
Dokter dan para suster nampak berlarian di koridor rumah sakit.
Entah apa yang membuat mereka sangat terlihat panik.
Hingga suster pun sampai tergopoh gopoh membawa obat dan peralatan yang beraneka ragam menuju ke lantai 2 rumah sakit itu.
Bahkan dokter beberapa kali hampir menabrak beberapa kerabat pasien yang sedang berlalu lalang di sepanjang koridor.
"Maaf buk, pak..!!", seru dokter terus berlari sekuat tenaga.
Dari kejauhan, nampak Marsel sudah terlihat gelisah dan panik.
Ia menghampiri dokter dan menariknya lebih cepat menuju ke ruangan Sanum.
Di dalam ruangan sudah ada bu Sara dan Zivana yang menangis terisak isak memeluk Sanum yang terlihat kesakitan.
"Bunda ....!!, sakit bunda...!!", teriak Sanum yang sebenarnya ialah Nur makin membuat suasana makin tak karuan.
Ia terus memegangi kepalanya yang seakan terasa mau meledak.
Sampai ia menarik narik rambutnya sendiri hingga rontok tak karuan.
"Istigfar sayang ....!!", ucap Zivana semakin tak tega melihat anaknya yang saat ini berada di dekapannya.
Begitu dokter datang, dengan cekatan ia dan para suster melakukan pertolongan pada Sanum.
Tak ada pemeriksaan yang dilewatkan oleh mereka.
Dengan susah payah mereka memegangi badan Sanum yang terus berusaha memberontak karna merasakan sakit kepala yang amat hemat.
Di tengah tengah suasana yang genting itu.
Sanum tiba tiba mengingat sesuatu di masa lalunya, yang tak lain adalah identitas aslinya.
Ingatan yang ia miliki saat ia menjadi sebuah roh.
Kenangan akan Fitri, Rain dan Sanum yang merupakan saudara kembarnya yang masih hidup.
Seakan semua ingatan itu muncul begitu jelas di kepala Nur.
Sampai dirinya tak kuat menahannya dan kembali berteriak teriak kesakitan.
"Bunda...!!", teriak Nur kemudian pingsan di dekapan Zivana.
"Sanum....!!!", teriak Zivana histeris melihat Sanum yang terdiam dan tak bergerak sedikitpun.
"Kenapa dengan anak saya dok..??, kenapa dia tiba tiba terdiam..??", seru Marsel histeris.
"Dok..!!, tolong cucu saya...!!", ucap bu Sara menangis tiada henti di samping Zivana.
"Tenang ya buk, biarkan kami melakukan tugas kami", ucap dokter berusaha fokus menyelamatkan Sanum.
"Buk, pak, tolong ikut saya keluar, biar dokter bekerja", ucap seorang suster mengajak Zivana dan keluarganya keluar dari ruang rawat Nur.
"Saya mau tetap disini..!!", seru Zivana tak mau beranjak dari tempat duduknya.
"Biarkan kami disini", ucap bu Sara dengan nada memohon.
"Tapi buk....", ucap suster kemudian disela oleh Marsel.
"Biar saya yang bawa mereka keluar sus", ucap Marsel mencoba kuat demi keluarganya.
Ia pun menenangkan Zivana dan bu Sara dengan caranya.
Membuat Zivana dan bu Sara menurutinya tanpa perlawanan apapun.
Fitri, roh Sanum dan Rain yang melihat dari kejauhan nampak ikut tegang melihat keadaan Nur.
"Gimana kalau Nur gak selamat...,??", ucap lirih Rain di telinga Fitri.
"Sttttt...!!", ucap Fitri tak mau Sanum mendengarnya.
"Sanum bakal kehilangan raga untuk selamanya", ucap lirih lagi Rain di telinga Fitri.
"Sttt...!!", ucap Fitri lagi.
"Kan kasian Sanum, harus meninggal sebelum waktunya", ucap lirih Rain.
"Stttt, diem...!!", ucap lirih Fitri makin geram.
"Ya kalau Nur gpp, dia kan emang dah meninggal", ucap lirih Rain kembali.
"Sttttttt...!!, stttt, stt.....!!", ucap Fitri melototi Rain.
"Kali ini aku gak takut sama kamu...!!, Sanum berhak tau dong kemungkinan terburuknya", seru Rain berkacak pinggang di depan Fitri.
Plakkkkk...!!, plakkkk..!!!.
Dua pukulan mendarat di pipi Rain.
Selagi Rain mengusap pipinya yang terkena pukulan Fitri.
Roh Sanum terlihat tak bisa lagi membendung kesedihannya.
Fitri dan Rain seketika menghentikan pertengkaran mereka.
"Aku kangen ayah bunda..., aku kangen sekolah, aku kangen nenek..!!", seru roh Sanum terisak isak.
"Sabar Sanum....", ucap Fitri mencoba menenangkan Sanum.
"Iya Sanum, sabar", ucap Rain.
"Gara gara kamu...!!", ucap Fitri melototi Rain.
Rain hanya terdiam tak berani lagi berulah.
Tak berapa lama.
"Alhamdulillah..!!", seru dokter dari kejauhan.
"Alhamdulillah dok", ucap para suster menyelimuti Sanum yang kembali dalam keadaan stabil.
"Sungguh luar biasa anak ini", ucap dokter lalu berjalan keluar dari ruangan Nur.
"Kamu dengar Sanum...!!, dokter berkata, Nur selamat, jadi kita masih punya waktu untuk mencari cara agar kalian bisa bertukar roh lagi", ucap Fitri membuat roh Sanum agak merasa tenang.
Sementara di luar ruangan.
Zivana sudah nampak kehilangan tenaganya di pelukan bu Sara.
Bahkan bisa dikatakan, air matanya juga sudah kering merasakan ujian hidup yang tak ada henti hentinya itu.
Saat dokter membuka pintu, reflek semua keluarga menatap penuh harap pada sang dokter.
"Gimana anak saya dok..??", ucap lirih Zivana penuh harap dengan memegang kedua tangan dokter dihadapannya.
"Alhamdulillah, dia selamat", ucap dokter membuat semuanya merasa sedikit lega.
"Apa yang harus kami lakukan untuk menyembuhkannya dok...??, jujur saya tak tega melihatnya seperti itu, bahkan ini sudah 2 bulan lamanya", ucap Marsel meminta penanganan terbaik untuk anaknya.
"Percayalah pak, Allah tak tidur, ia sepertinya sangat sayang pada putri kalian, secara medis anak bapak dan ibuk tidak terindikasi apapun, imun yang terus menurun tidak diketemukan penyebabnya, semoga mukzizat Allah segera datang padanya, kalau begitu saya permisi dulu", ucap dokter meninggalkan Marsel dan keluarga lainnya.
Sementara di dalam ruangan.
Sanum, Fitri, dan Rain mencoba melihat lebih dekat keadaan Nur.
Badannya mulai kurus, banyak alat menempel padanya.
Bahkan sekarang selang oksigen pun dipasang di hidungnya.
"Kasian dia, sial di hidup maupun matinya", ucap Rain secara spontan.
"Jangan mulai lagi...!!", ucap lirih Fitri sambil mencubit tangan Rain sampai mengelupas.
"Awhhh..!!", teriak Rain dalam mode lirih.
"Yang kuat ya Nur..!!", ucap Sanum memeluk Nur.
"Sanum...!!", ucap lirih Nur sontak mengejutkan mereka bertiga.
Roh Sanum hanya terdiam, ia beranggapan bahwa ia telah keceplosan memanggil Nur dengan jati dirinya yang sesungguhnya.
"Kenapa kalian diam..??", ucap lirih Nur membuka selang oksigen di hidungnya.
"Jangan dibuka...!!", seru ketiganya malah membuat Nur tersenyum.
"Aku udah lebih baikan kok, Nur kalian sudah lebih baikan", ucap Nur malah membuat mereka bertiga saling pandang.
"Nur...??", seru Rain memperjelas semuanya.
"Iya, aku udah ingat semuanya", ucap Nur masih terbaring lemas tak berdaya.
"Kamu beneran udah ingat Nur..??", tanya Fitri masih tak percaya.
"Iya, aku ingat semuanya, mungkin Allah juga gak mau lihat Sanum terus bersedih ketika dia harus berpura pura menjadi orang lain, kenapa kalian tak cerita padaku saat aku lupa semuanya..??", ucap Nur memegang tangan roh Sanum.
"Kami tak mau kamu malah takut pada kami dan kamu malah bingung dengan jati dirimu", ucap roh Sanum.
"Kalian baik, makasih ya", ucap Nur terus memegangi kepalanya yang masih sakit.
"Sekarang kita harus cari cara, gimana buat tukar roh kalian lagi", ucap Fitri.
"Tapi, kalau kita bertukar roh, dan Sanum harus sakit seperti ini, lebih baik tak usah, biar aku saja yang merasakan ini semua", ucap Nur tersenyum pada Sanum membuat Sanum merasa beruntung bisa memiliki saudara.
"Gpp Nur, jika itu memang takdirku", ucap roh Sanum juga ikhlas jika harus menggantikan rasa sakit Nur.
"Nur...!!, kamu sakit itu karna raga Sanum menolak roh kamu, dan sejatinya memang kamu sudah tiada, jadi..., jika kalian bertukar, semua akan kembali seperti semula", ucap Fitri menjelaskan.
"Tuh..!!, denger suhunya...!!", seru Rain berkacak pinggang.
"Hmmmm, aku gitu, gak kayak hantu itu tuh, yang bisanya cuma nangis", seru Fitri melirik ke arah Rain.
Membuat semuanya tertawa dan melupakan sejenak masalah mereka masing masing.