Nur

Nur
Upaya Naya untuk tenang.



"Ini rumah teraman bagi kita saat ini", ucap Daren melihat situasi sekeliling dan segera bergegas memutar kunci dan masuk ke dalam rumah.


"Syukurlah, kita masih punya tempat untuk di tuju", ucap mbak Fara mengelap sebuah kursi dan membuat Naya duduk nyaman di sana.


"Besok kita akan bergantian keluar untuk mencari makanan, untuk saat ini kita bersembunyi dulu", ucap Daren berjalan ke arah salah satu ruangan rumah kosong itu.


Mbak Fara pun mengikuti suami nya, dan berniat membantu jika di perlukan.


"Bersihkan yang bisa di bersihkan..!!", seru Daren menemukan sebuah ruangan yang bisa di pakai untuk kamar mereka bertiga malam itu.


Mbak Fara dalam sekejap langsung sibuk dengan aktifitas bersih bersih nya dan persiapan sesajen untuk ke awetan raga Naya.


Sedangkan Daren membereskan barang barang yang menumpuk di ruangan itu agar bisa muat untuk tiga orang.


Sesekali, Daren melirik Naya yang duduk terdiam di kursi nya.


"Apakah aman kita biarkan Naya sendirian di sana...??", tanya Daren merasa khawatir.


"Naya bahkan tak akan ke kamar mandi kalau bukan aku yang membawa nya", ucap mbak Fara terus membersihkan debu tebal di ruangan itu akhibat sudah lama tak ada yang menghuni tempat itu.


Mendengar ucapan istri nya, Daren kemudian berhenti melirik Naya setiap saat.


Mereka berdua tengah lepas pengawasan terhadap Naya.


Di luar perkiraan mbak Fara dan Daren.


Naya untuk pertama kali nya berdiri dari kursi nya tanpa bantuan.


Ia terus menoleh ke arah luar rumah kosong itu.


Pandangan Naya berkeliling seakan mencari sesuatu.


Saat ia menemukan yang ia cari, ia segera mendekati nya dengan tertatih tatih seperti seseorang yang tengah belajar berjalan.


Ia segera meraih kunci dan berusaha keras membuka pintu depan.


Hujan lebat saat itu tak membuat langkah Naya terhenti.


Ia terus berjalan menjauhi rumah kosong itu.


"Naya harus kembalikan raga Nur", ucap lirih Naya di sepanjang jalan kembali mencari Nur.


Sementara Zivana dan yang lain nya masih berteduh di rumah bu Sukma.


Hujan yang amat lebat tak memungkinkan mereka untuk pulang.


"Kamu gak apa apa sayang..??", seru Zivana saat melihat ada yang tak beres dengan Sanum.


"Aku gpp kok bunda", ucap Sanum memaksa tersenyum dihadapan bunda nya.


Padahal, Sanum sudah menahan rasa sakit di tubuh nya sejak siang hingga tiba larut malam.


Tak berselang lama.


Tiba tiba Naya telah berdiri di depan gerbang bu Sukma.


Lidia yang melihat pertama kali langsung tersedak saat diri nya saat itu sedang mencoba meneguk segelas air.


"Hati hati dong Lidia...!!!, malu malu in..!!", seru bu Sukma mencoba mengelus punggung Lidia yang masih tersedak.


Lidia dengan syok nya mencoba menunjuk ke arah Naya.


"A, ada...!!", seru Lidia terbata bata.


"Kenapa sih kamu...??", tanya bu Sukma heran dengan tingkah Lidia.


"Naya....!!!!", seru Lidia membuat yang lain segera bergegas menoleh ke mana tangan Lidia menunjuk.


"Masyaallah...!!", seru Zivana segera berlari di tengah deras nya hujan dan berusaha membukakan pintu untuk Naya.


Naya yang sudah di guyur hujan sejak awal ia kabur tetap tak menunjukkan ekspresi ketika Zivana mencoba mengelap tubuh nya dengan handuk.


"Kenapa dia bisa kesini ya...??, tanpa orang tua nya pula", seru bu Sukma merasa ngeri memandang Naya yang baru ia ketahui bahwa Naya adalah hasil dari ilmu hitam.


Sementara Naya hanya memandang ke satu arah, yaitu Nur.


"Kenapa sayang...??", tanya Zivana mencoba mengajak Naya untuk mengobrol.


"Tubuh Nur", ucap Naya sambil meneteskan air mata.


"Apakah kamu bersedia mengembalikan nya...??", tanya Zivana menebak.


Naya pun mengangguk tanpa keberatan sama sekali.


"Nur bisa hidup jika mau", ucap Naya menatap garis kekebalan yang ada di tangan Nur.


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan...??", tanya bu Sukma heran.


"Kau dengar kak...!!, katanya aku bisa hidup..!!", seru Nur kegirangan dan memeluk Sanum.


Tapi karna kondisi Sanum yang terus melemah.


Ia seketika ambruk ke lantai.


"Astaga...!!, Sanum...!!!", teriak Zivana saat mendapati Sanum sudah tak sadarkan diri dengan hidung mengeluarkan darah.


Saat mereka mencoba menghubungi ambulans, Naya pun ikut berangsur angsur kehilangan kesadaran nya dan ikut ambruk seperti Sanum.


"Naya...!!", teriak bu Sukma mencoba merebahkan Naya di samping Sanum.


"Ya Allah...!!, kenapa semua nya jadi kacau begini...??", seru Zivana menatap Sanum dan Naya yang tak sadarkan diri di hadapan nya.