Nur

Nur
Masih sebuah misteri.



"Kamu yakin kak mau temuin dia..??", seru Nur masih ragu untuk terus melangkahkan kaki nya.


"Diem ah..!!", ucap Sanum membuat Lidia mengeryitkan kening.


"Aku udah diem lho Sanum...!!", ketus Lidia.


"Eh, mungkin aku salah denger kali ya", ucap Sanum beralasan.


Tak berselang lama.


Mereka telah sampai di tempat yang sama kemarin.


Tepat di sebrang jalan rumah Naya.


Rumah itu nampak sepi dan sunyi.


"Mana dia..??", tanya Sanum memandang ke sekeliling rumah di depan nya.


"Tunggu bentar lagi", ucap Lidia memandangi jam tangan nya.


"Eh, itu dia kak..!!", seru Nur.


"Nah, kan...!!, apa aku bilang, dia pasti akan keluar di pagi hari dan tepat di jam yang sama", ucap Lidia menunjuk ke arah Naya yang berjalan keluar rumah dengan di bantu oleh ibu nya.


Ibu nya terlihat sangat menyayangi Naya.


Ia menyisir rambut dan menyuapi Naya dengan sabar nya.


Walaupun Naya tak pernah sedikit pun merespon ucapan dan tindakan ibu nya.


Tak berapa lama.


Mbak Fara masuk ke dalam rumah.


Seperti biasa, ia akan meninggalkan Naya sejenak menghirup udara segar pagi hari, sampai tiba waktu nya Naya akan ia bawa masuk ke dalam rumah kembali.


Sanum berjalan mendekat ke arah rumah Naya tanpa rasa takut sedikit pun.


"Eh..!!, kamu ngapain...??", seru Lidia takut mbak Fara tau akan kedatangan mereka.


Tapi Sanum tetap saja melanjutkan niatnya untuk menemui Naya.


Ia begitu penasaran, misteri apa di balik semua itu.


"Jangan kak..!!", ucap Nur memperingatkan.


"Apa kamu tak penasaran...??, bukan suatu kebetulan wajah nya sangat mirip dengan kita", ucap Sanum mencoba membuka gerbang rumah Naya dan berjalan memasuki halaman rumah.


Tatapan mata Naya tetap saja kosong, ia tak tertarik akan kehadiran Sanum di hadapan nya.


Membuat Sanum semakin penasaran dengan sosok Naya.


"Hai..!!", ucap Sanum yang kini berada di hadapan Naya.


Sesuai prediksi nya, Naya tak merespon sedikitpun sapaan Sanum.


Seakan Sanum tak ada di sana.


Sanum mencoba meraih tangan Naya dan memaksanya untuk mau bersalaman dengannya.


Sontak Sanum langsung melepaskan pegangan tangan nya saat kedua kulit mereka bersentuhan.


"Dingin sekali...!!", ucap Sanum keheranan.


"Kuku nya juga biru kak...??, apa dia sakit ya..??", seru Nur heran dengan keanehan di tubuh Naya.


"Heh..!!, ayo pergi ..!!", ucap lirih Lidia yang hanya berani mendekat sampai ke gerbang rumah Naya.


Tiba tiba mbak Fara keluar dari rumah dan memergoki Sanum yang mencoba mendekati Naya anak nya.


Saat ia ingin marah, seakan suara nya menghilang, dan wajah nya pucat pasi melihat Sanum yang berdiri di hadapan nya.


Sontak Sanum dan Nur berlari dari sana.


Bersamaan dengan itu, Sanum merasa heran untuk yang kedua kali nya.


Sehingga ia berhenti berlari saat ia sampai di luar gerbang rumah Naya.


Mbak Fara yang seharusnya marah dan mengejar mereka.


Malah nampak ketakutan dengan berusaha mendekap Naya dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah.


"Ayo kak...!!", seru Nur menarik tangan Sanum agar berlari menjauhi rumah itu.


Setelah mereka berlari cukup lama.


Mereka bertiga telah sampai di rumah Lidia.


Lidia segera mengunci gerbang rumah nya dan merebahkan diri nya di teras rumah.


"Hampir aja...!!!", seru Lidia ngos ngosan.


"Ya ampun kak..!!, kalau aku masih hidup, bisa copot jantung ku tadi", ucap Nur lega telah lolos dari amukan mbak Fara.


Sementara Sanum masih terdiam memikirkan semua kejanggalan yang ada.


"Kalian habis ngapain kok ngos ngosan gitu...??", seru bu Sukma, mama dari Lidia yang keluar dari dalam rumah.


"Habis lihat hantu ma...", seru Lidia mengambil segelas air dingin yang sengaja di bawakan mama nya untuk mereka bertiga.


"Mana ada hantu sih..!!, ngaco kamu...!!", seru bu Sukma tak percaya dengan khayalan anak nya yang sering mengada ngada.


"Beneran ma...!!", seru Lidia meneguk segelas air dingin lagi.


"Emang kalian dari mana sih..??", tanya bu Sukma penasaran.


"Kami habis dari rumah Naya tante", ucap Sanum membuat bu Sukma tercengang.


"Siapa yang izinin kalian kesana...??, mereka itu orang aneh..!!, kalian gak takut apa sama mereka..??", seru bu Sukma berkacak pinggang di hadapan mereka bertiga.


"Sanum tuh ma..!!, dia penasaran banget sama yang nama nya Naya, padahal aku dah bilang, dia itu aneh...!!", ketus Lidia mulai mengunyah cemilan di samping nya yang di bawakan bu Sukma untuk mereka.


Seketika bu Sukma menghela nafas.


"Pasti kamu penasaran ya, kok dia bisa mirip banget sama kamu kan...??", ucap bu Sukma mencoba menebak di balik niat Sanum melakukan itu.


Sanum dan Nur langsung mengangguk.


"Tapi maaf, tante juga gak tau apa apa, dan tante juga harus larang kalian untuk datang ke sana lagi", ucap bu Sukma memperingatkan mereka bertiga.


Di saat itu juga wajah Sanum nampak amat kecewa.


Melihat itu bu Sukma tak tega melihat nya.


"Gini aja..!!!, gimana kalau kita telusuri dari awal permasalahan nya...??", seru bu Sukma membuat Sanum kembali bersemangat.


"Cara nya tante..??", seru Sanum kembali tersenyum.


"Kita coba datangi rumah sakit tempat Naya di rawat setelah kecelakaan 10 tahun silam", ucap bu Sukma memberikan sebuah ide.


Sanum segera mengangguk tanda setuju dengan rencana bu Sukma.


"Ya sudah, besok tante sama Lidia bakal jemput kamu, sekalian kita pamit sama bunda mu ya sayang", ucap bu Sukma mengelus kepala Sanum agar tak lagi bersedih.


"Siap tante..!!, kami pulang dulu ya", seru Sanum membuat bu Sukma dan Lidia tercengang.


"Kami...??", tanya Lidia keheranan.


"Eh maaf, aku kan sendirian ya, aku pamit dulu ya tante, Lidia, Assalammualaikum", seru Sanum bergegas pulang ke rumah.


"Walaikumsalam", seru bu Sukma menatap arah jalanan menuju ke kediaman Naya.


Semoga ide ku tak berimbas buruk pada anak anak, gumam bu Sukma dalam hati.