
Nur berhasil merubah masa lalunya.
Sesuai keinginannya.
Ia hidup bahagia bersama ayah dan bundanya serta Sanum kakaknya.
Bahkan bu Rukmi di dimensi itu menjadi amat sayang pada cucu cucunya.
Ia mengakui kesalahannya dan mau memperbaiki sifat dan perilakunya.
Fase batita ia lewati dengan sempurna.
Canda tawa selalu tercipta di keluarga mereka.
Tapi Nur tak menyangka, di dimensi ini takdir juga memiliki alur ceritanya sendiri.
Di kehidupannya kini ia tak mengenal Sekar, teman Sanum dan dirinya saat orang orang tak mau berteman dengan mereka.
Tepat diusianya yang keempat tahun.
Setelah lilin ulang tahun mereka di tiup.
Ada hal yang tidak di pahami oleh Nur.
Dalam pandangannya, sang bunda menangis histeris di hadapannya, semua tamu undangan bergerumbul menenangkan sang bunda.
"Bunda...??", ucap lirih Nur kebingungan karna ia dan Sanum segera di gendong oleh seseorang yang tak mereka kenal untuk menjauh dari keributan yang terjadi.
Sanum dan Nur menangis, reflek ketakutan mereka muncul karna tak mengenal siapa yang tengah menggendong mereka.
"Tenang ya sayang, Sanum dan Nur anak pintar", ucap wanita yang tengah menggendong Nur sembari menangis sesenggukan.
Apa sebenarnya yang terjadi...??, kenapa bunda menangis..??, di mana ayah dan nenek...??, sejak acara berlangsung pun mereka tak terlihat, gumam Nur dalam hati.
Nampak dari celah pintu.
Terlihat Zivana tengah lemas dan pingsan.
Sedangkan bu Rukmi juga masih histeris dengan terus memukul mukul lantai tempatnya bersimpuh.
"Ya ampun..!!, kasian sekali ya, padahal anak anak mereka masih kecil", ucap seorang wanita yang sedang berusaha menidurkan Sanum di gendongannya.
"Yah, bunda ....!!", seru Nur memberi isyarat pada wanita yang menggendongnya bahwa ia ingin kembali ke pangkuan orang tuanya.
"Iya nanti ya sayang, sekarang kamu sama tante dulu", ucap wanita itu mencoba menenangkan Nur.
Seketika Nur kembali menangis dan berusaha melepaskan diri dari gendongan wanita itu.
Di usianya yang masih 4 tahun, ia hanya bisa menangis dan mengoceh saat ia merasa tak nyaman serta menginginkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian.
Ia direbahkan bersama Sanum di kamar mereka.
2 jam kemudian, ia kembali terbangun.
Nampak Sanum sudah asyik bermain di sampingnya.
"Mainan...!!", seru Sanum terus larut dalam permainannya, karna saat itu, fikiran dan otak Sanum menyesuaikan dengan umurnya, berbeda dengan Nur yang mengingat semuanya, ia hanya tak bisa leluasa karna menyesuaikan raganya yang masih berumur 4 tahun.
Nur turun dari ranjang.
Ia berjalan dan berusaha keras membuka pintu kamar.
Segala macam cara ia lakukan, bahkan mendorong kursi dan menaikinya agar bisa meraih gagang pintu.
Sedangkan Sanum hanya menganga melihat pola Nur yang tak karuan kesana dan kemari.
"Mainan..!!", seru Sanum kembali menyodorkan mainannya, tetapi lagi lagi tak di gubris oleh Nur.
Akhirnya, pintu kamar berhasil ia buka.
Ia berjalan mencari ayah dan bundanya.
Tapi ia tak menemukan siapapun di kamar sang bunda, lalu ia mendengar suara berisik dan isak tangis, seketika ia segera bergegas menuju ruang keluarga asal suara itu ia dengar.
Ada apa ini...??, gumam Nur dalam hati.
Ia terhenti saat melihat ruang tamu yang sudah nampak banyak orang berpakaian serba putih berlalu lalang pergi meninggalkan rumahnya.
Lagi lagi, Ia melihat bundanya serta sang nenek menangis tiada henti.
Nur berjalan mendekati sang bunda.
Dengan segera sang bunda memeluknya dengan erat lalu kembali menangis histeris.
"Kenapa ini terjadi pada ku...??, apakah ini akhibat dari dosaku di masa lalu tuhan...??", rintih bu Rukmi seketika berjalan pergi menuju kamar Sanum sembari terus menangis terisak isak.
"Bunda...??", seru Nur mengusap air mata Zivana.
Zivana terus menangis tanpa berkata apa apa, ia hanya menciumi Nur dan memeluknya sebegitu erat.
Tak terasa Nur tertidur malam itu dipangkuan Zivana.
Di sofa ruang tamu rumah mereka.
Zivana terus terjaga tanpa tertidur sedetik pun.
Tatapan matanya kosong, sesekali air mata menetes dan mengalir di pipinya.
"Mas...!!, mi...!!", ucap lirih Zivana dengan tatapan mata yang kosong sembari memeluk Nur yang tengah tertidur amat pulas dipangkuan nya.