
Jam menunjukkan pukul 2 malam.
Seperti yang sering terjadi, Marsel sedang ada pekerjaan di luar kota.
Para pembantu dan supir memiliki tempat tinggal sendiri di belakang dapur, cukup jauh dari letak kamar Zivana.
Sedangkan bu Rukmi, boro boro untuk menginap, untuk mengunjungi Sanum dan Zivana pun ia tak pernah.
Suasana rumah nampak sepi dan sunyi.
Zivana terlihat masih terlelap dalam tidurnya.
Oekkkk...!!, oekkk.
Sebuah tangisan terdengar dari arah box bayi Sanum, membuat Zivana terbangun dan segera membuatkan susu formula untuknya.
Karna Sanum memiliki kelainan pada paru parunya, ia membutuhkan susu khusus setiap harinya disamping asi yang ia minum.
"Bentar ya sayang", ucap Zivana sambil menyeduh susu di meja tak jauh dari ranjangnya.
Setelah susu dalam botol siap, ia bergegas berjalan menuju ke arah Sanum berada.
"Bunda datang...!!", seru Zivana.
Sedangkan Nur, menghentikan tangisnya dan tersenyum melihat sang bunda membuatkannya susu.
Saat Nur ingin mengambil susu dari tangan bundanya, Zivana berlalu melewatinya dan berhenti di tempat tidur box bayi Sanum.
"Lho...!!, kamu kok dah tidur aja..!!, tadi minta susu", ucap Zivana merasa heran dan mengecup dahi Sanum yang masih terlelap.
Hal itu membuat Nur sangat bersedih.
"Ini Nur .....", ucap Nur menghilang dari kamar Zivana.
Angin berhembus menerpa Zivana.
"Perasaan ini lagi..!!, perasaan apa ini..??", seru Zivana mulai merasa ada yang aneh ketika angin tiba tiba sering berhembus tanpa adanya jendela yang terbuka.
Sejak saat itu, hampir setiap malam, Zivana akan mendengar tangisan bayi.
Dan seperti biasa juga, saat didekati, Sanum ternyata tengah tertidur lelap.
Ia tak pernah tau, bahwa itu adalah tangisan dari Nur, yang mengharapkan perhatian Zivana seperti layaknya saudara kembarnya.
Zivana masih beranggapan bahwa itu adalah Sanum.
Ia tak berfikir lebih jauh lagi tentang sesuatu yang ganjal telah terjadi.
Keesokan harinya, seperti biasanya, jadwal Sanum memeriksakan kesehatannya setiap 1 bulan sekali.
"Bang..!, antar saya ke rumah sakit ya", seru Zivana sambil menggendong Sanum memasuki mobil.
"Baik nyonya", seru Bang Danu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Beberapa saat kemudian Zivana dan Sanum sudah berada di rumah sakit.
15 menit menunggu, tiba giliran mereka untuk masuk ke ruangan dokter.
Entah kenapa, saat Sanum masuk ke ruangan periksa dokter ia tiba tiba menangis tanpa henti.
"Cup sayang..!!, kamu kenapa..??, dari tadi juga anteng banget kok tiba tiba nangis", ucap Zivana menenangkan Sanum.
"Pagi buk Zivana..!!", seru dokter masuk ke dalam ruangannya menemui Zivana dan Sanum.
Ia terheran heran melihat Sanum yang terus menangis walaupun Zivana telah menenangkannya bahkan memberinya susu.
"Apakah setiap hari seperti ini..??", ucap Dokter memeriksa Sanum.
"Tidak dok, di rumah Sanum sangat jarang sekali menangis, mungkin dia menangis saat malam hari ketika ia minta minum susu", ucap Zivana menjelaskan.
"Kondisinya sehat, mungkin dia sedang kolic, saya akan resepkan obat rutin dan vitaminnya ya", ucap dokter menuju mejanya dan menulis sebuah resep obat untuk Sanum.
Tanpa mereka sadari, ada sebuah roh anak laki laki berusia sekitar 4 tahun berdiri di samping Sanum.
Ia penasaran dengan Sanum yang mungil dan lucu.
Sanum yang bisa melihatnya lah alasan ia menangis tanpa henti.
Tiba tiba, Nur muncul di sisi lain Sanum, ia mengusir roh anak laki laki yang sedari tadi membuat Sanum menangis.
"Pergi...!!", seru Nur menunjuk anak lelaki itu sembari melototinya.
Sanum pun menghentikan tangisannya, ia menatap seorang anak perempuan di sampingnya, yang tak lain ialah Nur.
Nur menatap Sanum keheranan.
"Kau bisa melihatku..??", seru Nur tersenyum pada kakaknya itu.
Sanum yang masih berusia 5 bulan hanya tersenyum dan tertawa di depan Nur.
Sikap Sanum membuat Nur sedikit melupakan bahwa ia sangat kesepian tanpa keluarganya.
"Setidaknya kita bisa berteman kak", seru Nur bahagia.
Sedangkan Zivana yang melihat perubahan Sanum yang tadinya menangis menjadi tertawa dan tersenyum menjadi sangat keheranan.
"Sayang ..!, kamu liat apa..??, bunda gak liat apa apa tuh..", seru Zivana melihat kemana tatapan Sanum mengarah, dan kenapa dia bisa tertawa sebahagia itu.
"Mungkin dia sudah memiliki teman khayalannya sendiri buk", ucap dokter mengulurkan resep obat untuk Sanum.
"Trima kasih dok, dannn.....!!, apa dok..??, teman khayalan..??", seru Zivana heran.
"Ya..!!, ya semacam teman yang pola pikir kita ciptakan", ucap dokter menjelaskan.
"Apakah itu normal dok..??", seru Zivana merasa khawatir.
"Itu hal yang normal, sebagian anak mengalaminya, tinggal kita menjaganya saja saat bermain, agar ia tak terlalu bersemangat dengan dunia khayalannya yang membuatnya lupa akan dunia nyata, dan saat dia tumbuh besar ia akan berangsur angsur melupakan khayalannya itu", ucap Dokter membuat Zivana sedikit lega.
"Baiklah kalau begitu dok, saya permisi, assalammualaikum", ucap Zivana berjalan pergi dari ruangan dokter.
Teman khayalan...??, gumam Zivana dalam hati masih agak khawatir dengan kondisi Sanum.
Dalam perjalanan pulang.
Ia tak sengaja bertemu dengan mertuanya di pinggir jalan.
"Mami..!!, sepertinya mobil nenek sedang mogok nak, bang..!! kita berhenti di depan ya", seru Zivana meminta bang Danu menghentikan mobilnya.
"Mami..!!", seru Zivana keluar dari mobil sembari menggendong Sanum.
"Ahhh..!!, kenapa harus ada dia sih..!!", ucap lirih bu Rukmi tak suka dengan kehadiran Zivana dan Sanum.
"Mami mobilnya mogok..??", ucap Zivana mencium punggung tangan mertuanya.
"Ya kamu liatnya gimana..!!", ketus Bu Rukmi kasar.
"Aku antar pulang yuk mi..", seru Zivana menawarkan bantuannya, bagaimanapun sikap mertuanya, ia tetap ibu yang melahirkan suaminya.
"Gak usah..!!, supir mami masih sanggup benerin kok..!!, ngomong ngomong kamu dari mana..??, kluyuran gak jelas..!!, seru bu Rukmi.
"Kami dari rumah sakit mi, cek kondisinya Sanum", ucap Zivana.
"Kenapa lagi dengan anak penyakitan itu...??", ketus Bu Rukmi tak suka.
"Astagfirullah mi, ini juga cucu mami, aku berusaha rutin memeriksakan kondisinya agar bisa pulih seperti yang kita harapkan mi.
!!", seru Zivana dengan mata berkaca kaca.
"Trus..!!, apa kata dokter..??", tanya bu Rukmi.
"Kondisinya sehat, hanya disarankan obat rutinnya terus diminum sampai kondisinya benar benar membaik, dan kata dokter Sanum sudah memiliki teman khayalannya, dengan kata lain imajinasinya berkembang baik", ucap Zivana.
"Imajinatif apa gila..!!", seru Bu Rukmi tertawa.
"Astagfirullah mi..!!, jika memang mami tak suka dengan Sanum, setidaknya jangan menghinanya, karna ucapan itu ialah doa mi", ucap Zivana tak bisa membendung air matanya lagi.
"Capek ngomong sama kamu..!!, sana sana pergi..!!", seru bu Rukmi mendorong Zivana agar cepat pergi dari hadapannya.
"Ya Allah", seru Zivana berjalan kembali ke arah mobilnya dengan air mata yang mengalir deras.
"Nyonya..!!, kenapa gak ikut sama non Zivana sih, kan nyonya tau mobilnya masih nunggu di derek, saya gak bisa atasi sendiri", ucap Supir bu Rukmi mengibas ngibaskan kertas di tubuhnya untuk menghilangkan gerah tubuhnya.
"Berisik kamu..!!, saya gak sudi ya pulang sama dia, mending saya pakek taksi online aja", ketus Bu Rukmi merogoh ponselnya dan memesan taksi online seperti ucapannya barusan.
"Yang sabar ya buk", ucap Bang Danu menghibur majikannya.
"Saya gpp bang, ayo pulang, kasian Sanum, oh ya..!!, jangan bilang mas Marsel tentang kejadian ini ya ", ucap Zivana mengusap air matanya.
Cepat sehat ya sayang, buktikan kalau omongan nenek itu salah, Sanum anak kuat anak sehat, gumam Zivana dalam hati mengecup pipi Sanum yang tengah tertidur dengan pulasnya.