Nur

Nur
Saudara selama nya...(Tamat).



"Yah...!!, kenapa mereka semua menangis...??, dan kenapa ada yang di tutup kain putih keluar dari ruang igd...??", seru mbak Fara mulai gelisah.


"Kita harus tolong anak kita", ucap Daren bergegas masuk ke dalam bersama dengan istri nya.


Belum sempat mereka melewati pintu depan.


Sebuah tangan menarik tangan mereka dari belakang.


Betapa terkejut nya mereka saat menoleh ke arah belakang.


Nampak seorang gadis kecil tersenyum manis kepada mereka.


"Na, Naya...??, anak ibuk..??", seru mbak Fara menangis tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Apa yang telah mereka lakukan padamu sayang..??, kenapa kamu lepas dari raga itu...??", seru Daren terlihat emosi.


"Ibu gak rela nak", ucap mbak Fara tersedu sedu.


"Buk, ikhlaskan Naya, ini sudah keputusan Naya", ucap Naya mencoba mengusap air mata yang menetes di pipi ayah dan ibu nya.


"Jangan tinggalkan kami", ucap Daren memohon di hadapan roh sang anak.


"Ayah, hentikan semua nya, aku hanya melakukan yang seharusnya", ucap Naya memberi pengertian pada orang tua nya.


"Jika mereka tak pernah menemukan kita, pasti kamu tetap menurut pada ayah dan ibu", seru Daren menatap Zivana dan Marsel yang masih menangis di sudut lorong.


"Apa kalian senang melihat aku seperti mayat hidup...??", keluh Naya.


"Kamu gak mengerti rasa nya kehilangan anak Naya...!", seru mbak Fara mencoba meraba wajah cantik putri nya.


"Apa ibu gak kasihan sama Naya...??", ucap Naya membuat ibu nya tak bisa berkata kata.


"Semua kami lakukan demi kamu Naya...??", seru Daren tersedu sedu.


"Terima kasih ayah, aku sangat beruntung menjadi anak kalian, tapi yang aku butuhkan kini adalah kalian ikhlas melepasku", ucap Naya.


"Apa kamu bahagia..??", tanya mbak Fara menatap anak semata wayang nya.


"Tentu, selama doa kalian bersama ku", ucap Naya memeluk kedua orang tua nya untuk yang terakhir kali nya.


"Maafkan kekhilafan kami selama ini sayang, tunggu ayah dan ibu di sana", ucap Daren menatap lekat lekat wajah putri nya yang tak mungkin ia temui kembali.


"Aku sudah kembalikan raga milik Nur, biarlah mereka kebumikan dengan layak anak mereka, sekali lagi, terima kasih ayah ibu, aku sayang kalian", ucap Naya seketika memudar dari hadapan Daren dan mbak Fara.


Mereka pun meringkuk menangis meratapi nasib Naya anak semata wayang mereka.


Saat itu pula, Zivana dan Marsel berjalan mendekati mereka.


"Ikutlah kedalam, kalian tak mau melihat nya untuk yang terakhir kali..??, dia juga anak kalian, saat kain kafan menutupi nya nanti, alangkah baik nya kita orang tua nya melihat untuk yang terakhir kali", ucap Zivana mengulurkan tangan nya pada mbak Fara.


Hati yang membatu dan dipenuhi ambisi kala itu sudah luluh dan hancur.


Mereka dengan lapang dada menerima kenyataan pahit itu sekali lagi.


Mbak Fara dan Daren menerima dengan baik ajakan dari Zivana dan Marsel untuk sama sama mengurus pemakaman Nur.


Pagi itu suasana berkabung kembali datang di keluarga Zivana.


Bahkan saat kondisi Sanum belum siuman, mereka terpaksa harus memakamkan Nur tanpa sepengetahuan Sanum.


"Terima kasih atas kebaikan kalian, kami minta maaf telah berlaku lancang pada raga anak kalian, kami minta maaf", seru mbak Fara bersujud di kaki Zivana.


"Sudahlah mbak, yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting anak kita sudah tenang di alam nya", ucap Zivana memeluk mbak Fara untuk mengurangi kesedihan satu sama lain.


Malam itu.


Sanum terbangun dari tidur nya saat terdengar suara samar tawa dari saudara nya.


"Nur...!", seru Sanum membuat Zivana ikut terbangun.


"Sayang, kamu udah siuman...!!", seru Zivana begitu bahagia dan dengan cepat memanggil suster dan dokter yang tengah berjaga.


Berangsur angsur kondisi Sanum mulai membaik.


Dan berhari hari pula, Zivana selalu merahasiakan kenyataan tentang Nur.


"Hari ini Sanum sudah boleh pulang", ucap dokter kembali memeriksa kondisi Sanum.


"Alhamdulillah", seru Zivana dan Marsel secara bersamaan.


"Jaga kesehatan ya anak pintar", ucap sang dokter tapi tak dihiraukan oleh Sanum.


Pandangan nya masih sibuk mencari keberadaan Nur yang tak ia lihat sejak beberapa hari terakhir.


"Sanum...??", seru Zivana.


"Iya dokter, terima kasih", sahut Sanum seketika.


"Saya permisi dulu", ucap dokter keluar dari ruangan Sanum.


"Kenapa sayang ..??", tanya Zivana mengelus rambut Sanum.


"Kan bunda sudah bilang, Nur gak mungkin dong harus setiap waktu temenin kamu", ucap Zivana mencari cari sebuah alasan.


"Bunda pasti bohong, dan ya..., tubuh ku nampak sehat tanpa merasa sakit sedikitpun, apa ini ada hubungan nya dengan Nur...??", seru Sanum mendesak sang bunda.


"Anak kita sudah besar, biarkan dia tahu semua nya..", seru Marsel memberi pengertian pada Zivana.


"Tapi mas..!!", seru Zivana semakin membuat Sanum curiga.


"Bunda ...??", seru Sanum semakin mendesak.


Melihat Sanum yang terus bersikeras.


Zivana pun menghela nafas dan memegang tangan Sanum.


Ia kemudian membalik salah satu telapak tangan Sanum dan menunjukkan nya pada sang anak.


Seketika mata Sanum membulat sempurna, sejenak ia terdiam tanpa bergeming melihat telapak tangan nya sendiri.


"Bukan nya garis ini sudah hilang saat aku menolong kakek bunda...??", seru Sanum tak percaya.


Sementara Zivana mulai menangis di buat nya.


"Apa maksud nya ini bunda...?, jangan bilang Nur.....?", seru Sanum mulai histeris.


"Sudah sayang..!, ikhlaskan adik kamu ya", ucap Zivana memeluk Sanum.


"Enggak..!, Nur janji mau temenin aku..!, kalau aku tahu hidup ku itu pemberian Nur, aku gak mau hidup lagi, suruh Nur kembali bunda..!", seru Sanum semakin histeris.


"Ini sudah pilihan Nur sayang, kamu harus ikhlas", seru Zivana mencoba memeluk tubuh Sanum yang menangis sembari memberontak.


"Sudah sayang, kendalikan dirimu", ucap Marsel mencoba menenangkan Sanum yang terus menangis memanggil manggil nama Nur.


"Bunda dan ayah juga kehilangan, sama seperti Sanum, Sanum yang kuat ya, ada bunda sama ayah di sini", ucap Zivana menenangkan Sanum.


Beberapa saat kemudian.


Sanum yang termenung hingga untuk menangis pun air mata nya seakan sudah habis, mulai mendekati sang bunda.


"Bolehkah Sanum kunjungi Nur", ucap Sanum memegang kedua tangan orang tua nya.


Marsel dan Zivana hanya mengangguk dan tersenyum senang.


Mereka bertiga keluar dari rumah sakit dan bergegas menuju ke tempat pusaran Nur berada.


"Assalammualaikum adik ku", ucap Sanum duduk mendekap nisan Nur saat mereka sampai di sana.


Zivana dan Marsel hanya terdiam tak bisa berkata apa apa, mereka kembali merasa terpukul dengan sikap Sanum yang sangat kehilangan sang adik.


"Ku kira, kau membangunkan ku kemarin, tapi ternyata itu hanya imajinasi ku saja, kau jahat tak berpamitan dulu pada ku, siapa yang akan menjaga ku kali ini..??", ucap Sanum sesenggukan.


"Terima kasih atas kehidupan kedua yang kau berikan Nur, aku tak akan melupakan mu, kamu adik terbaik yang pernah ku miliki, entah dulu, kemarin dan esok", ucap Sanum mengusap air mata nya yang tak berhenti mengalir.


Zivana yang tak kuasa melihat kesedihan Sanum, akhirnya mengajak Sanum untuk pergi dari makam Nur.


Sepanjang jalan Sanum hanya memandang ke arah pusaran Nur.


Seakan ia melihat Nur tengah melambai dan tersenyum kepada nya bersama Naya, Fitri dan juga Rain disana.


"Tunggu aku adik ku", ucap lirih Sanum segera masuk mobil dan meringkuh di pangkuan sang bunda.


#End....😌..


Alhamdulillah bisa selesaiin cerita Nur di tengah kondisi yang lagi drop..☺️.


Terima kasih atas dukungan nya ya semua..


Othor masih belajar menulis, semoga kedepan nya bisa lebih baik lagi......


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan hadiah nya ya🙏..


Mampir juga di ceritaku yang lain...


Semoga berkenan...


Salam Sayang dari jauh💞💞