Nur

Nur
Yuk main..!!



"Lalu Cinderella hidup bahagia selamanya, tamat..!!, nah sekarang Sanum tidur ya", ucap Zivana mengecup dahi Sanum dan menyelimutinya.


Seketika Sanum menoleh ke sisi lain tempat tidurnya.


Yang membuat Zivana mengerti apa maksud Sanum.


"Selamat malam juga ya Nur", mencoba mengelus apa yang tak terlihat di depannya.


Nur pun tersenyum melihat Zivana masih mau menganggapnya ada.


Walaupun sering kali Nur terpancing emosi karna kasih sayang Zivana pada Sanum.


Zivana beranjak dari duduknya dan mematikan lampu kamar Sanum.


Ia lalu menutup pintu dan pergi dari sana.


Dalam sekejap, Nur telah berpindah dari sisi tempat tidur.


Ia kini tengah berdiri di samping saklar lampu kamar.


Klikk...!!.


Sanum yang merasa silau segera bangun dari tidurnya.


"Nur...??, kok di nyalain..??", seru Sanum menutupi matanya yang silau terkena cahaya lampu.


"Yuk main..!!", seru Nur menarik tangan Sanum.


"Tapi nanti bunda marah", seru Sanum merasa takut.


"Bunda gak akan marah kok, bentar aja", ucap Nur meyakinkan.


Sanum pun tersenyum dan menuruti permintaan Nur.


Mereka bermain tanpa kenal waktu.


Hari makin larut, bahkan jam terus berjalan sampai menunjukkan pukul 2 malam.


Sanum menguap, dan terus saja menguap.


Nur sengaja membuat Sanum lebih asyik bermain dan melupakan kantuk nya.


"Sekarang kamu jaga..!!", seru Nur menghilang dari hadapan Sanum.


Sanum yang sangat mengantuk terus menuruti permintaan Nur.


"Satu, dua.....tiga..!!, siap atau tidak aku datang..!!", seru Sanum membuka matanya dan mulai mencari Nur.


Sekali lagi Sanum menguap dan rasa kantuknya hampir tak tertahankan.


Tak terasa Sanum tertidur di samping tempat tidurnya.


Nur muncul di depannya dan tersenyum di hadapannya.


"Bermainlah terus bersamaku kak, bermainlah sampai kau lupa akan rutinitasmu sebagai manusia", ucap Nur lalu menghilang entah kemana.


Di pagi harinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Zivana tengah mempersiapkan sarapan di meja makan.


Melihat sarapan Sanum yang belum tersentuh, sontak ia memanggil Sekar.


"Sekar...??", seru Zivana.


"Iya nyonya", seru Sekar keluar dari dapur.


"Kamu gak bangunin Sanum..??", seru Zivana.


"Belum nyonya", ucap Sekar memandang ke arah lantai atas.


"Kenapa gak bangunin sih..??", ucap Zivana mengelap tangannya dan bergegas menuju ke kamar Sanum di ikuti oleh Sekar.


"Biasanya dia sudah terbiasa bangun subuh nyonya, jadi saya sudah jarang bangunin Sanum", ucap Sekar heran.


"Saya sepemikiran sama kamu, pasti ada yang aneh", seru Zivana mempercepat langkahnya menuju kamar Sanum.


Saat mereka membuka pintu kamar Sanum, mereka sangat terkejut dan segera berjalan mendekat ke arah Sanum yang tertidur di lantai.


"Astagfirullah..!!, Sanum..!!, kenapa kamu tidur di bawah..??", seru Zivana menggendong Sanum dan membaringkangkannya di atas tempat tidur.


Sekar dan Zivana bingung melihat mainan yang berserakan di segala tempat.


Dan Sanum yang terlihat masih sangat mengantuk.


"Sayang..!!, kenapa kamarmu berantakan sekali..??", tanya Zivana mencoba mencari jawaban dari Sanum.


"Tadi malam Sanum tak tidur bunda, hampir subuh mungkin Sanum tak sengaja tertidur di lantai", ucap Sanum terus menguap.


"Kenapa kamu tak tidur...??", seru Zivana heran.


"Nur minta bermain bunda, kasian kalau Sanum menolaknya", seru Sanum memejamkan matanya lagi di samping bundanya.


"Tapi bagaimana dengan privatmu..??", seru Zivana menatap Sanum yang sudah kembali tertidur.


Sementara Zivana dan Sekar saling tatap.


"Lagi lagi Nur, berapa kali aku harus memohon jangan usik hidup Sanum, apa kurangnya kita padanya..??, dia sudah bebas berada di sini", ucap Zivana membuat Nur muncul di depannya.


Sekar yang melihatnya amat terkejut karna kemunculannya yang tiba tiba.


"Jika aku tak boleh belajar dan bermain dengan kawan kawan, kenapa Sanum boleh..??", seru Nur yang hanya bisa di dengar oleh Sekar.


Melihat Sekar yang menatap tajam ke satu arah.


Zivana menegurnya.


"Kenapa denganmu..??", seru Zivana mencari apa yang sedang dipandang oleh Sekar.


"Tidak ada nyonya..", seru Sekar menyembunyikan tentang iri hati Nur yang semakin menjadi pada Sanum.


Semakin hari Nur semakin tak suka dengan kehidupan Sanum.


Apapun yang Sanum lakukan ia rasa tak adil baginya.


Nur berfikiran bahwa semua yang Sanum bisa dan dapatkan harus ia dapatkan juga.


Bahkan hari ini Nur sudah berhasil membuat jadwal privat Sanum berantakan.


Tidak hanya hari itu, bahkan hari hari berikutnya pun menjadi kacau balau.