekar yang berani menghentikan langkahnya.


"Apa ini mbak..??", seru Nur dengan wajah kesalnya dan mata yang seakan siap menerkamnya.


"Jangan coba coba masuk ke badan Sanum lagi..!!", seru Sekar semakin erat memegang tangan Nur.


"Kenapa aku harus menurutimu...??", seru Nur tak terima.


"Karna kamu sudah kelewat jauh dari batasanmu..!!", seru Sekar tegas.


Nur pun tertawa.


"Apa yang kamu tau tentang sebuah batasan mbak..??, aku bisa segalanya, bahkan jika aku mau, aku bisa membuatmu tak dapat melihat wujudku", ucap Nur.


"Silahkan saja, aku tau kamu cuma menggertakku Nur, kamu sebenarnya tak tau kan apa yang tidak bisa kamu lakukan dan yang bisa kamu lakukan..??, dan apa saja konsekuensi dari itu semua..??", ucap Sekar membuat Nur terdiam dan semakin marah.


Nur menyadari bahwa ia memang tak tau apa saja yang bisa ia lakukan dan apa saja konsekuensi yang harus ia tanggung jika bersikeras melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.


Nur langsung pergi dari hadapan Sekar dalam sekejap.


Tapi suaranya masih bergema di telinga Sekar.


"Ingat ya mbak..!!, gak selamanya Sanum bisa kamu awasi, ada masanya ia lepas dari pengawasanmu..!!", seru Nur tertawa dan seketika gema suaranya pun menghilang.


Anak anak yang asyik bermain sedari tadi langsung menghentikan permainannya.


Mereka merasakan angin aneh yang menghembus menerpa mereka.


"Kok aku ngerasa aneh ya..??", seru seorang anak perempuan sambil memegangi lehernya.


"Iya nih sama..!!", seru anak yang lain memandang kesekeliling ruangan.


"Kalian kenapa...??", tanya Sanum saat melihat teman temannya berhenti bermain.


"Gpp Sanum, kita cari bu Salwa yuk, pelajarannya bentar lagi di mulai", ucap seorang anak mengajak teman temannya yang lain keluar dari kamar Sanum.


Lalu proses belajar mengajar di mulai di rumah itu.


Mereka semua belajar dengan nyaman di rumah Zivana.


Dengan pengawasan ketat dari Sekar.


Nur tak berani mendekati mereka.


Sekar yang melihat Zivana cemas mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Zivana.


"Nyonya jangan khawatir, saya ada di sini, Nur tidak akan pernah mengganggu mereka", ucap Sekar menenangkan Zivana.


Zivana hanya mengangguk dan tersenyum di hadapan Sekar.


"Aku percayakan padamu", ucap Zivana sambil memandangi Sanum yang begitu bahagia tengah bernyanyi dan belajar bersama guru dan teman temannya.