Nur

Nur
Dasar sebuah hubungan.



"Kenapa bisa gitu ya mas..??", ucap Zivana kembali bersama Marsel setelah mengikuti proses pemakaman mbok Dadap.


"Entahlah, aku juga bingung", ucap Marsel berjalan menuju kamar bu Rukmi.


Sementara di dalam kamar.


Mami Morra segera kembali berpura pura tak sadarkan diri.


Saat masuk ke dalam kamar bu Rukmi.


Marsel dan Zivana sama sama terdiam cukup lama di sisi ranjang.


Mereka masih bimbang dengan apa yang harus mereka lakukan.


Bu Rukmi sudah jahat sekali terhadap mereka, tetapi dia juga sedang tak berdaya.


Jika ia meninggalkannya pun itu akan menjadi contoh buruk bagi Sanum putri mereka.


"Aku tau mami banyak salah, tapi bisakah kita rawat dia...??, ya setidaknya sampai dia pulih, aku tak tega melihat keadaannya dan tubuhnya di pasangkan infus serta alat alat lainnya seperti itu", ucap Marsel memegang kedua tangan Slavina.


"Dia juga mami ku mas, yang lalu biarlah berlalu, lagi pula masa lalu tak bisa kita rubah", ucap Zivana mencoba ikhlas dengan semuanya.


"Terima kasih sayang", seru Marsel memeluk Zivana dengan eratnya.


"Aku cuma berharap, saat kita tua nanti, Sanum juga mau memaafkan kita ketika kita melakukan kesalahan", ucap Zivana mengusap air matanya.


"Aku heran, kenapa mami sangat tak suka dengan mu..?, padahal belum tentu wanita lain akan sebaik dirimu", ucap Marsel.


"Tak usah di ungkit lagi mas, kita itu suami istri, dasar hubungan kita itu saling percaya dan saling menguatkan, suka duka kita harus kita lalui bersama sama", ucap Zivana dengan senyum cantiknya.


Berani berani nya mereka bermesraan di depanku..!!, gumam mami Morra masih dengan sikapnya berpura pura tak sadarkan diri.


Bagaimana jika hubungan mereka retak...??, pasti akan seru sekali...!!, lagian itu juga yang diharapkan Rukmi, jadi aku tinggal wujudkan keinginan Rukmi yang tertunda, gumam mami Morra lagi.


Seketika mami Morra mencoba membuka matanya, membuatnya seakan telah terbangun dari koma.


"Mas...!!, mami mas..!!", seru Zivana bergegas mendekat ke arah bu Rukmi.


"Masyaallah..!!, akhirnya mami sadar juga", ucap Marsel mencium tangan bu Rukmi.


Aku bangun hanya untuk membuat kalian bertengkar, tunggu aja tanggal mainnya...!!, gumam mami Morra dalam hati.


Ia berpura pura lumpuh dan tak bisa bergerak sedikitpun.


"Mi...??, mami kok diem aja..??", seru Marsel khawatir dengan diam nya bu Rukmi.


"Coba kamu telfon dokter mas", seru Zivana.


Dengan sigap, Marsel mencoba menelfon dokter.


Dan saat itu juga.


"Kalian gak masuk...??", seru Fitri.


"Ogah..!!", seru Sanum berkacak pinggang.


"Nenek lampir juga...!!, gak usah di jenguk deh..!!", seru Fitri.


"Tapi aku kok ngerasa ada yang aneh ya sama nenek", ucap Nur.


"Tadi aku bilang ada yang aneh di rumah ini kamu bilang aku ngaco, sekarang kamu sendiri yang halu Nur...!!", seru Fitri berkacak pinggang sambil melotot memandang Nur.


"Ya kita lihat aja deh, gimana kelanjutannya", ucap Sanum.


Merasa ada peluang.


Mami Morra mencoba menggerakkan tubuhnya dengan seketika.


Seakan tubuhnya sedang mengalami kejang.


Ia membuat tangannya terlepas dari genggaman Zivana, yang membuat tangannya mendapat goresan dari kuku tangan Zivana.


Ternyata perhitungannya tak meleset.


tangannya berhasil memerah dan sedikit berdarah karna tergores kuku tangan Zivana.


Zivana yang terkejut atas kejangnya bu Rukmi tak menyadari goresan itu.


Saat Zivana ingin memanggil Marsel.


Sesaat kemudian tubuh mami Morra berhenti dari kejangnya.


"Syukurlah..", ucap Zivana lega.


"Dokter akan segera datang", ucap Marsel memasuki kamar bu Rukmi lagi.


"Ya sudah, aku bukakan pintu depan dulu ya mas", ucap Zivana sembari berjalan keluar kamar.


Saat Marsel ingin menyelimuti bu Rukmi.


Ia terkejut melihat tangan bu Rukmi yang tergores dan luka.


Sedangkan beberapa waktu yang lalu ia yakin tak ada luka itu di tangan bu Rukmi.


"Bagaimana mungkin..??, baru aja aku tinggal sebentar, dan siapa yang melakukannya, terlebih hanya ada aku dan Zivana saja sedari tadi", ucap Marsel menatap mami nya.


Dengan segera, mami Morra berakting meneteskan air mata di pelupuk matanya seakan sedang menangis.


Ia mencoba memancing kecurigaan Marsel lebih dalam lagi.