Nur

Nur
Kembalikan keceriaan putri kecilku...



Tok tok....


"Sayang, boleh bunda masuk...?", seru Zivana sembari mengetuk pintu kamar Sanum.


Pagi itu, Zivana telah selesai memasak makanan kesukaan Sanum, dengan senyuman yang terukir di bibir nya ia mencoba mengantarkan sarapan itu ke kamar sang anak.


"Masuk bunda..!!", seru Sanum dari dalam kamar.


Zivana segera masuk ke dalam dan mendapati Sanum sedang bermain dengan Nur.


"Nur...!!, kamu di sini..??, pantesan bunda cariin dari tadi gak ada", seru Zivana sembari meletakkan nampan makanannya dan duduk di lantai bersama kedua anak nya yang sedang asyik bermain.


"Iya bunda, kalau aku di samping bunda yang lagi sibuk memasak aroma nya buat aku ngiler, nah aku nya gak bisa makan makanan manusia", ketus Nur melirik makanan yang tampak enak itu.


"Maaf ya sayang, bunda gak bisa buatin apa apa buat kamu, meskipun bunda mau", ucap Zivana mengelus kepala Nur.


"Suapin dong bunda...!!", seru Sanum terus menciumi aroma olahan ayam favorit nya itu.


"Akk", ucap Zivana menyodorkan sesuap nasi ke arah Sanum.


Dengan sigap, Sanum memakan masakan buatan sang bunda.


Sudah lama ia tak makan masakan sang bunda.


Dan baru malam ini juga ia bisa menikmati tidur nyenyak di kamar nya sendiri.


Sejak ia pingsan saat menolong sang kakek, ia segera di larikan ke rumah sakit karna tak kunjung sadar.


Hampir berminggu minggu ia dirawat di rumah sakit, hingga akhirnya dokter memperbolehkannya pulang.


Tiba tiba raut wajah Sanum berubah.


Ia merasa tak suka dengan masakan yang ia rindukan itu.


"Bunda gak salah bumbu kan...??", tanya Sanum terus mengunyah makanan di mulutnya dengan ekspresi aneh.


"Bener kok sayang..", seru Zivana.


"Bunda gak lupa garam ..??", tanya Sanum lagi.


"Udah kok", ucap Zivana.


"Gula...??, kaldu jamur...??, kecap...??", tanya Sanum masih belum lega.


"Udah semua sayang...", seru Zivana meyakinkan.


"Ya, memang bumbu nya lengkap sih, tapi porsi nya dikit, trus ada campuran obat dari dokter, tapi dikit kok sayang", ucap Zivana mulai berkata jujur.


"Gak enak bunda..!!", ketus Sanum cemberut.


"Enak kok, nih bunda coba..!!", seru Zivana mencoba sesuap masakan nya.


Seketika ekspresi nya berubah aneh.


"Enak bunda...??", tanya Nur fokus memperhatikan raut wajah bunda nya.


"Tuh kan gak enak..!!", seru Sanum ngambek.


"Makan dikit aja ya sayang, biar kamu gak sakit lagi, lalu minum obat, oke..!!", seru Zivana mencoba menyuapi Sanum lagi.


Dengan segera, Sanum menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.


Zivana menghela nafas panjang.


"Dikit aja Sayang, kamu gak kasihan sama ayah sama bunda, kami khawatir sama kondisi kamu, kami ingin putri kecil kami sehat lagi, cuma ini yang bisa bunda dan ayah lakukan buat kamu Sayang, makan ya..??", Seru Zivana membujuk Sanum.


Tapi Sanum tetap menutup mulut nya dengan rapat.


"Kak, dikit aja..!!, bunda udah buatin susah buat kak Sanum, kasihan bunda", ucap Nur membuat Sanum mulai luluh dan perlahan membuka mulutnya.


Zivana dengan segera menyodorkan sesuap nasi pada Sanum sembari meneteskan air mata.


"Akk sayang...!!", ucap Zivana sesenggukan.


Maafin bunda sayang, bunda juga gak tega lihat kamu begini, gumam Zivana dalam hati.


Sejak garis kekebalan Sanum hilang seluruh nya, kondisi Sanum mulai drop dan kembali seperti saat ia masih bayi.


Penyakit yang sudah lama sembuh di dalam tubuhnya kini kembali kambuh.


Seakan imun nya kembali labil setelah kejadian itu.


Membuat aktivitas dan keseharian Sanum terganggu.


Bahkan sekolah nya juga harus di berhentikan sementara sampai Sanum benar benar pulih untuk berada di lingkungan luar rumah.


Setiap hari ia harus minum obat yang cukup banyak untuk membuat kondisi nya tetap stabil.