
"Aku cari Sanum dulu ya", ucap pak Broto meninggalkan mami Morra sendirian di dalam kamar.
Setelah pintu di tutup.
Mami Morra segera meregangkan seluruh badannya.
"Astaga...!!, capek ya jadi orang lumpuh...!!, mana bau lagi badanku..!!", keluh mami Morra merasa jijik dengan bau badannya sendiri.
Sementara di kamar lain.
Sanum nampak amat gelisah menunggu kembali nya Nur dan Fitri yang mencari tahu kabar tentang ayah dan bundanya.
"Kemana perginya mereka sih...!!", seru Sanum sembari mondar mandir di dalam kamarnya.
Tok tok..
Mendengar pintu kamar di ketuk.
Sanum amat ketakutan, pasalnya ayah dan bunda nya sedang tak ada di rumah.
"Tak mungkin itu nenek...", ucap Sanum menahan pintu dengan badannya.
"Sanum sayang, ini kakek", ucap pak Broto membuat rasa takut Sanum hilang.
Segera ia membukakan pintu dan menemui kakek yang jarang sekali ia temui.
"Kakek...!!", seru Sanum memeluk pak Broto.
"Ya ampun...!!, cucu kakek sudah besar..!!, padahal dulu kakek pergi kamu masih belajar berjalan", ucap pak Broto menciumi cucu semata wayangnya itu.
"Kakek kapan datang ...??", tanya Sanum.
"Emm, mungkin satu jam yang lalu, Sanum mau gak ikut kakek ke dapur, kita masak buat nenek..!!", seru pak Broto menggendong cucu nya.
"Tapi..." ucap Sanum teringat akan ayah dan bundanya.
"Sanum gak mau ya nemenin kakek..??", ucap Pak Broto memasang wajah sedih.
"Ya udah, yuk kek..!!" seru Sanum tak bisa mengabaikan permintaan kecil kakek nya.
"Astaga...!!", seru pak Broto menghentikan langkah kaki nya.
"Kenapa kek..??", tanya Sanum turun dari gendongan sang kakek.
"Kaca mata kakek ketinggalan di kamar nenek, bisa kamu ambilin gak cantik", ucap pak Broto mencolek hidung Sanum.
"Siap kek", ucap Sanum berlari menuju kamar sang nenek.
Bersamaan dengan itu, mami Morra sedang asyik meregangkan tubuhnya di kamar.
Menghilangkan pegal karna berhari hari hanya terbaring telentang saja di tempat tidur.
Ia tak menyadari bahwa Sanum sedang berjalan menuju kamarnya.
Yang ia tahu bahwa, pak Broto sedang mencari Sanum.
Sehingga dirinya bisa rileks sejenak dan melemaskan otot tubuhnya.
Tinggal beberapa langkah lagi dari pintu kamar bu Rukmi.
Langkah kaki Sanum terhenti saat mendengar sebuah suara dari dalam kamar.
"Memang ada siapa lagi selain kakek di rumah ini..??", seru Sanum memilih mengintip dari lubang kunci kamar bu Rukmi.
Mata Sanum seketika terbelalak tak percaya.
Kok nenek bisa berdiri...!!, gumam Sanum dalam hati sembari menutupi mulutnya agar tak bersuara.
Bahkan ia mengatur suara nafasnya agar tak terdengar oleh sang nenek.
Ia terus mengintip pergerakan sang nenek dari balik lubang kunci.
Sanum lebih syok lagi saat melihat tangan sang nenek bergerak gerak dan bisa memercik mercik kan sebuah cahaya.
Kayak pernah lihat deh...!!, macam sihir atau ilmu hitam gitu, tapi dimana ya..??, gumam Sanum dalam hati.
Tiba tiba sang nenek tertawa.
Tawa nya membuat Sanum terkejut dan terpental ke belakang.
Dengan nafas yang tak karuan, dan rasa takut yang amat terlihat di wajahnya.
Sanum segera berlari menjauh dari pintu kamar itu.
Ini gak mungkin...!!, itu kan tawa mami Morra..!!, gumam Sanum dalam hati terus berlari menuju telfon rumah berada.
"Ayo angkat bunda...!!", ucap Sanum ketakutan dan terus mengawasi kondisi sekitarnya.
Sementara di perjalanan.
Zivana tengah fokus menyetir mobil menuju ke rumah, membuatnya tak berfokus pada ponsel nya yang terus berdering.
Sedangkan Fitri masih berusaha menormalkan kembali Marsel.
"Sebenarnya kenapa dengan ayah ku Fit...??, jangan buat aku bingung", seru Nur terlihat bingung dengan semua yang telah terjadi.
"Manusia memiliki 2 sisi, baik dan buruk, dan sisi buruk itu bisa di sebut juga sisi gelap manusia, dalam kasus ini, ada yang memantrai ayahmu agar condong ke sisi gelap nya", ucap Fitri mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Siapa yang bisa melakukan hal seperti itu..??", tanya Nur heran.
"Masak aku harus jelaskan lagi Nur...!!", seru Fitri kesal sembari terus memulihkan kondisi Marsel.
"Mami Morra..??", ucap Nur spontan.
"Yap", ucap Fitri.
"Tapi aku tak melihat mami Morra sama sekali, disini maupun di rumah", ucap Nur semakin bingung.
"Kita cari tahu itu nanti, sekarang bantu aku memeganginya", ucap Fitri masih terus berusaha memulihkan Marsel.