Nur

Nur
Terkurungnya Rain kembali.



"Huahhhhmm".


Pagi itu mami Morra terbangun dari tidurnya.


Ia merasakan ada yang aneh pada dirinya.


Tubuhnya nampak pegal pegal dan tak sebugar biasanya.


"Lelah sekali aku akhir akhir ini", ucap mami Morra beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi.


Tiba tiba ia terkejut melihat dirinya di depan cermin.


Ia dengan seksama mengamati wajah, rambut, dan kulitnya.


Ia seakan amat terkejut akan semua yang ia alami pagi itu.


"Bagaimana mungkin...??, kenapa aku seakan mulai menua..?", seru Mami Morra memeriksa kalung yang bergantung di lehernya.


Ia melihat dengan seksama kalung itu.


Ia melihat beberapa titik cahaya yang bercampur dengan darah di dalamnya.


"4 titik..!!, kemana satu titik lagi..??", seru mami Morra mengingat apa yang tengah ia lupakan.


Seketika ia mengingat kejadian saat perdebatannya dengan Nur dan pertama kalinya kalung itu melemah.


"Jangan jangan...!!", ucap Mami Morra bersiap dan bergegas keluar dari rumahnya.


Beberapa menit kemudian.


Mobil mami Morra telah sampai di depan gerbang rumah Zivana.


Ia sengaja menyewa sebuah rumah yang tak jauh dari rumah Zivana.


Sehingga ia bisa mengawasi target utamanya yaitu Nur.


Nampak Sanum sedang bermain bersama teman temannya.


Tapi di mata orang biasa, Sanum akan terlihat riang bermain sendirian.


Karna teman yang di maksud ialah Fitri, Rain dan Nur.


Mereka yang menyadari kehadiran mami Morra segera bersiaga, kecuali Sanum, ia tak tau dan tak bisa merasakan kehadiran mami Morra yang sangat berbahaya.


"Maafkan aku kak, aku harus meminjam ragamu lagi, semoga itu bisa membantu melawan mami Morra", seru Nur masuk ke tubuh Sanum.


Dalam sekejap, mami Morra telah berada di hadapan mereka.


Mami Morra seakan amat kesal melihat Rain yang berada di hadapannya.


"Trik apa yang kamu gunakan sehingga bisa keluar dari kalungku", seru mami Morra menarik tangan Rain dengan kasarnya.


"Hentikan...!!, apa hak mu ..!!", seru Fitri dengan wajahnya yang emosi.


"Kamu gak usah ikut campur...!!", seru Mami Morra mengeluarkan kalungnya dan siap mengurung Rain kembali.


Rain yang ketakutan melihat kalung itu, beserta Fitri yang tak bisa melakukan apa apa demi menyelamatkan Rain.


Tiba tiba Sanum lah yang berdiri menghadang mami Morra dan menepis tangannya dari tangan Rain.


"Jangan coba coba..!!", seru Nur dalam raga Sanum.


Mami Morra yang melihat tatapan tajam Sanum sudah bisa mengetahui bahwa itu ialah Nur.


"Hebat juga kamu, bisa masuk ke tubuh saudaramu..!!", seru mami Morra melepaskan pegangan tangannya dari tangan Rain.


Terjadi pererebutan antara Mami Morra dan Nur.


Mereka saling memperebutkan kalung yang berada di leher mami Morra.


Tapi Nur belum cukup kuat untuk menghadapi mami Morra.


Tiba tiba mami Morra mendorong Sanum dan mengeluarkan kalungnya, sehingga ia berhasil mengurung Rain kembali.


"Rainnn..!!", teriak Sanum hingga terdengar oleh Marsel dan Zivana yang tengah berada di ruang keluarga.


"Masyaallah...!!, mas..!!", seru Zivana bergegas keluar rumah bersamaan dengan Marsel.


"Hahaha, kamu tak akan bisa berbuat apa apa Fitri...!!, kalung ini adalah darahmu, jadi jangan harap kamu bisa memegangnya dan mengeluarkan Rain dari dalam sana, sedangkan Nur, lihatlah..!!, bahkan dengan perantara raga Sanum saja ia tak bisa juga mengalahkanku", ucap mami Morra dengan tertawanya yang lantang.


Fitri dan Nur hanya menangis melihat Rain berhasil di kurung kembali di dalam kalung itu.


Dan dalam sekejap saja, penampilan mami Morra kembali jauh lebih muda dan segar kembali.


Zivana yang melihat Sanum menangis dan tersungkur di halaman segera menolongnya.


Ia tatap wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Kamu apakan anak ku..??", seru Zivana tak terima.


"Apa mami ku yang menyuruhmu melakukan ini...??", seru Marsel geram.


"Jangan kalian tertipu tipu muslihat nya, dia itu cuma berpura pura, dia itu Nur..!!, bukan Sanum", seru mami Morra tertawa dan berlalu pergi dari sana.


Zivana dan Marsel yang nampak terkejut mendengar penuturan Mami Morra , tapi mereka tidak langsung begitu saja mempercayainya.


"Sayang...!!, kamu gpp..??", tanya Zivana mengusap siku Sanum yang berdarah.


Tiba tiba luka itu mengering dan sembuh dengan cepat.


Membuat Zivana dan Marsel terkejut di buatnya.


"Nur...??, kau kah itu..??", seru Zivana mengartikan luka Sanum yang bisa sembuh dengan sekejap saja.


Nur hanya mengangguk.


Membuat Zivana dan Marsel emosi.


"Sudah berapa kali bunda bilang...!!, urus urusanmu sendiri, jangan buat hidup Sanum kacau dan membuatnya dalan bahaya, lebih baik kamu pergi sekarang..!!", seru Zivana membuat Nur semakin sedih.


"Kenapa kamu harus bersikap seperti ini lagi Nur..??", seru Marsel membuat Nur segera keluar dari tubuh Sanum dan menghilang bersama Fitri.


Dalam sekejap, Sanum kembali menjadi dirinya.


Zivana dan Marsel memeluknya.


"Kamu gpp sayang..??", seru Zivana mengecup kening Sanum dan membawanya duduk di sofa.


"Nur kemana Bunda...??", seru Sanum clingukan mencari Nur.


Zivana dan Marsel hanya terdiam tak berkata apa apa.


"Kenapa kalian diam..??, jangan bilang ayah dan bunda mengusirnya..??", seru Sanum bangkit dari duduknya.


"Dia kembali membuatmu celaka sayang..!", ucap Zivana menenangkan Sanum.


"Apa yang bunda lakukan padanya..??", ucap Sanum meneteskan air matanya.


"Bunda mengusirnya agar tak mengganggumu lagi", ucap Zivana membuat Sanum menangis.


"Bunda tau, Nur melakukannya karna berusaha menolong temanku Rain dari jahatnya mami Morra, dia tak berniat melukaiku, jika pun aku terluka bunda, ini juga tubuhnya, karna kita itu terlahir kembar bukan", ucap Sanum berlari masuk ke dalam kamarnya.


Nur dan Fitri yang menyaksikan itu dari balik jendela menjadi tersentuh akan kasih sayang Sanum terhadap Nur saudaranya yang meskipun hanya berwujud roh.


"Beruntung sekali kamu Nur, masih ada yang sayang denganmu meskipun orang tuamu tak mengerti dirimu, tidak seperti nasib ku dan Rain", ucap Fitri menangis.


"Kita akan tolong Rain sama sama, okey..!!", seru Nur memeluk Fitri.