
Nur, Fitri dan Sanum dengan di pandu Sekar.
Perlahan lahan mulai menyelinap ke rumah mami Morra.
Rumah yang tak begitu jauh dari rumah mereka.
"Kenapa sepi sekali mbak..??", seru Nur mengamati kesekeliling.
Sedangkan Fitri mencoba berkeliling ke setiap sisi rumah itu.
Tapi nihil.
Mami Morra tidak ada di rumah itu.
"Coba mbak periksa ruangan di atas ya", ucap Sekar mencoba menaiki tangga dan memasuki setiap ruangan yang ada.
Sementara Sanum sekilas melihat sebuah pintu yang menuju ke ruangan bawah tanah.
Ia memasukinya bersama dengan Nur.
"Kenapa terowongan ini panjang sekali..??", ucap Nur mulai lelah di dalam raga Sanum.
"Aku saja yang roh bisa merasakan bahwa terowongan ini sangat jauh menuju dasar, bahkan jika diukur pun, ini melebihi rumah yang berada di atas kita", ucap Sanum menyibak beberapa akar yang mengantung di depannya.
"Kak, kayaknya kita udah di ujung deh", seru Nur mempercepat langkahnya.
Lalu tanpa mereka sadari, saat mereka menyibak akar pohon yang menutupi jalan mereka, mereka tengah berada di sebuah rumah kuno yang modelnya saja mereka tak pernah melihatnya sebelum itu.
"Ini dimana..??", seru Sanum memasuki rumah itu dengan menggandeng erat tangan Nur.
Tiba tiba mereka telah sampai di sebuah kamar.
Tanpa ragu mereka pun memasukinya.
Mata mereka terus berkeliling ke setiap sisi kamar itu.
Tak ada satu foto pun atau petunjuk apapun yang bisa menunjukkan rumah siapa itu sebenarnya.
Lalu, pandangan Sanum tertuju pada sebuah kotak musik kuno dari kayu yang tergeletak di sebuah meja rias di kamar itu.
"Itu apa...??", seru Sanum menunjuk kotak musik itu.
Nur tanpa membuang buang waktu segera mendekatinya dan membuka kotak di hadapannya.
Alunan musik di kotak itu mulai bersenandung.
Dengan bersamaan lunturnya pemandangan dan waktu di sekitar mereka.
Seakan masa telah kembali mundur kebelakang.
Terlihat dinding rumah itu menjadi lebih berwarna lagi, terlihat bersih dan nampak terawat.
Foto keluarga pun terpajang cantik di meja dan dinding kamar itu.
Nur dan Sanum mencoba berjalan keluar dari kamar.
Mereka terus saja memandangi benda benda yang ada di dalam rumah itu.
Rasa penasaran mereka tertuju pada satu foto di ruang keluarga.
"Ini Fitri kak..!!", seru Nur memegang foto Fitri yang tersenyum dengan cantiknya.
Disamping foto itu nampak sebuah foto yang memperlihatkan mami Morra sedang memeluk erat Fitri.
Tiba tiba mereka di kejutkan dengan suara tawa seorang anak dan seorang wanita dari halaman depan.
Nur dan Sanum mencoba mendekatinya.
Nampak dari kejauhan.
Fitri sedang bersenda gurau bersama mami Morra.
Seakan kehidupan mereka sangatlah bahagia seperti yang pernah Fitri kisahkan pada Nur.
Terlihat mami Morra sesekali memeluk dan menciuminya, memanjakan Fitri di dekapannya.
Tak lama kemudian, masa kembali berubah.
Seluruh warga tengah berdiri di depan rumah mami Morra dengan tawa dan ejekan yang bersahut sahutan.
Nampak seorang lelaki berusia 30 tahunan menggandeng seorang anak laki laki yang tak lain adalah Rain, ia terlihat memaki maki dan mengolok ngolok mami Morra hingga mami Morra tak sanggup lagi menatap mata para warga disana.
Setelah kejadian itu.
Nur dan Sanum pun di lempar ke masa di mana kekejaman mami Morra di mulai.
Sejak kejadian itu, mami Morra terus menerus murung dan menangis sepanjang hari, ia bahkan tak pernah lagi menemani Fitri bermain lagi.
Kemudian di suatu waktu, ia berlari dan menemui seorang wanita tua untuk meminta sebuah pertolongan.
Semua keinginan mami Morra akan terwujud dengan syarat ia harus merelakan putri kandungnya yang tak lain adalah Fitri.
Di saat hasrat balas dendamnya sudah sangat besar.
Ia tak lagi memikirkan apapun itu, bahkan hal keji itu bisa ia lakukan saat itu juga.
Ia menyetujui syarat itu dan segera pulang ke rumahnya.
Nur dan Sanum pun di tunjukkan bagaimana dan di mana mami Morra menghabisi nyawa Fitri dengan kejinya.
Tanpa berani memandang.
Nur dan Sanum langsung menangis dan menutup matanya.
Akhirnya Nur dan Sanum tau alasan kenapa anggota tubuh Fitri sering lepas tanpa bisa di kontrol.
Beberapa saat kemudian.
Suara kotak musik itu tak terdengar lagi.
Saat Nur dan Sanum membuka mata.
Mereka telah kembali di masa sekarang.
Dan begitu terkejutnya mereka.
Bahwa mami Morra telah berdiri di hadapan mereka dengan tatapan marah.
"Lancang sekali kalian...!!", teriak mami Morra mengucapkan sebuah mantra yang ia tujukan untuk melumpuhkan Nur dan Sanum.
Seketika mantranya terhenti.
Mami Morra berubah tegang dan ketakutan.
"Jangan...!!, taruh itu kembali", ucap Mami Morra membujuk Nur yang tengah mengangkat kotak musik di tangannya dan siap melemparkannya ke lantai.
Melihat mami Morra sangat ketakutan.
Sanum mencoba memakai kesempatan itu untuk menolong Rain.
"Jika kamu tak mau kotak ini hancur, keluarkan semua roh yang kamu kurung dalam kalung itu..!!", ucap Sanum menawarkan sebuah kesepakatan.
"Siapa kamu berani mengaturku...!!", seru mami Morra marah.
"Ya sudah..!!", ucap Nur bersiap melempar kotak musik itu ke lantai ,tetapi langsung dihentikan oleh mami Morra.
"Jangann..!!, oke, oke, aku akan keluarkan semuanya", ucap Mami Morra merapal sebuah mantra dan memegang erat kalung di lehernya.
Tak lama kemudian.
Rain beserta tiga roh lainnya keluar dari dalam kalung itu.
"Jangan berani berani ikuti kami....!!", seru Nur melempar kotak musik itu ke udara dan segera pergi masuk kembali keterowongan bawah tanah beserta yang lainnya.
Mami Morra dengan rasa cemas mencoba menangkap kotak musik itu agar tak jatuh ke lantai.
"Syukurlah..!!", seru mami Morra setelah berhasil menangkap kotak musik itu dengan selamat.
Ia pun meletakkan kembali kotak musik kesayangannya itu di tempatnya semula.
Lalu ia menatap tajam ke arah pintu terowongan bawah tanahnya.
"Tunggu pembalasannku Nur..!!, bukan kamu saja sekarang incaranku, melainkan semua yang ada di sekitarmu..!!", seru mami Morra dengan muka yang merah padam.