
"Sepi juga ya gak ada Rain", keluh Fitri sembari berayun di halaman belakang rumah Sanum.
Sedangkan Marsel tengah berdiri menghadap jendela, matanya tengah terfokus pada ayunan yang sedang di mainkan oleh Fitri.
"Mas..!!", seru Zivana mengagetkan Marsel.
"Untung masih kuat nih jantung", ucap Marsel mengelus dadanya.
"Ihhh kamu...!!, gak baik tau bilang gitu..!!", ucap Zivana memeluk suaminya dari arah belakang.
"Habis kamu sih..!!", ucap Marsel kembali menatap ayunan di halaman belakang.
"Lagian kamu...!!, lagi liatin apa sih..??, kok segitunya banget", ucap Zivana penasaran.
"Tuh...!!, aku tuh lagi liatin ayunan itu", ucap Marsel merasa merinding.
"Owhhhh, itu ada Fitri lagi ngelamun sambil berayun, pasti dia masih sedih karna perginya Rain", ucap Zivana merasa iba.
"Ya enak kamu sayang, nah aku, yang kulihat ya cuma ayunan kosong yang bergerak sendiri, gak ada angin gak ada hujan", ucap Marsel.
"Kan aku bisa jadi mata kamu mas", ucap Zivana menghibur Marsel.
"Anehh ya, anehh banget, aku gak pernah nyangka hal hal yang diluar akal pikiran kita malah kita saksikan setiap hari", ucap Marsel tak habis pikir.
"Ya udah ah...!!, kita syukuri aja, lagian mereka gak ganggu kita", ucap Zivana.
"Gimana gak ganggu sayang...!!, hidup kita itu beda lhoo dari orang normal lainnya", ucap Marsel mengutarakan beban hatinya.
"Sttt, lebih baik kita gak usah bahas ini lagi, kasian kalau Nur sampai denger", ucap Zivana tak mau Nur kembali terluka.
Marsel lalu menghela nafas dan mengangguk tanda setuju dengan perkataan sang istri.
Lalu ia pandangi lagi ayunan yang sedari tadi menarik fokusnya.
Tiba tiba...
"Nah lhoo...!!, jadi dua ayunan yang bergerak sayang..!!", seru Marsel terkejut.
"Tenang mas..!!, itu hanya Nur, kita ke kamar aja yuk istirahat", ucap Zivana mencoba mengalihkan fokus Marsel dari hal hal yang ia masih sulit memahaminya.
Kini Nur tengah berayun berdampingan dengan Fitri di halaman belakang.
"Fit, kamu kemana aja, kok baru muncul sekarang..??", tanya Nur.
"Gpp Nur, aku cuma lagi pengen ke suatu tempat aja", ucap Fitri memandang langit malam.
"Fit, kamu masih ada kami kok", ucap Nur mencoba menghibur Fitri.
"Makasih ya Nur, aku dan Rain sangat beruntung bisa kenal kalian", ucap Fitri berdiri lalu memegang kedua tangan Nur.
"Yuk kita ke kamar Sanum", seru Nur menarik tangan Fitri.
"Tunggu..!!, aku punya sesuatu untukmu", ucap Fitri mengeluarkan secercah cahaya dari tangannya.
"Itukan...!!", seru Nur terbelalak tak percaya dengan benda yang tengah muncul dari tangan Fitri.
"Kamu pasti sudah mengenalnya bukan...??, benda yang sama yang pernah membawamu dan Sanum melintasi portal waktu dan melihat masa laluku dan Rain", ucap Fitri.
Nur hanya mengangguk sambil terus melihat ke arah kotak musik milik mami Morra yang entah kenapa bisa berada di tangan Fitri.
"Bagaimana kamu mendapatkannya..??", seru Nur penasaran.
"Itu tak penting, sekarang aku berikan ini padamu, gunakan untuk memecahkan masalahmu, aku rasa kotak musik ini bisa menjawab teka teki tentang alasan kenapa kamu masih terjebak disini Nur", ucap Fitri meletakkan kotak musik itu di tangan Nur.
Nur seketika bimbang.
"Itu memang keinginanku, tapi entah mengapa aku menjadi berat harus meninggalkan keluargaku yang sekarang", ucap Nur mengingat Sanum beserta keluarganya yang lain.
"Cepat atau lambat kita memang harus pergi Nur", ucap Fitri.
"Lalu, bagaimana denganmu...??", seru Nur.
Fitri menghela nafas panjang sembari tersenyum di hadapan Nur.
"Aku terima jika aku akan disini selamanya Nur, aku juga sadar sulit untuk mengalahkan mami Morra, mungkin ini memang nasibku", ucap Fitri seketika menghilang dari hadapan Nur.
Jika kamu memang hebat, jadilah jalan keluar bukan hanya untukku, tapi untuk kebebasan sahabatku juga, gumam Nur dalam hati sembari memandangi kotak musik yang kini telah berada di tangannya itu.
Bersambung....
Mohon dukungannya ya kakak😊😊😊