
Setelah bertemu dengan Nur.
Mami Morra mengajak bu Rukmi pergi dari ke kediaman Marsel.
"Ayo kita pergi", seru mami Morra membuat bu Rukmi menganga.
"Pergi...!!, kita kan baru nyampek...!!", seru bu Rukmi tak percaya.
"Maaf buk, bisa tolong lebih lama lagi di sini..??, sudah lama mami saya tidak ke sini", ucap Marsel menghadang langkah Mami Morra.
"Panggil saya Mami Mor...!!", seru mami Morra membuat nyali Marsel menciut dan langsung memandang bu Rukmi.
"Sudah sudah...!!, iyaaa ayo kita pulang", seru bu Rukmi berjalan menghampiri mami Morra.
Zivana dan Marsel, beserta Sanum hanya bisa menurut.
Mereka mencium punggung tangan bu Rukmi sebagai tanda sopan mereka sebagai anak.
Bahkan sakit punggung karna perjalanan jauh masih terasa di pinggangku..!!, gumam bu Rukmi dalam hati.
"Aku dengar itu...!!", seru mami Morra menggertak bu Rukmi.
"Ma, maaaa, maaf mi", ucap bu Rukmi masuk ke dalam mobil dan langsung pergi dari ke kediaman Marsel.
Sementara di halaman belakang tubuh Nur di tarik amat kencang oleh sesosok roh.
"Fitri...!!", seru Nur terkejut.
Tatapan fitri seakan sangat serius memandang ke arah Nur.
"Apakah wanita itu yang kamu maksud..??", tanya Fitri berbicara tanpa ekspresi.
Jika seorang manusia yang melihatnya saat itu, mungkin orang itu akan lari terbirit birit di buatnya.
"Iya...!!, dia sudah bersekongkol dengan nenekku", ucap Nur kesal.
"Hati hati Nur", ucap Fitri memperingatkan.
"Memang ada apa dengannya..??", ucap Nur heran.
"Dialah alasanku selama ini tak bisa menyebrang ke alam baka", ucap Fitri dengan raut wajah yang semakin menyeramkan.
"Apa hubungannya denganmu..??", seru Nur mulai serius menanggapi Fitri.
Karna peringatan dari Fitri.
Ketakutan Nur kian bertambah.
Apalagi ia telah menyaksikan sendiri, dirinya langsung tak berdaya hanya dengan kalung milik Mami Morra saja.
"Apa hubungan Fitri dan paranormal itu..??, kenapa seolah olah dia sangat berbahaya", ucap Nur heran.
Kemudian Nur menghilang dan muncul kembali di hadapan Sekar.
"Astagfirullah..!!", seru Sekar syok melihat Nur yang tiba tiba muncul di kamarnya.
"Mbak memang menyebalkan, aku memang benci mbak, tapi jika mbak tak ada di rumahku rasanya aneh juga", ucap Nur berjalan mengelilingi kamar Sekar.
Hari itu Sekar meminta untuk cuti 3 hari karna sakit, ia tak mau penyakitnya menular ke Sanum dan anggota keluarga majikannya yang lain.
"Kenapa kamu kesini..??", ucap Sekar tetap berbaring di tempat tidurnya dengan terus membaca buku di tangannya.
"Tadi nenek Rukmi datang", ucap Nur seketika berpindah dari sisi laci menuju ke samping tempat tidur Sekar.
"Tumben...??", ucap Sekar heran.
"Dia membawa paranormal untuk mengusirku mbak", ucap Nur berniat meminta bantuan Sekar.
"Bagus dong, biar gak ada lagi yang nyusahin", seru Sekar membuat raut wajah Nur memerah.
"Bercanda roh...!!", seru Sekar membuat Nur kembali tenang.
Mungkin hubungan mereka banyak terjadi perselisihan namun semakin lama Sekar semakin mengerti akan Nur, ia lambat laun memperlakukan Nur sebagai adiknya sendiri.
Tapi jika Nur kembali berulah dan mengusik Sanum, Sekar lah yang pertama kali maju membuat perhitungan kepada Nur.
"Namanya mami Morra", ucap Nur.
"Mbak gak pernah dengar Nur", ucap Sekar menutup bukunya dan ikut penasaran akan wanita yang di sebut sebut Nur sebagai seorang paranormal yang ingin mengusir Nur dari dunia.
"Tolong bantu aku mbak", ucap Nur menghilang dari sisi Sekar.
"Ya ampun...!!, kebiasaan ya, ngilang mulu...!!", ucap Sekar kembali membaca bukunya.