
Mendengar penuturan dari dokter yang mengatakan Sanum tidak bisa lagi diselamatkan.
Membuat Zivana beserta yang lain sangat terpukul dan histeris.
Bahkan Zivana sampai berlari tunggang langgang saat masuk ke ruang igd.
"Anakku...!!", teriak Zivana beberapa kali terjatuh saat ingin mendekati ranjang tempat Sanum terbaring.
Ia tatap Sanum dalam dalam.
Ia tak percaya buah hatinya akan pergi jauh darinya.
Dalam pandangannya, Sanum hanya sedang tertidur saja, tidak lebih dari itu.
Air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Perasaan sebagai seorang ibu kala itu sangat tersayat sayat mendengar kenyataan pahit yang disampaikan dokter padanya.
Bahkan Marsel dan ibu kandung Zivana tak mampu berkutik bahkan untuk sekedar menenangkan Zivana.
Bagaimana mereka bisa membuat Zivana tenang saat mereka juga amat terpukul mendengar kabar itu.
Tangisan menggema di ruangan igd.
Dokter dan suster hanya tertunduk sedih merasakan duka yang ada di hadapan mereka.
"Anak cantik, anak baik, bangun nak..!!, jangan nakal dengan berpura pura tidur seperti itu", ucap Zivana mengelus wajah cantik mungil yang berada di depannya sambil terus menangis tersedu sedu.
Dokter yang tak tega melihat kesedihan dari keluarga pasiennya yang berlarut larut, mencoba mendekati Marsel dan mengutarakan hal terakhir yang harus dilakukan pada raga Sanum.
"Maaf pak, saya mohon izin untuk melepas alat bantu hidup Sanum yang terakhir, semoga semua keluarga ikhlas", ucap Dokter mengutarakan langkah terakhir yang harus dilakukan sebelum Sanum benar benar dinyatakan meninggal.
Karna saat alat bantu nafasnya dilepas, otomatis Sanum akan menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat itu juga.
"Tidak...!!, anakku hanya sedang tidur..!!", seru Zivana tak terima.
"Tapi buk, kasian anak ibuk", ucap Dokter mencoba membujuk.
"Apa yang kamu tahu tentang anakku..!!, dia itu gadis kuat, bahkan dia lebih bijak dari kami saat ada masalah dalam keluarga, bahkan terhadap saudara kandungnya", ucap Zivana menangis sembari mencium tangan Sanum.
"Sudahlah sayang, ikhlaskan..!!", ucap Marsel sambil menahan tangisnya dengan sekuat tenaga, mencoba untuk tegar demi Zivana.
"Bagaimana bisa mas...!!, kamu itu ayahnya atau bukan..!!", teriak Zivana sambil memeluk erat raga Sanum.
"Tidak mas...!!, jangan...!!, tolong jangan lakukan itu pada anak kita..!!, Sanummmmmmm...!!!, bangun nak...!!, bunda mohon", ucap Zivana mencoba melepaskan diri dari dekapan sang suami.
Saat Dokter dan para suster mencoba melepas alat bantu pernafasan yang ada pada Sanum.
Seketika sebuah mukzizat datang.
Tangan Sanum mulai bergerak dan langsung memegang tangan sang dokter.
Membuat semua orang terkejut.
"Bunda....!!", ucap lirih Sanum berusaha sadar tapi kemudian kembali pingsan.
Zivana dan Marsel segera mendekati Sanum dan memeluknya.
Mereka sangat bersyukur Allah masih memberi kesempatan mereka untuk merawat Sanum dan membesarkannya.
Dokter kemudian memeriksa kondisi Sanum sekali lagi.
Ia amat terkejut dengan apa yang dialaminya saat itu.
Bahkan di sepanjang karirnya sebagai dokter, ia tak pernah mendapati kasus semacam itu.
"Luar biasa..!!, Allahhu akbar, jantung yang tak lagi merespon alat kami, tiba tiba berdetak normal kembali", ucap sang dokter membuat Zivana beserta keluarga bersujud syukur atas kebaikan Allah kala itu.
"Jadi bagaimana keadaan anak kami dok..??", ucap Marsel bersemangat.
"Anak bapak dan ibuk memang masih kritis, butuh penanganan yang ekstra, tapi ia selamat", ucap dokter membuat Zivana bahagia dan kembali memeluk erat Sanum dengan penuh rasa syukur.
Terima kasih ya Allah, gumam Zivana tiada hentinya bersyukur terhadap kebaikan Allah yang datang padanya.
Sejak itu, Sanum dirawat di rumah sakit hingga kondisinya pulih kembali.
Mereka bersyukur atas keselamatan Sanum, dengan cara memberikan sumbangan terhadap anak yatim dan menyumbangkan sedikit harta mereka untuk membantu biaya pasien yang tidak mampu.
Mereka tak tahu, yang terbaring di sana memang raga Sanum, tapi didalamnya adalah roh Nur.
Lalu kemanakah roh Sanum...??.
Kenapa ia tiba tiba menghilang setelah roh Nur masuk kedalam raganya...??.