Nur

Nur
Cerita hidup Naya....



Tok tok....


"Assalammualaikum Lidia...", seru Sanum mengintip dari celah gerbang rumah Lidia yang terkunci dari dalam.


"Dia lagi pergi kali Kak", ucap Nur mencoba mencari Lidia di halaman rumah.


Tak berselang lama, Lidia nampak berlari dari arah belakang rumah menuju gerbang depan.


"Sanum....???", seru Lidia amat senang melihat kedatangan Sanum, dengan segera ia bergegas membuka gerbang rumah nya.


"Hai", ucap Sanum masuk tuk pertama kali nya ke rumah teman sekelas nya itu.


"Akhir nya kamu mau berkunjung ke rumah ku", seru Lidia kegirangan.


"Boleh kan aku sering sering berkunjung ke sini..??", tanya Sanum.


"Boleh dong, yuk duduk..!!", seru Lidia mempersilahkan Sanum duduk di teras rumah.


"Aku sebenar nya masih penasaran", ucap Sanum menatap ke arah jalan menuju rumah gadis misterius yang ia lihat waktu itu.


"Oh, Naya...!!", seru Lidia sembari tak berhenti mengunyah makanan ringan yang sengaja ia suguh kan untuk Sanum.


"Naya...??", tanya Sanum semakin penasaran.


"Iya, nama nya Naya, ia dulu anak pembantu rumah ku, pembantu ku itu nama nya mbak Fara, tapi....", ucap Lidia sembari terus mengunyah.


"Tapi apa...??", tanya Sanum ingin tahu banyak tentang gadis bernama Naya yang mempunyai paras seperti diri nya.


"Kamu gak mau makan camilan ini dulu..??, enak lho..!!, ada rasa nangka, coklat....", seru Lidia menyodorkan berbagai macam camilan ke hadapan Sanum.


"Lanjutin dulu ceritanya Lidia...!!!", ketus Sanum cemberut.


"Penasaran banget ya...!!, ya udah aku makan aja semua nya", ucap Lidia terus mengunyah dan mengunyah.


"Aku lanjutin ya cerita nya, nah sampai mana tadi...??", ucap Lidia berusaha mengingat.


Sanum hanya menggeleng kepala menyaksikan polah tingkah teman nya itu.


"Oh ya..!!, aku ingat, dulu kata mama ku mbak Fara kerja di sini saat mama masih mengandung aku, dan dulu mbak Fara itu orang nya ramah banget kerja nya juga bagus, waktu itu Naya masih berumur 2 tahun", ucap Lidia memulai cerita nya.


"Terus..., kenapa dia gak kerja di sini lagi..??", tanya Sanum semakin tak sabar mendengar kelanjutan cerita nya.


"Waktu itu, kata mama, mbak Fara mengalami kecelakaan saat belanja ke pasar, dan kata para saksi kecelakaan itu, mereka terluka cukup parah terlebih Naya", ucap Lidia berhenti sejenak dari cerita nya untuk meneguk segelas jus jeruk.


"Lalu...??", seru Sanum.


"Sabar Sanum, kamu gak mau kan aku mati kehausan", ucap Lidia memegangi perut nya yang kekenyangan.


"Rakus...!!", ketus Nur.


"Lalu saat mama mengunjungi mbak Fara yang telah pulang dari rumah sakit, mama dilarang melihat keadaan Naya, bahkan para tetangga tak diperbolehkan menjenguk oleh mbak Fara saat itu, sejak saat itu ia menjadi pemarah dan berhenti bekerja dari sini", ucap Lidia meneruskan cerita nya.


"Lalu, apakah kamu tak pernah bermain dengan Naya..??", tanya Sanum.


"Gak pernah..!!, dan itu gak akan pernah terjadi", ucap Lidia masih mencoba mengunyah beberapa biskuit lagi meskipun ia sudah kekenyangan.


"Kenapa...??", tanya Sanum semakin penasaran.


"Karna dia itu anak aneh..!!, para tetangga pun juga tahu itu", ucap Lidia.


"Aneh...??", seru Sanum bingung.


"Iya aneh...!!, apa kamu gak lihat tatapan nya saat kita lihat dia kemarin..??, dia tak pernah bicara ataupun berekspresi sedikit pun, apalagi untuk bermain, ia hanya terduduk di sana pagi hari dan selalu tak lepas dari pengawasan ibu nya", ucap Lidia ngeri.


"Kok ada ya anak seumuran kita yang gak suka bermain...??, aku aja yang sebuah roh masih punya dunia bermain", ucap Nur heran.