
"Kamu sudah siuman sayang...!!", ucap bu Rukmi seketika saat melihat Sanum membuka matanya.
Saat itu juga Sanum langsung menangis merasakan sakit di bagian perban kepalanya.
"Tenang ya sayang, ada nenek di sini", ucap bu Rukmi sembari menggendong Sanum yang terus saja menangis kesakitan.
"Bunda...!!!!, bunda...!!", seru Sanum tak henti henti nya memanggil sang bunda di sela sela tangisannya.
Sementara Nur hanya terduduk di sofa menatap Sanum yang menangis di gendongan sang nenek.
Seakan ia tak menyangka sama sekali, seiring berjalannya waktu semuanya menjadi kian memburuk.
Sementara di kediaman Slavina.
Lagi lagi ia hanya termenung dengan tatapan sayu dan kosong.
Tak ada lagi keceriaan di rumah itu.
Hanya ada kesunyian tanpa kehangatan di sana.
Tinggg, ting...!!!( bel pintu berbunyi).
Sebuah suara yang seketika membuat senyuman muncul di bibir Zivana.
"Pasti itu mami dan mas Marsel", seru Zivana segera bergegas membuka pintu.
"Mas...!!", seru Zivana saat pintu depan ia buka.
Senyum yang baru muncul dari bibirnya, kini kembali menghilang saat seseorang yang ia cari ternyata tak ada di balik pintu itu.
"Dengan ibu Zivana...??", tanya seorang perempuan berseragam putih tersenyum pada Zivana.
"Iya..., dan mana suami saya...??", ucap Zivana terus saja mencari ke segala arah.
"Ibu ikut kami ya, suami ibuk sudah menunggu di tempat lain", ucap seorang perempuan lainnya.
"Apa mas Marsel yang menyuruh kalian..??", tanya Zivana, di saat terpuruk seperti itu, hanya nama Marsel lah yang ia prioritaskan dan ia ingat.
Bahkan kondisi Sanum di rumah sakit tak ia ingat dan tanyakan sedikit pun.
"Benar buk, mari..!!, nanti suami ibuk nunggu lama lho", ucap perempuan itu menggandeng Zivana masuk ke dalam mobilnya.
Mendengar kata kata tentang Marsel, Zivana langsung menurut tanpa bertanya apapun lagi.
Dalam benaknya, ia sangat bahagia akhirnya akan bertemu kembali dengan suaminya.
___
"Selamat malam buk", ucap seorang lelaki memasuki ruang rawat Sanum.
"Malam pak, mari silahkan masuk", seru bu Rukmi menidurkan Sanum di ranjangnya setelah ia tenang dan tertidur di gendongan sang nenek.
"Nur pintar ..!!, jaga Sanum sebentar ya", ucap bu Rukmi langsung di jawab sebuah anggukan oleh Nur.
Bu Rukmi berjalan keluar ruangan bersama kedua orang tamunya.
"Maaf buk, kami hanya mau mengabarkan, menantu ibu sudah kami bawa ke rumah sakit jiwa puspita untuk masa perawatan", ucap seorang lelaki berseragam itu membuat bu Rukmi dan Nur terkejut.
Apa nenek tega melakukan itu..??, gumam Nur dalam hati.
"Saya tidak pernah membuat keluhan apapun pak", ucap bu Rukmi merasa tak memanggil pihak rumah sakit jiwa untuk mengamankan Zivana.
"Suami ibuk yang melaporkannya, ia juga yang menjelaskan keadaan yang sedang di alami bu Zivana, bahkan penyerangannya pagi ini terhadap anak kandungnya sendiri", ucap lelaki itu.
"Masyaallah..!!, kenapa ayah..!!", seru bu Rukmi tak menyangka bahwa sang suami akan membuat sebuah keluhan tentang menantu mereka sendiri.
Kakek ....??, gumam Nur dalam hati sembari menangis dalam diam.
"Kalau begitu kami permisi, jika ada waktu tolong datang untuk laporan yang lebih lengkap lagi", ucap lelaki itu segera pergi bersama rekannya.
Bu Rukmi terduduk di kursi tunggu dan menangis sejadi jadinya.
"Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini ya Allah..??", seru bu Rukmi meratapi nasib keluarganya.
Beberapa saat kemudian, ia seakan mendengar tangisan lirih dari dalam ruangan Sanum
Bu Rukmi mencoba mengusap air matanya, menguatkan lagi dirinya.
Ia berdiri dan segera masuk kembali ke dalam ruang rawat Sanum.
Lalu ia tertegun melihat bahwa Nur lah yang sedang menangis, bahkan ia tertunduk dan duduk di lantai.
Apakah dia mendengar semuanya ...??, jika pun ia, anak sekecil dia apakah sudah mengerti tentang semua ini ...??, gumam bu Rukmi dalam hati.
"Nur kenapa sayang ..??", tanya bu Rukmi mengusap lembut wajah Nur.
Sesaat Nur terdiam menatap sang nenek dengan mata sayu nya.
Nenek akan heran jika di usia ku ini aku bisa mengerti arti pembicaraannya dengan para lelaki itu.
Nur seketika memasang wajah sendunya.
Ia mengusap matanya berulang kali dan berpura pura menguap dan tersedu sedu di depan sang nenek.
"Ngantuk.., gendong..!!", ucap Nur merentangkan kedua tangannya.
"Ayo sayang, anak pinter..!!, nenek gendong..!!", ucap bu Rukmi mengayun ngayun Nur dalam gendongannya.
Sembari bernyanyi lagu tidur untuk Nur, bu Rukmi menatap lekat lekat wajah Sanum.
Malangnya nasib kalian, seharusnya di usia ini kalian masih merasakan kehangatan di dekapan kedua orang tua kalian, gumam bu Rukmi mencoba menahan air matanya.
Sementara Nur terdiam dan berpura pura tidur di dekapan sang nenek.
Tapi sebenarnya ia terjaga dan menahan sakit dan sesak di dadanya.
Hidup macam apa ini Tuhan...!!, gumam Nur dalam hati menahan siksa batin yang ia hadapi kini.
Ia mulai merasa jauh lebih beruntung menjadi sebuah roh, di banding hidup tapi harus membayar mahal untuk itu.