
Dengan perasaan kesal.
Fitri muncul kembali di taman belakang rumah Zivana.
Begitu terkejutnya ia karna Nur sudah tak berada di sampingnya.
Sedangkan mereka menghilang dari hadapan keluarga Nur secara bersama sama.
"Nur..??", seru Fitri mencari cari Nur di sekeliling taman belakang rumah.
Tak mendapati Nur di setiap tempat, Fitri kemudian menghilang dan muncul kembali di area taman panti asuhan tempat mereka bermain.
Terlihat ramai di mata Fitri.
Tapi ia tak menemukan Nur dimanapun juga.
"Dorrrrr...!!!", seru Rain menepuk Fitri dari belakang membuat kedua bahu Fitri retak dan lebih maju ke arah depan.
Rain yang awalnya jail berubah raut menjadi ketakutan.
Fitri yang sedari tadi sudah gusar dan emosi menjadi bertambah marah ketika Rain menjailinya.
"Kamu....!!!,(plakkkkkkkk)", seru Fitri sambil menampar pipi Rain hingga miring.
"Hantu galak....!!", seru Rain membenarkan wajahnya.
"Gak idup...!!, gak mati...!!, bikin jengkel mulu...!!", seru Fitri membenarkan bahunya.
"Ngapain kamu kesini...??", ketus Rain.
Fitri kemudian mengingat bahwa ia sedang mencari keberadaan Nur.
"Kamu liat Nur...??", tanya Fitri melanjutkan pencariannya.
"Gak tuh...!!, emang kalian lagi main petak umpet...?", ketus Rain.
Tiba tiba Fitri tercengang dan mengingat perkataan Nur terakhir kali.
"Jangan jangan...!!!", seru Fitri gusar.
"Kenapa dengan Nur...??", seru Rain mulai ikut khawatir.
"Rumah mami..!!", seru Fitri terbelalak tak percaya.
Bahkan ekspresi Rain pun berubah menjadi tak karuan, antara takut dan gelisah.
"Gawat...!!", seru Rain memegang tangan Fitri.
Fitri yang mengetahui kode dari Rain, langsung mengangguk dan dalam sekejap mereka telah menghilang dan muncul kembali di teras rumah kuno Mami Morra
Mereka memandangi rumah kuno yang menjadi tempat mereka bermain di masa kecil.
Hutan yang dulu bersih, terhampar halaman luas untuk mereka bermain sekarang menjadi hutan yang tak terjamah manusia.
Hanya tersisa satu rumah yang berdiri kokoh di depan mereka.
"Kita kembali", ucap Rain memandang setiap sisi rumah yang sangat lekat di ingatannya.
Fitri hanya diam menatap kedalam rumah itu.
Dimana hidupnya di awali dan di akhiri di sana.
Mereka dengan perlahan memasuki rumah itu.
Nampak sebuah kamar yang terlihat terang benderang.
Fitri dan Rain terus melangkahkan kaki nya mendekati kamar itu.
Nampak Nur sedang berdiri di sisi tempat tidur memandangi Sanum yang tertidur lelap di depannya.
"Kenapa kalian ada di sini..??", seru Nur tak percaya sembari menghapus air matanya.
"Tak bolehkah kami membantumu Nur..??", seru Fitri memeluk Nur.
Tangisan Nur pun pecah.
Ia tak kuasa menahan rasa kesepian dalam dirinya.
"Jika aku yang terbaring di sana, mungkinkah mereka akan mencemaskan aku juga..??", seru Nur tersedu sedu.
"Tenang Nur, mereka tak pantas kamu tangisi", ucap Fitri menghapus air mata Nur.
"Bunda orang baik, tapi ia tetaplah manusia, akal dan logikanya pun lebih berbicara, mana mungkin ia akan memilih anak roh sepertiku dibanding Sanum yang sudah jelas jelas masih hidup dan nampak nyata di matanya", seru Nur lagi lagi meratapi nasibnya.
"Sudahlah Nur..!!, Keluargamu sesungguhnya adalah kami bukan mereka...!!, kami akan selalu ada untukmu Nur", ucap Fitri menenangkan Nur.
"Trima kasih", ucap Nur mulai tersenyum kembali.
"Kita akan selesaikan ini bersama, ya kan Rain..??", seru Fitri, tapi tak ada jawaban apapun dari Rain.
Fitri dan Nur pun terkejut melihat Rain yang mematung sembari menatap sebuah patung mumi yang berdiri di dalam almari kaca di sudut kamar itu.
"Ada apa Rain...??, ayo kita bawa Sanum pergi dari sini..!!", seru Fitri mendekati Rain yang masih saja mematung.
"Rain kenapa...??", tanya Nur mendekati Fitri.
"Entah...!!", seru Fitri terus mencoba menarik tangan Rain.
"Ayah...!!", seru Rain bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
Fitri terperanjak dan melepas tarikan tangannya.
Ia pandangi mumi dihadapannya, terbungkus rapi dan hanya menyisahkan bagian wajah saja.
Wajah yang masih terlihat utuh karna efek dari pengawet yang dibalurkan di sekujur tubuhnya.
Ia mengingat wajah seorang lelaki dari masa 100 tahun yang lalu.
Ya...!!, itu adalah ayah Rain.
Nur pun terkejut bahkan tak bisa mempercayainya.
Kejahatan apa lagi dari mami Morra yang belum mereka ketahui.
"Sudah 100 tahun aku tak melihat wajah itu, bahkan aku tak menyangka bisa melihatnya lagi dalam bentuk mengerikan seperti ini", ucap Rain mengusap almari kaca dihadapannya.
"Sudahlah Rain..!!, nanti kita cari cara untuk menguburkan ayahmu secara layak, sekarang kita harus bisa pergi dari sini", seru Fitri gelisah, karna ia mulai mendengar suara pintu depan di buka.
Seketika Nur berlari mendekati Sanum dan merangkulnya, dalam sekejap mereka telah menghilang dari kamar itu.
Begitu juga dengan Fitri.
Takut mereka akan tertangkap lagi oleh mami Morra, Fitri dengan sigap merangkul Rain dan membawanya pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian.
Terlihat pintu kamar mulai terbuka dari luar.
Terlihat wajah keriput nenek nenek memasuki kamar tersebut.
Betapa syok dan terkejutnya ia, melihat Sanum telah menghilang dari kamarnya.
"Pasti kerjaan anak sialan itu.!!!", teriak mami Morra mengobrak ngabrik kamarnya.
Ia merasa kesal dan marah, karna hilangnya Sanum berarti dia harus lebih lama lagi dalam wujud nenek nenek.
"Fitri....!!", teriak mami Morra makin menggema di seluruh penjuru hutan.