Nur

Nur
Penolakan dari sang nenek...



"Emmmm, masakan kamu gak pernah berubah ya sayang...!!", seru bu Sara menikmati sarapan buatan anak semata wayangnya.


"Makasih mi", ucap Zivana dengan raut wajah seakan masih bimbang untuk mengutarakan keinginan Nur pada bu Sara.


Nur yang tak sabar, kemudian masuk ke dalam raga Sanum.


Mendekati bu Sara dan terus bermanja di pangkuannya.


Melihat itu, Zivana langsung menatap Sekar.


"Sanum tidak akan manja seperti itu", bisik Zivana mengutarakan apa yang tengah ia pikirkan.


Sekar hanya mengangguk, tanda bahwa itu bukanlah Sanum seperti dugaan Zivana, melainkan ialah Nur yang meminjam raga Sanum.


"Nur.!!, apakah perlu...??, hanya untuk mendapat perhatian nenek kamu harus meminjam ragaku..??", seru Sanum yang tak di hiruakan oleh Nur yang tengah asyik bersama sang nenek.


"Nur akan terus di sana sampai kita menurutinya nyonya...??", ucap lirih Sekar yang ternyata masih bisa di dengar oleh bu Sara.


"Menuruti apa...??, kok kalian gak makan sih..??, nanti nenek sama Sanum lhoo yang habisin..!!", seru bu Sara terus saja menyuapi Nur.


Zivana pun mendekati bu Sara dan duduk di sampingnya.


Ia sempat menatap Nur yang tersenyum senang dalam raga Sanum.


Zivana menghela nafas panjang dan segera mengutarakan apa yang ingin ia utarakan.


"Mi, misalkan adik Sanum masih ada, bagaimana sikap mami padanya ...??", tanya Zivana memancing percakapan.


"Tentu bahagia dong..!!, bakal sering sering nenek ajak jalan jalan, beli baju bagus, beli boneka, mainan, semua bakal nenek kasih", seru bu Sara dengan ekspresi yang membuat Nur makin kegirangan.


"Sungguh nek...!!, bunda denger kan...!!", seru Nur memeluk sang nenek.


"Eh...!!, kenapa cucu nenek...??, gak biasanya manja banget...!!, kayak belum pernah di manja aja sama nenek", ucap bu Sara mencubit pipi Nur.


"Lagi dong nek...!!", seru Nur menarik tangan bu Sara untuk mencubit manja pipinya lagi.


Begitu bahagianya Nur sampai membuat Zivana dan Sekar makin khawatir kalau kalau reaksi bu Sara tak sesuai harapan Nur jika ia tahu yang sebenarnya.


Bagaimana nanti reaksi mami ya..??, gumam Zivana dalam hati.


Bu Sara yang merasa ada yang aneh dari sikap cucu satu satunya itu tak sampai hati mengutarakannya pada Zivana.


Kemudian Zivana mencoba memegang tangan bu Sara, sementara Nur bertepuk tangan kegirangan, tak sabar ia mendengar sang bunda mengungkap keberadaannya.


"Apakah ada yang tak beres dengan Sanum..??, kenapa tingkahnya seperti orang lain dimata mami...??", ucap lirih bu Sara pada Zivana.


"Mi, berjanjilah agar tidak panik", ucap Zivana khawatir tekanan darah bu Sara naik.


"Ada apa ini sebenarnya...??", seru bu Sara menatap Sekar yang langsung menunduk di di hadapannya.


"Sebenarnya yang bersama mami ini adalah Nur", ucap Zivana membuat bu Sara menatap heran ke arah anaknya.


"Sayang..!!, mami ini memang sudah tua, tapi belum pikun, kamu gak harus menciptakan Sanum untuk berpura pura menjadi sosok Nur adiknya hanya untuk membahagiakan mami", ucap bu Sara masih berfikir bahwa Zivana hanya ingin membuatnya senang.


"Ini kenyataan mi, Nur berada di rumah ini sebagai roh, dan ia bisa berbagi raga dengan Sanum", ucap Zivana, kali ini membuat bu Sara kaku tanpa ekspresi dibuatnya.


"Apa yang kamu bicarakan...??, Sekar..!!, kenapa dengan anak saya..??", seru bu Sara mulai khawatir.


"Mi....!!, dengerin Zivana..!!, Zivana sehat, Zivana baik baik aja..!!, Nur ingin keberadaannya di akui oleh mami, makanya ia menyuruh Zivana untuk bilang ini ke mami", ucap Zivana melihat raut wajah bu Sara yang mencoba mencerna apa yang coba Zivana utarakan.


Bu Sara hanya diam tanpa kata.


Membuat senyum Nur yang tadinya mengembang sempurna menjadi redup dan penuh tanya.


Zivana dan Sekar pun saling berpandangan.


Mereka takut kekhawatiran mereka terjadi.


Bahkan Sanum pun gelisah melihat semua itu.


"Jangan ucapkan hal menyakitkan nek..!!, Sanum mohon", ucap lirih Sanum sambil memandang mereka dengan perasaan was was.


Bu Sara seketika bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke pintu depan.


Zivana, Sekar, bahkan Nur ikut beranjak dari duduknya dan segera mengejar bu Sara.


"Nenek...??", ucap Nur mengusap air matanya dan segera mengejar sang nenek.


"Mi...!!", seru Zivana mencoba menghadang jalan bu Sara, tetapi tak dihiraukan oleh sang mami, bahkan ia dilewati tanpa di pandang sedikitpun oleh bu Sara.


"Nenek kenapa...??, Nur juga cucu nenek.!!", seru Nur ikut menghadang pintu depan, menghalangi bu Sara agar tak pergi dari rumah mereka.


Seketika bu Sara menghentikan langkahnya.


Nampak jelas ia berusaha menahan air matanya agar tak menetes.


Ia menatap mata Nur sembari memegang kedua bahu Nur.


"Siapapun kamu, yang kutahu adalah....., Sanum dan Nur memang cucuku", ucap bu Sara membuat senyuman Nur kembali merekah.


"Tapi....!!, Nur sudah dipanggil yang kuasa sejak ia dilahirkan, dan hanya Sanum lah yang ada sekarang, dan itulah faktanya..!!", ucap bu Sara tak kuasa menahan air matanya, ia juga tak kuasa menutupi suara hatinya untuk berbicara yang menurutnya benar.


Seketika mata Nur basah akan air mata, begitu juga Zivana dan Sekar yang tak kuasa melihatnya.


"Siapapun kamu..!!, kamu sudah tidak boleh mencampuri urusan manusia lagi..!!, ini bukan alammu..!!, biarkan yang memang menjadi raga Sanum menjadi utuh miliknya saja", ucap bu Sara sambil menangis histeris sembari mengguncang kedua bahu Nur.


"Cukup mi...!!, ini bukan salahnya..!!", seru Zivana tak tega melihat Nur.


"Kamu yang diam Zivana...!!, apa begini ajaran agama yang mami ajarkan ke kamu...m!!", teriak bu Sara menatap mata Zivana dengan penuh amarah.


"Mi...!!, bukan begitu", ucap Zivana mencoba meredam amarah bu Sara.


"Kamu tau kan..??, kenyataannya Nur telah meninggal, dan itu memang faktanya, kenapa kamu malah memberi celah agar ia leluasa di rumahmu, dihidup kalian..!!, apa yang kamu fikirkan..!!", seru bu Sara mencoba memberi pengertian pada anaknya yang ia anggap telah melakukan kesalahan besar.


"Ini juga bukan keinginan ku ataupun mas Marsel maupun Nur mi..!!, kami juga tak menginginkan ini", seru Zivana menangis tertunduk di di hadapan bu Sara.


Sekar dan Sanum pun hanya bisa menangis menyaksikan semuanya.


"Ini tak benar nak..!!", seru bu Sara mengguncang bahu Zivana yang tertunduk di depannya.


"Nur juga anak Zivana mi, ini semua juga terjadi atas izin Allah, pasti ada alasan kenapa Nur masih tertahan di dunia ini, dan mungkin ini kesempatan juga bagi Zivana untuk mengenalnya", ucap Zivana pasrah dengan semua keputusan dari bu Sara.


Bu Sara kembali menatap Nur yang saat itu sedang menangis tersedu sedu.


"Nur..., dengarkan nenek..!!, ini benar kamu ataupun tidak, nenek coba memahami semuanya, dan nenek mohon jika itu benar kamu, keluarlah dari raga Sanum dan beristirahatlah dengan tenang di alammu, kamu akan selalu jadi cucuku, tapi terlebih dulu, kamu harus sadar dengan alammu", ucap bu Sara kemudian berjalan meninggalkan kediaman Zivana.


Meninggalkan Zivana dan semuanya yang masih menangis meratapi nasib Nur, terlebih lagi Nur yang meratapi nasib dirinya sendiri.


"Kenapa nek...??, sungguh ini bukan keinginanku, akupun ingin hidup layaknya saudara kembarku, bukannya meninggal dan terasingkan dari dunia kalian", ucap Nur lirih sambil terus menangis memandangi sang nenek yang perlahan lahan lenyap dari pandangannya.