
"Sudah ya Sanum, kamu lihat sendiri kan, bagaimana reaksi Fara saat kita berurusan dengan nya, sebaik nya tante antar kamu pulang", ucap bu Sukma melajukan mobil nya menuju kediaman Zivana.
"Aku masih belum puas kak, entah kenapa aku sangat penasaran dengan Naya, seakan ia punya hubungan dengan kita", ucap Nur membuat Sanum kembali memandang ke arah belakang mobil, arah jalan menuju ke rumah Naya.
Bu Sukma yang melihat nya cuma bisa menghela nafas.
Ia tahu, anak seusia Sanum memang memiliki rasa penasaran yang besar.
Terlebih keinginan itu lebih besar lagi karna paras Naya yang sangat mirip dengan nya.
Tak lama kemudian.
Mobil Bu Sukma sudah memasuki halaman rumah Zivana.
Nampak Zivana sudah berdiri di teras menunggu kepulangan mereka.
"Syukurlah kalian datang, Sanum sudah waktu nya minum obat", seru Zivana langsung mendekap Sanum dan mengecek kondisi nya saat ia keluar dari mobil.
"Tenang jeng, Sanum anak yang kuat kok, lagian kita hanya jalan jalan sekitaran sini saja", ucap bu Sukma mengambilkan obat Sanum yang sudah di siapkan Zivana di atas meja teras.
"Minum obat dulu ya sayang", ucap Zivana membantu Sanum meminum obat nya.
"Aku bosan minum itu bunda", ucap Sanum cemberut.
"Jika Sanum sudah sembuh, bunda gak akan mungkin kan paksa Sanum minum semua ini...??", ucap Zivana memberi pengertian pada Sanum.
Sementara, pandangan bu Sukma teralihkan pada tas kecil Lidia yang terbuka.
Ia penasaran dengan kertas yang mengulur keluar dari tas Lidia.
"Ini apa sayang..??", tanya bu Sukma sembari mengambil secarik kertas itu dari tas Lidia.
Lidia langsung gugup dan mencoba merebut kertas itu kembali.
Tapi mungkin itu tak mudah karna kertas itu sudah berada di tangan sang mama.
"Aduh...!!", ucap Lidia bersembunyi di belakang Zivana.
Seketika ekspresi bu Sukma berubah menjadi kesal dan marah saat membaca kertas di tangan nya.
"Kamu nyuri Lidia...!!!", seru bu Sukma mencoba menangkap Lidia yang bersembunyi di belakang Zivana.
"Mencuri...??, kamu nyuri apa Lidia...??", seru Sanum menatap tak percaya kalau teman nya telah berani mencuri.
"Ampun ma...!!, ku kira itu sudah gak penting lagi di sana, dan mungkin Sanum masih membutuhkan itu", ucap Lidia terus menghindar dari kejaran sang mama.
"Kurang apa sih mama Lidia...!!!!, kalau kamu mau kertas bisa mama belikan se toko toko nya sekalian...!!", seru bu Sukma marah.
"Sabar buk, kita tanya baik baik, memang dia curi apa..??", ucap Zivana mencoba menenangkan bu Sukma.
"Dia curi riwayat medis seseorang..", ucap bu Sukma menatap Lidia dengan kesal nya.
"Benar Lidia..??", tanya Sanum.
"Jika itu benar, kita kembalikan saja ketempat nya, kasihan jika dokumen itu masih di butuhkan", ucap Zivana mencoba memberikan solusi.
Mereka pun setuju dan bersama sama menaiki mobil bu Sukma untuk kembali ke rumah sakit yang beberapa saat lalu telah di kunjungi oleh bu Sukma dan anak anak.
Selama perjalanan.
Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil.
Seperti nya bu Sukma masih marah terhadap tindakan Lidia, sedangkan Lidia terlihat merasa amat bersalah saat itu.
"Kalau boleh tahu, Naya itu siapa buk...??", tanya Zivana mencoba memecah keheningan.
"Dia tetangga saya jeng", ucap bu Sukma singkat.
"Lalu, apakah dia sedang di rawat...??", tanya Zivana mulai penasaran.
"Bukan buk, bukan begitu, Naya itu pasien di rumah sakit Saharja 10 tahun silam", ucap bu Sukma menjelaskan.
"Pantas Lidia mengira dokumen itu sudah tak penting lagi di sana, lalu...., kenapa Lidia bisa bilang kalau Sanum mungkin membutuhkan dokumen itu...??", tanya Zivana mencari maksud dari ucapan Lidia.
"Sebenarnya bukan hanya Sanum buk, kami pun masih dibuat penasaran saat membaca nya, ingin sekali membaca nya lagi dan lagi untuk meyakinkan diri kami", ucap bu Sukma mulai bersikap rileks.
"Maksudnya gimana....??", seru Zivana bingung.
"Di riwayat medis itu tertulis jika Naya itu sudah meninggal saat kecelakaan 10 tahun silam jeng, sedangkan mata kami baru beberapa jam lalu melihat Naya berdiri di hadapan kami", seru bu Sukma.
Zivana yang mendengarnya pun seakan tak percaya.
"Bagaimana mungkin...??", seru Zivana memandang ke arah Sanum.
Jika pagi itu ia tahu niat sebenarnya Sanum pergi, ia tak akan memberikan nya izin.
Karna penasaran.
Zivana mengambil kertas itu dari laci mobil.
Zivana membacanya dengan seksama dan merasa tak ada kejanggalan dalam laporan itu, tentang kondisi Naya saat itu, yang mengakibatkan Naya tak bisa diselamatkan.
Tapi saat ia ingin menutup kertas di tangan nya.
Tatapan nya terfokuskan pada tanggal saat Naya di nyatakan meninggal.
"Tanggal nya...!!", ucap Zivana masih menatap kertas itu.
"Apa jeng...??, tanggal...??, kenapa memang...??", tanya bu Sukma penasaran.
"Kenapa bunda...??", ucap Sanum heran dengan tingkah Zivana.
"Sama dengan tanggal kelahiran mu sayang...", ucap Zivana membuat bu Sukma dan semua nya terkejut, dan dengan cepat membuat bu Sukma menginjak rem mobil nya hingga mobil berhenti secara mendadak.