Nur

Nur
Dunia baru Sanum...



Semenjak roh Sanum terlepas dari raganya, dan jati dirinya digantikan oleh Nur.


Membuat roh Sanum mau tak mau harus beradaptasi dengan dunianya barunya.


Dia yang sekarang tak pernah merasakan tidur, makan enak, bahkan teman yang normal dari biasanya.


Sanum harus beradaptasi dengan teman teman rohnya yang terbilang cukup menakutkan dan aneh bagi manusia.


Ada yang berwajah seram, bertangan satu, berwajah tua dengan perawakan muda, dan banyak lainnya.


Di awal, Sanum mencoba mengontrol dirinya agar bisa menyembunyikan rasa takutnya.


Tapi sekarang, ia sudah terbiasa dengan itu semua.


Terkadang ada satu hal yang mengganggunya.


Membuatnya merindukan saat saat menjadi manusia.


Saat ia melihat banyak anak anak sebayanya berangkat ke sekolah, apalagi dengan gandengan tangan dari sang bunda di sepanjang jalan menuju ke sekolah seperti yang Nur rasakan saat ini.


"Dengan susah payah aku akhirnya bisa kembali bersekolah, tapi ternyata takdir mengambil kesempatan itu lagi", keluh Sanum duduk di ayunan tempat yang dulu menjadi tempat favorit Nur di halaman belakang rumah.


"Sanum kenapa...??", tanya Rain tiba tiba muncul di hadapan Sanum.


"Enggak, gpp kok", ucap Sanum mencoba tersenyum dihadapan Rain.


Sesaat kemudian.


Fitri ikut muncul di hadapan Sanum.


Tidak seperti Rain, Fitri langsung menyadari kesedihan yang sedang di sembunyikan oleh Sanum saat itu.


Nampak Fitri tahu, kemana arah fokus pandangan Sanum saat itu.


"Kamu rindu bersekolah seperti mereka..??", ucap Fitri memandang apa yang sedari tadi dipandang oleh Sanum.


"Apa enaknya sekolah...!!", gerutu Rain langsung menyahut saat memandangi tas yang penuh akan buku di punggung anak anak yang sedang berangkat sekolah.


Plakkkkk......(pukulan keras dari Fitri kembali mendarat pada Rain).


"Kau gak liat apa..!!, Sanum lagi sedih..!!", seru Fitri kesal.


Lalu pandangan Rain beralih ke Sanum yang masih terlihat murung.


"Aku liat ...!!, bukan kayak kamu yang matanya ketutup sebelah", seru Rain mencoba menghibur Sanum dengan cara meledek Fitri.


Tapi gurauannya bukannya membuat Sanum tersenyum, malah memancing amarah Fitri.


"Beraninya kamu...!!", teriak Fitri membuat Rain bersembunyi di belakang Sanum.


"Udah udah...!!, kalian itu sahabatku satu satunya, jangan bertengkat terus ya", seru Sanum memegang tangan Fitri yang telah siap mendarat di wajah Rain lagi.


Seketika amarah Fitri mereda.


"Jangan sedih lagi ya", ucap Fitri memegang kedua tangan Sanum.


"Jadi gini ya rasanya jadi Nur", ucap Sanum tersenyum kecil.


"Maksudnya...??", ucap Fitri tak mengerti.


"Ada tapi tak terlihat, tidak bisa melakukan apapun, bahkan untuk merasakan lelapnya tidur di malam hari, apalagi mengharap kehangatan dari ayah dan bunda", ucap Sanum membuat Rain dan Fitri terdiam.


"Ini sudah nasib kami Sanum", ucap Fitri yang kemudian menghiburnya.


"Pantas saja, sejak kecil Nur selalu terpancing amarah, sekarang aku tau kenapa., mendekat ke bunda saja tak mungkin, apalagi mendapat kasih sayang darinya seperti yang kudapatkan setiap harinya", ucap Sanum mengingat setiap kenakalan Nur yang sebenarnya hanya ia lakukan untuk menarik perhatian dari kedua orang tuanya.


"Dia bisa apa lagi Sanum", ucap Fitri meratapi nasib Nur dan nasibnya sebagai roh.


"Jika aku menjadi manusia lagi, aku akan ceritakan dukaku ini pada bunda, aku akan buat ayah dan bunda mengerti tentang duka yang Nur rasakan, rasanya tak enak..!!, bahkan lebih buruk dari rasa masakan nenek Rukmi", ucap Sanum yang awalnya membuat Fitri dan Rain bersedih berubah menjadi saling berpandangan.


"Setidaknya Nur sekarang juga akan merasakan rasa masakan neneknya kan..!!, jadi kalian satu sama", ucap Fitri menahan tawa.


"Iya yaa, aku akan buat Nur merasakan rasa masakan nenek sebelum ia jadi roh lagi, gak adil kalau dia cuma rasain enaknya aja jadi manusia", ucap Sanum mendapatkan sebuah ide mengerjai Nur.


"Kayaknya asik...!!, aku ikut...!!", seru Rain bersemangat.